Momen Paling Berkesan, Kue Ulang Tahun Seharga 60 Ribu

Kamis, Oktober 13, 2016

Tidak terasa hari minggu besok genap satu bulan usia pernikahan saya dan suami, rasanya bahagia dan bersyukur kepada Allah tiada henti. Satu bulan usia pernikahan kami itu berarti sudah satu bulan yang lalu saya pergi meninggalkan rumah dan kedua orang tua. Sampai detik ini saya masih terasa berat ketika sadar kalau sekarang sudah tidak serumah lagi dengan mereka.

Bagi saya yang merupakan anak semata wayang sungguh bukan hal yang mudah bisa berpisah lama dengan orang tua. Tapi mau bagaimana lagi, saya tidak punya pilihan lain selain ikut suami tinggal berdua di rumah yang sudah dia sediakan untuk kami dan anak-anak kelak. Tanpa bermaksud untuk berlebihan tapi rasanya hati saya masih tertinggal di rumah yang menyimpan banyak kenangan dan momen-momen bahagia bersama orang tua selama ini.

Bukan maksud saya untuk tidak mensyukuri nikmat Allah dengan terus-terusan bersedih karena harus berpisah dengan orang tua, tapi hal ini adalah satu tantangan terberat yang harus bisa saya kalahkan. Sebenarnya jarak rumah saya dengan ruma orang tua tidak terlalu jauh, masih dalam satu kota namun rasanya tetap saja sedih sekali.

Setiap hari saya harus bisa mengalahkan rasa rindu di dalam hati untuk bisa menampakkan wajah bahagia di hadapan suami. Walaupun begitu suami mungkin sudah tahu kalau saya masih berat tinggal jauh dari ibu bapak, untungnya suami bisa mengerti semua kondisi saya. Nah, berbicara tentang momen yang paling berkesan sebenarnya setiap momen hampir semua memiliki kesan sediri bagi diri saya.

Momen Paling Berkesan Dalam Hidup Adalah Bersama Kedua Orang Tua


Namun, momen yang paling berkesan adalah semua momen saat bisa berkumpul dengan orang tua waktu di rumah dulu. Sejak saya lahir dan sebesar sekarang kami hidup bertiga di sebuah rumah yang tidak terlalu besar yang terletak pinggiran Kota Bangkalan. Sejak resmi menikah dan ikut pindah ke rumah suami saya merindukan beberapa momen bersama ibu bapak yang selalu berhasil membuat air mata saya jatuh menetes atau tertawa geli sendiri.

Saya masih ingat waktu itu hari ulang tahun saya yang ke 20 tahun , seperti pada hari ulang tahun sebelumnya saya terbiasa tanpa adanya perayaan besar biasanya Cuma ucapan selamat dari ibu bapak. Namun, momen ulang tahun saya yang ke 20 berhasil meluluh lantakkan perasaan saya. Cerintanya pagi hari sebelum berangkat bekerja, seperti biasanya saya berpamitan kepada ibu bapak.

Saat mencium punggung tangan ibu, beliau sambil memeluk dan mencium kening saya sambil mengucapkan selamat ulang tahun. “Selamat ulang tahun ya, jangan lupa sholat dan dekat terus sama Allah..” kira-kira seperti itu yang diucapkan oleh mama saat itu. Setelah berpamitan kepada ibu tidak lupa saya berpamitan dengan bapak, setelah mencium tangan bapak kemudian bapak mengucapkan selamat ulang tahun juga kepada saya.

Meskipun hanya berupa ucapan selamat ulang tahun, tapi sudah membuat hati saya tenang dan bahagia sekali. Doa orang tua itu selalu diijabah oleh Allah, jadi saya senang sekali kalau didoakan oleh mereka berdua. Namun, tiba-tiba saat melihat kedua raut wajah mereka hati saya seperti berbisik sesuatu yang tidak enak, semacam prasangka dan kekhawatiran.

Kemudian saya sempatkan bertanya kepada ibu, “Ada apa, Ma? Kok wajahnya sedih gitu?..” sambil berusaha menyembuyikan perasaan susah dan sedihnya ibu saya lalu menjawab, “Emang ada apa? Nggak ada apa-apa kok! Sudah sana berangkat nanti kesiangan..”. 20 tahun bersama mereka saya tahu persis semua kebiasaan dan perubahan suasana hati kedua orang tua saya.

Cuma waktu itu jam tangan saya sudah menunjuk pada angka 7 dan saya tidak boleh mengulur waktu lebih lama lagi untuk berangkat bekerja. “Ya sudah, Ma Pak hati-hati di rumah ya, aku berangkat kerja dulu..” lalu saya pun berangkat menggunakan sepeda motor. Dalam perjalanan menuju tempat kerja hati dan pikiran saya tiada henti-hentinya memikirkan alasan dibalik raut wajah sedih ibu bapak saat di rumah tadi.

