Kegiatan Pelatihan Desa Wisata Bersama BPWS dan DISPORABUDPAR Bangkalan

Selasa, Juli 26, 2016

Sejak resmi menghubungkan dua kepulauan di Indonesia, Jembatan Suramadu banyak menyumbang dampak positif dalam hal perekonomian dan infrastruktur terutama yang ada di Pulau Madura. Hal tersebut bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat yang ada di Madura khususnya Kabupaten Bangkalan yang menjadi salah satu pijakan kaki jembatan terpanjang di Indonesia ini. Jembatan Suramadu merupakan akses penunjang dari industrialisasi Madura yang diharapkan sebagai penyangga kota inti yaitu Surabaya.

Bukan hanya membawa dampak positif untuk perekonomian dan infrastruktur namun juga pada pariwisata yang ada di Madura terutama Kabupaten Bangkalan sendiri. Dengan dibangunnya Jembatan Suramadu memudahkan akses jalan para wisatawan yang ingin datang menikmati objek wisata yang ada di Pulau Garam ini.

Sejak aktif menjadi anggota Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM) secara otomatis saya aktif dalam memberikan perhatian dan ide-ide baru untuk wisata yang ada disini. Tepatnya hari Kamis tanggal 20 Juli 2016 kemarin, saya dan empat teman perwakilan dari ASPRIM diundang langsung untuk menghadiri kegiatan pelatihan pariwisata.


Bersama BPWS & DISPORABUDPAR Bangkalan Mengembangkan Pariwisata Bangkalan


Kegiatan pelatihan ini diadakan oleh Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DISPORABUDPAR) Bangkalan bekerjasama dengan Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS). Kegiatan pelatihan diadakan di salah satu hotel yang ada di kota Bangkalan yakni Hotel Ningrat. Kegiatan serupa pernah diadakan pertama kalinya di Hotel Camplong Sampang pada tahun 2013 lalu.

Baca Juga : Hotel Ningrat Bangkalan | Arsitektur Etnis Khas Kraton Madura

Semua pelaku pariwisata, pengelola wisata, teman-teman media, perwakilan dari ASPRIM, perwakilan Kacong Jebbing Bangkalan dan beberapa masyarakat berkumpul menjadi satu mengikuti kegiatan pelatihan ini selama dua hari. Pemerintah Kabupaten Bangkalan serius untuk mengembangkan semua potensi objek wisata yang ada di Bangkalan.

Pembangunan desa wisata menjadi tema kegiatan pelatihan kali ini, melihat perkembangan desa wisata yang ada di daerah-daerah lainnya. Dengan adanya desa wisata sudah berhasil mendatangkan banyak wisatawan ke daerah mereka masing-masing. Sedangkan di Kabupaten Bangkalan sendiri ada beberapa desa yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi desa yang serupa.


Apa Itu Desa Wisata? dan Sejarah Singkat Kabupaten Bangkalan


Berbicara tentang desa wisata pasti teman-teman bingung apa itu desa wisata? Seperti apa desa wisata tersebut?. Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku, Wikipedia.

Kabupaten Bangkalan merupakan salah satu dari empat kabupaten yang ada di Pulau Madura yang telah lama dikenal dalam dunia pariwisata. Bangkalan berasal dari kata Bangka dan La’an yang berarti kemenangan dan memiliki areal wilayah seuas 1.267,75 Km persegi dengan jumlah penduduk sebanyak 890.830 jiwa (tahun 2014) dan tersebar di 18 Kecamatan juga 281 Kelurahan.

Letak Bangkalan yang amat strategis menjadikan Kabupaten ini berfungsi sebagai “Point Of Distribution” bagi penyebaran kunjungan wisatawan yang melakukan perjalanan wisata ke Pulau Madura. Kabupaten Bangkalan juga merupakan salah satu wilayah yang terkait dengan rencana pemerintah untuk mengembangkan industrialisasi dalam kawasan Gerbang Kertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya dan Lamongan).