Kue Ulang Tahun Seharga 60 Ribu


Pelan-pelan saya coba mengingat kembali kira-kira apa yang membuat mereka seperti itu. Akhirnya saya mulai ingat, saat di kamar mandi saya melihat tidak ada baju kotor bapak yang tergantung seperti biasanya. Memang beberapa hari terakhir bengkel di rumah sepi tidak ada orang yang mau memperbaiki mobil otomatis tidak ada baju kerja bapak yang biasa digantung di dekat kamar mandi.

Saya pun mulai mengerti kalau bengkel bapak sepi sudah cukup lama dan itu yang membuat raut wajah mereka lesu. Tapi anehnya kok tidak seperti biasanya, ibu saya bukan tipe wanita yang mudah putus asa dan mudah bersedih mau sesulit apapun keadaannya beliau pasti berusaha mencari jalan keluar. Rasanya tidak mungkin kalau mereka berdua bersedih karena bengkel kami yang sepi, terlebih lagi sejak bekerja saya menjadi tulang punggung keluarga.

Walaupun gaji saya tidak banyak tapi hidup kami berkecukupan, kalau soal makan setiap harinya bukan menjadi persoalan, lalu karena apa ya?. Seharian itu saya tidak bisa fokus saat bekerja, rasanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan menghibur mereka. Singkat cerita, sesampainya di rumah dan menaruh sepeda motor di gudang saya langsung masuk ke rumah mencari mereka berdua.

Saya memanggil-manggil mereka namun tidak ada jawaban, semua kamar tidur, kamar mandi, ruang makan dan ruang tamu saya perikasa satu persatu namun ibu bapak tidak ada. Karena sedikit lelah selesai bekerja saya duduk di kursi meja makan sambil minum segelas air putih. Tidak sengaja saya melirik ada sesuatu di dalam tudung saji makanan, karena penasaran saya coba buka.

www.pexels.com

Super kaget dan haru ternyata dibalik tudung saji sudah ada kue ulang tahun berukuran 15 cm, cukup kecil dengan lilin angka 20 diatasnya. Kemudian saya berlari mencari ibu bapak dan mereka ternyata ada di rumah tante disebelah rumah kami. “Lho, itu diatas meja kue buat aku ya? Uangnya darimana kok bisa beli?..” tanya saya seketika itu.

“Iya, tadi ada yang perbaiki sepeda motor kemudian bapak dikasih ongkos 50 ribu..” jawab bapak. “Emang harga kuenya berapa?..” tanya saya kembali dengan nada penasaran. “Harga kuenya 60 ribu tadi mama ketemu uang 10 ribu terus bapak mama coba pergi ke toko kue dan ternyata ada kue ulang tahun seharga 60 ribu., suka nggak?..” jelas ibu saya.

Seketika itu air mata saya menetes deras dan ingin berteriak rasanya sambil memeluk mereka berdua. “Kenapa dibelikan kue ? kenapa nggak dipakai mama sama bapak aja?..” jawab saya sambil sesegukan menangis. “Nggak apa-apa, kapan lagi bisa beli kue buat ulang tahunmu? Maaf ya kuenya kecil banget..” jawab mama sambil tertawa kecil.

Tanpa bisa berkata apa-apa lagi saya terus saja memeluk mereka berdua, sejak itu saya tahu betul betapa besar rasa sayang mereka untuk saya anak semata wayang mereka. Sebenarnya kejadian kue ulang tahun seharga 60 ribu hanya salah satu dari sekian banyak momen paling berkesan dalam hidup saya. Namun sampai kapanpun saya akan selalu mengingat dan menyimpannya baik-baik dalam pikiran saya.

Ah, menulis ini membuat pipi saya basah dan suami berhasil meledek, hahaha. Saya bersyukur sekali Allah memberikan kita ingatan untuk bisa menyimpan semua kenangan dan momen-momen dalam hidup yang penuh kesan. Sayang sekali foto kue ulang tahun seharga 60 ribu terhapus dari memori handphone lama saya.

Semoga cerita pengalaman saya ini bisa memberikan manfaat dan pelajaran bagi teman-teman yang menyempatkan waktu membacanya. Teman-teman pasti punya momen berkesan dalam hidup yang mustahil untuk dilupakan. Kalau begitu, yuk ikutan giveaway mbak Irawati Hamid.

Selamat Ulang Tahun Mbak Irawati Hamid


16 Oktober nanti merupakan hari ulang tahun mbak Ira, saya ucapkan selamat ulang tahun. Semoga panjang umur, sehat selalu dan bahagia dunia akhirat ya, mbak. Terima kasih sudah mengadakan giveaway ini, saya jadi punya kesempatan untuk kembali mengingat setiap detail momen kue ulang tahun seharga 60 ribu itu.