Kegiatan pelatihan ini resmi dibuka dengan diawali pelantunan lagu Indonesia Raya secara serempak, laporan ketua pelaksana dan sambutan dari Bupati Bangkalan juga Kepala BPWS. Pada sesi pertama pelatihan adalah materi pengenalan sumber daya pariwisata di Kabupaten Bangkalan yang dibawakan oleh Drs. R. Amina rachmawati selaku Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Bangkalan.

Dalam penjelasannya Ibu Amina mengenalkan tiga objek wisata utama yang ada di Kabupaten Bangkalan yang berpotensi untuk lebih dikembangkan lagi. Tiga objek wisata utama tersebut adalah dua wisata religius yakni Pesarean Syaichona Moch. Kholil dan Pesarean Aer Mata. Sedangkan dari wisata alamnya sendiri diwakili oleh Bukit Geger.

Selama waktu 60 menit ke 40 peserta pelatihan begitu antusias mendengarkan penjelasan dari Ibu Amina.

1. Pesarean Syaichona Moch. Kholil

Pesarean syaichona Moch Kholil ini merupakan salah satu objek wisata minat khusus atau wisata religi. Letaknya berada di desa Martajasah Kecamatan Bangkalan. Pesarean ini sangat terkena di kalangan peziarah karena merupakan makam agung ulama yang tersohor di belahan nusantara. KH. Moch Kholil dikenal sebagai Maha Guru dari para kiai besar di seluruh pelosok nusantara dan sekaligus sebagai Waliullah yang mempunyai karomah. Jadi tidak heran kalau pesarean Syaichona Moch. Kholil ini selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dan para wisatawan lainnya.

2. Pesarean Aer Mata

Objek wisata religi yang kedua ini dipilih para wisatawan sebagai tempat kedua yang biasa dikunjungi seteah Pesarean Syaichona Moch. Kholil. Pesarean Aer Mata merupakan tempat makam para Raja dan Ratu penguasa Bangkalan pada kala itu. Letaknya berada di desa Buduran Kecamatan Arosbaya atau sekitar 10 Km dari Kota Bangkalan.

3. Wana Wisata Bukit Geger

Objek wisata alam Bukit Geger ini terletak sekitar 30 Km dari pusat kota Bangkalan yang menawarkan panorama alam yang begitu indah. Secara fisik potensi wana wisata ini amat prospektif untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Selain itu Bukit Geger memiliki situs keramat dan peninggalan purbakala.

Peran DISPORABUDPAR Jawa Timur Dalam Pengembangan Desa Wisata


Pada sesi materi yang kedua adalah peran DISPOBUDPAR Jawa Timur dalam pengembangan desa wisata di Jawa Timur. Materi ini disampaikan oleh Bapak Drs. Handoyo, MPd selaku kepala bidang Pengembangan Produk Pariwisata di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Beliau menyampaikan tentang konsep desa wisata yakni konsep pariwisata berbasis masyarakat, memposisikan masyarakat sebagai sumber daya tarik wisata dan pelaku penyedia jasa pariwisata. Sehingga sangat dibutuhkan ketrampilan masyarakat dalam pemberian informasi teknis serta etika dalam pelayanan kepada wisatawan.


Hal tersebut sekaligus menjadi alasan utama pengadaan kegiatan pelatihan pariwisata ini. Ke 40 peserta pelatihan diberikan materi dan pelatihan khusus untuk bisa mempromosikan semua objek wisata yang ada di Kabupaten Bangkalan secara baik dan benar kepada para wisatawan. Sekaligus mempersiapkan SDM masyarakat guna mengembangkan desa wisata.

Seperti yang diketahui selama ini bahwa sebagian besar masyarakat yang ada di Madura masih beum menerima keberadaan objek wisata yang ada di daerah mereka. Masyarakat berpikir bahwa dengan adanya pariwisata yang masuk akan memberikan dampak buruk pada adat istiadat, tradisi dan pergaulan pemuda mereka. Inilah yang menjadi salah sau kendala besar untuk mengembangkan potensi wisata yang ada di Madura khususnya di Kabupaten Bangkalan.

Strategi Pembentukan dan Pengelolaan Desa Wisata


Dalam sesi materi ketiga ini bapak Andi Yuwono, S,sos, M,Si selaku ketua umum Asosiasi Desa wisata Indonesia atau ASIDEWI memberikan penjelasannya. Para peserta diberikan materi tentang strategi pembentukan dan pengelolaan desa wisata. Dalam sesi kali ini salah satu peserta pelatihan menyinggung tentang desa wisata yang ada di Tanjung Bumi yakni Kampung Batik yang kini tidak lagi seramai dulu.

Membentuk dan mengelola desa wisata membutuhkan strategi matang dan kemauan dari masyarakat desa serta dukungan pemerintah setempat. Bapak Andi memberikan contoh salah satu desa wisata yang sudah berkembang yakni Kampung Coklat yang ada di Kabupaten Blitar Jawa Timur. Menurut penjelasan beliau dalam setiap satu bulan pengelola Kampung Coklat berhasil mendapatkan omset ratusan juta.


Padahal sebenarnya di kampung tersebut hanya ada 30 pohon coklat yang dijadikan sebagai daya tarik wisatawan. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan coklat didatangkan dari seluruh petani coklat yang ada di pulau Jawa. Strategi yang digunakan yakni membuat promo secara gencar di semua media berita baik online maupun offline.

Darisana sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia masih sangat membutuhkan objek wisata. Dengan konsep yang cukup sederhana namun menggunakan strategi yang tidak sembarangan mampu menghasilkan desa wisata yang sangat menarik bagi wisatawan. Hari pertama kegiatan pelatihan pun berakhir dan dilanjut hari kedua.

Kunjungan Lapangan Daya Tarik Wisata di Kabupaten Bangkalan


Pada hari kedua semua peserta kegiatan pelatihan diajak pergi mengunjungi lapangan, Bukit Geger menjadi tujuan kunjungan lapangan kami waktu itu. Dengan menggunakan bus pariwisata yang sudah disediakan oleh panitia, kami berangkat setelah sarapan pagi sekitar pukul setengah sembilan. Dalam perjalanan menuju objek wisata, para peserta kembali diajak berbincang ringan oleh guide lokal tentang potensi wisata di Bangkalan.


Setelah sekitar satu setangah jam perjalanan akhirnya romobongan peserta tiba di di Bukit Geger. Benar saja kalau Bukit Geger menyimpan wisata alam dengan pemandangan panorama yang sangat indah. Bukit yang terletak di ketinggian 150 meter diatas permukaan laut ini dikelilingi hutan pohon Mahoni seluas 44 hektar.

Selain itu Bukit Geger ini biasa digunakan sebagia tempat perkemahan dan latihan panjat tebing. Untuk SDM masyarakat disekitarnya juag cukup baik terbukti dengan ramahnya mereka menyambut rombongan peserta kegiatan pelatihan waktu itu. Masyarakat sekitar sudah tidak heran lagi ketika melihat wisatawan yang datang, justru mereka menyambut dan melayani dengan baik. Puas mengelilingi bukit kemudian waktunya peserta untuk kembali ke hotel dan bersiap menerima materi keempat.


Penataan Homestay Desa Wisata


Dalam sesi materi keempat ini dibawakan oleh Bapak Bagus Moh. Ilham, ST. Para peserta pelatihan diberi pembelajaran tentang penataan homestay desa wisata. Seperti yang kita ketahui bahwa keberadaan homestay di desa wisata sangatlah penting. Semakin lama wisatawan tinggal di sebuah objek wisata itu menandakan objek wisata tersebut sangat menarik.