Tidak lupa juga saya mau mengucapkan salam kenal dan salam silaturahmi dari Madura. Semoga pertemanan kita bisa membawa manfaat dan kebaikan untuk bersama. Ngomong-ngomong saya mau juga sekalian kasih saran, ada dua saran tentang tampilan blog mbak Irawati.

1. Navbar yang ada di paling atas sebaiknya tidak perlu dipasang. Blog mbak Ira ini kan sudah menggunakan TLD jadi tidak perlu pasang Navbar lagi mungkin ya. 

2. Live Traffic Feed sebaiknya juga tidak perlu dipasang karena menurut saya kurang ada manfaatnya. Selain itu mbak sudah pasang widget Alexa Rank, terlebih lagi supaya waktu ada pengunjung blog yang mau main-main di blog mbak loadingnya bisa lebih cepat lagi. Duh maaf yan mbak kalau sarannya kurang berkenan.

Baikah mbak, saya rasa cukup itu saja cuap-cuap dari saya. Sekali lagi selamat ulang tahun ya, mbak.


"Tulisan ini diikutkan dalam Irawati Hamid First Giveaway “Momen yang Paling Berkesan & Tak Terlupakan"



Komentar Facebook

Tulisan lainnya

16 komentar

  1. Aiih..aku jadi terharuuu. Aku malah belum pernah dibeliin kue ultah...haha, menyadihkan ya, tapi aku nggak pa2 sih, karena memang orangtuaku nggak mampu beli :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, kok jadi terharu gitu mbak. Nggak apa-apa nggak pernah daat ucapan yang penting doanya ya. :D

      Hapus
  2. Hiks, jadi terharu aku, Mbak.
    Btw, dulu pas pertama kali anakku ulang tahun, kuenya juga mungil banget. Cuma cukup kami makan berempat bareng anak dan istri. Mbak mau tahu harganya? Cukup Rp25.000 saja, yang pastinya ukurannya jauh lebih kecil dari kue ulang tahun Mbak Riska yang seharga Rp60.000 itu. Oya, kue Rp25.000 itu dibeli tahun 2011. Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ampun Mas Eko, gantian saya yang jadi terharu mendengarnya. :D

      Hapus
  3. Duhhhh baper habis deh baca tulisannya, pas melihat detik2 memeluk ibunya huhuhuhuhu, jadi ingat Ibu saya di Malang (semoga orangtua kita sehat selalu ya mbak )

    BalasHapus
  4. Adeeek, aku terharu :').
    Aku seumur2 belum pernah diucapin selamat ulang tahun sama Bapak Ibu.
    Tapi itu sama sekali bukan alasan untuk meragukan kasih sayang mereka buatku.
    Mereka hanya kikuk dan nggak terbiasa aja sih mengungkapkan cinta secara verbal :D.

    Btw sekarang udah pisah rumah ya. Masya Allah, semoga bahagia dan senantiasa berkah rumah tanggamu :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, sudah bikin mbak merasa terharu gini. Aamiinn, makasi ya mbak Rotun sayang :)

      Hapus
  5. Baca ini sukses bikin saya mewek...

    BalasHapus
  6. Terharu :")) salamin ya buat mama dan bapak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, maaf sudah bikin terharu. Iya, Insya Allah aku nanti sampaikan ke bapak mama ya. :)

      Hapus
  7. Subhanallahh banget yah mbak punya kedua orangtua yang demikian, jadi terharu bacanyahh. Semoga bapak sama ibuknya mbak Riska sehat selalu, amin...

    BalasHapus
  8. So sweet yaa mama dan bapak nya :) sehat selalu utk keluarga ya mba...
    Dan bisa kasih kejutan lagi buat mba ^^ amin

    BalasHapus
  9. Sedihnya saya jadi inget almh. Mamah yang kasi kejutan dengan adain pengajian dirumah lalu blio bagi2 nasi+ayam buat anak2 yatim padahal sayanya di Bandung. Katanya biar kuliah saya berkah dan cepat wisuda jadi anak yang berguna :(
    kasih sayang ortu pasti gtu y mba merelakan yg dy punya meski mereka susah :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ampun mbak, sedih banget bacanya. Semoga Allah memberikan tempat yang indah buat mama mbak ya. :(

      Hapus

Jangan lupa berkomentar ya, tinggalkan alamat blognya biar bisa balik berkunjung.

Terima Kasih.

Fanpage

Member of

Emak Emak Blogger
Blogger Perempuan
Komunitas Blogger Madura

Instagram