Untuk membuat nyaman wisatawan yang datang disedikan tempat penginapan seperti homestay ini. Dalam sesi kali ini Bapak Bagus secara detail menjelaskan apa itu homestay? Bagaiman cara mengelola dan merawat homestay yang baik?. Selain itu para peserta juga diberi pelajaran tentang memasang sprei secara cepat dan rapi. Sesi ini cukup berhasil menarik perhatian peserta yang mulai kelelahan sehabis pulas dari kunjungan lapangan.


Bapak bagus ini pemilik salah satu tempat kursus atau lembaga pembinaan perhotelan yang ada di Bangkalan. Beliau membawa salah satu muridnya untuk mempresentasikan langsung cara memasang sprei yang biasa dilakukan oleh pramuniaga hotel-hotel berbintang. Bagaimana cara membuat kamar tidur senyaman mungkin untuk ditempati oleh wisatawan yang menginap di homestay nanti.

Strategi Promosi Desa Wisata Melalui Media Sosial


Founder komunitas blogger Plat-M, Nurwahyu Alamsyah, S.Kom, M.IM, M.Kom didaulat menjadi pengisi materi terakhir dalam kegiatan pelatihan pariwisata ini. Berbicara tentang promosi desa wisata, media sosial menjadi pilihan yang tepat terutama di era digital seperti saat ini. Kebanyakan masyarakat Indonesia lebih aktif membaca berita dan mencari informasi mengenai sesuatu dari internet.

Selain itu masyarakat juga aktif di media sosial, dalam sesi terakhir ini Mas Wahyu memberikan pelatihan kecil cara membuat poster dan fanpage di Facebook dengan mudah. Peserta yang kebanyakan adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang tidak begitu aktif di media sosial, cukup antusias mengikuti pelatihan yang diberikan ini.


Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan setiap kelompok diberi pinjaman sebuah laptop untuk bisa langsung mempraktekkan secara langsung. Sekitar satu setangah jam pelatihan dari Mas Wahyu diberikan dan para peserta menjadi tahu tentang pentingnya promosi lewat media sosial dan cara membuat poster beserta fanpage.

Malam itu juga, kegiatan pelatihan pengelolaan desa wisata yang diselenggarakan oleh DISPORABUDPAR Bangkalan dan BPWS ditutup. Sebelum kegiatan ditutup, peserta diminta untuk memberikan presentasinya saat melakukan kunjungan lapangan ke Bukit Geger tadi pagi. Setiap kelompok diwakilkan oleh satu peserta yang maju kedepan untuk menjelaskan.


Dengan berakhirnya kegiatan pelatihan ini diharapkan adanya kerja nyata dari peserta demi berkembangnya objek wisata yang ada di Kabupaten Bangkalan. Karena pariwisata merupakan salah satu penyumbang perekonomian terbesar dan Kabupaten Bangkalan memiliki banyak objek wisata yang pantas untuk diperkenalkan kepada dunia luar. Sebagai masyarakat asli Madura kita harus bangga dengan semua potensi wisata yang ada di tanah nenek moyang kita ini.



Komentar Facebook

Tulisan lainnya

4 komentar

  1. Aku ngga bisa move on dari Bukit Geger'nya. Aduhhh itu bagus banget untuk foto - foto *eh hihihihihi

    BalasHapus
  2. Iya mbak, panorama alamnya memang super deh apalagi kalau mbak bisa langsung kesini :)

    BalasHapus
  3. Sukses untuk pariwisata Madura. Semoga menjadi salah satu tujuan wisata terdepan di Jawa Timur.

    BalasHapus

Jangan lupa berkomentar ya, tinggalkan alamat blognya biar bisa balik berkunjung.

Terima Kasih.

Fanpage

Member of

Emak Emak Blogger
Blogger Perempuan
Komunitas Blogger Madura

Instagram