Cerita Ramadhan | Lima Manfaat Menjalankan Bisnis Bersama Pasangan

Minggu, Juni 26, 2016

Saya selalu percaya kalau bulan puasa tiba itu bukan berarti kita jadi asyik bermalas-malasan sambil diam di rumah. Terutama bagi teman-teman yang sedang menganggur seperti saya ini, setelah dua bulan resmi resign dari kantor saya banting stir menjadi Freelance. Hal ini dipilih bukan tanpa alasan tapi sudah melewati banyak pertimbangan meskipun tidak sedikit yang kurang setuju dengan keputusan saya untuk resign dari kantor. Terlebih lagi selama 5 tahun bekerja di kantor saya sudah bisa membangun rumah dan mencicil beberapa perabotan rumah dengan uang sendiri.

Tanpa sedikit pun bermaksud untuk pamer, namun hasil yang saya dapatkan selama bekerja di kantor memang tidak bisa dianggap remeh. Sedikit cerita, saya bekerja di kantor sebagai seorang Visual Merchandiser yang mengemban tugas untuk mengecek barang dan tatanan barang di rak-rak minimarket dan swalayan besar.


Saat Mengambil Sebuah Keputusan Besar


Meskipun tercatat sebagai karyawan kantor tapi jam kerja saya banyak dihabiskan di luar kantor, bahkan saya pergi ke kantor hanya sebulan sekali untuk meeting. Sampai akhirnya pada tahun 2012 saya mengenal media menulis di blog. Awal menulis di blog hanya untuk mengisi waktu luang dan karena tidak sempat lagi menulis diary seperti kebiasaan yang sering saya lakukan dulunya.

Pada waktu itu tampilan blog saya masih alakadarnya, namun meskipun begitu saya cukup rajin menulis. Dalam satu hari saya bisa menghasilkan dua tulisan, biasanya saya menulis saat mengisi waktu luang dan jam istirahat atau sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota. Kebetulan setiap seminggu sekali saya diberi tugas untuk mengecek beberapa swalayan besar yang ada di luar kota.

Perjalanan yang cukup jauh dan waktu tempuh yang membosankan bisa menjadi singkat saat sedang asyik menulis lewat tablet milik saya waktu itu. Tulisannya tidak jauh-jauh dari curhat dan pengalaman sehari-hari, alhamdulillah meskipun menulis di blog yang biasa saja namun respon dari pembaca blog tidak jarang membuat saya senyum-senyum sendiri saat membacanya.

Sejak saat itu saya sadar bahwa menulis di blog bukan lagi terapi untuk diri sendiri, tapi dengan menulis pengalaman kita di blog bisa jadi sangat berguna untuk orang lain. Singkat cerita, saat itu saya mulai sibuk mengurus pekerjaan dan beberapa target penjualan hingga saya tidak lagi punya waktu mengurus apalagi menulis di blog.

Sampai sekitar setahun yang lalu saya kembali aktif menulis di dua blog sekaligus karena dukungan dari pasangan. Lagi-lagi saya kembali bersyukur ternyata dua blog yang kami berdua kelola dengan serius lumayan menghasilkan. Apalagi blog www.riskangilan.com ini profitnya cukup bagus meskipun bisa dikatakan blog baru, hehehe.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan kantor dan memilih untuk serius menekuni blog. Memang benar kata orang-orang kalau kita bekerja sesuai hobi maka akan sangat menyenangkan sekali. Saya pun bisa merasakan langsung walaupun tidak saya pungkiri pasti ada saja kendala yang harus dihadapi dan dilewati.

Namun saya berusaha untuk tetap sabar dan enjoy menjalaninya, ini pilihan saya jadi wajib bagi saya untuk bertanggung jawab sepenuhnya tanpa mengeluh. Jujur saja, saya terbiasa bekerja di bawah tekanan saat masih di kantor dulu. Jadi, saya pun tidak menganggap terlalu serius jika ada sesuatu yang tidak mengenakkan pada pekerjaan yang sekarang ini.

Berbisnis Bersama Pasangan Kenapa Tidak?


Sejak memutuskan untuk menjalani hubungan yang serius saya dan pasangan mulai berpikir jauh ke depan terutama soal masalah finansial kami berdua kelak. Pasangan saya yang juga berprofesi sebagai seorang Freelance membuat kami sama-sama berpikir kalau penghasilan dari blog dan adsense saja tidak cukup. Harus ada pekerjaan lain yang bisa menambah tabungan kami berdua, yang jelas apapun pekerjaannya kami berdua sepakat untuk tidak lagi bekerja pada orang lain.

Hingga akhirnya salah satu saudara pasangan saya menawarkan kerjasama kecil-kecilan yakni berjualan sprei. Nah, saudara ipar saya ini yang punya modal dan kami berdua bertugas untuk menjalankan barang-barang mereka. Kebetulan saya tinggal di sebuah kampung yang penduduknya suka sekali membeli barang dengan cara dicicil. Teman-teman tahu tidak, di kampung saya sampai ada cicilan barang seharga 2000 rupih per harinya lho.

Kemudian saya mencoba untuk menawarkan barang dagangan saudara ipar saya yakni segala macam sprei dan bed cover. Alhamdulillah, baru pertama mencoba menawarkan ke tetangga-tetangga rumah sudah banyak yang mengambil. Kalau tidak salah, waktu itu ada 14 sprei yang berhasil saya jual dengan cara dicicil. Mengenai keuntungan, saya pasti mengambil keuntungan yang lumayan, sampai akhirnya masalah pertama datang dalam bisnis kecil kami.

Saya dan pasangan juga mencoba peruntungan di bisnis lainnya, lewat website www.pulaumadura.com kami berjualan Kamus Bahasa Madura yang banyak dicari orang. Saya masih ingat, modal yang kami gunakan untuk membeli Kamus Bahasa Madura berasal dari pinjaman. Kemudian kami kelola dengan baik, kami menjual kamus tersebut melalui sistem online dan offline. Setiap ada email masuk dari salah satu ecommerce adalah pemberitahuan kalau ada yang memesan kamus. Kami selalu bahagia dan bersyukur, itu artinya akan ada satu kamus lagi yang sudah laku dan harus kami kirim melalui jasa pengiriman.


Masalah Dalam Bisnis Itu Wajar, Nikmati Saja


Orang bilang kalau di dunia ini menghadapi saudara ipar apalagi kakak ipar sama seperti menghadapi seorang monster yang buas, hahaha. Masalah itu datang ketika saya berhasil menghilangkan 3 buah ciput kerudung dagangan milik kakak ipar saya. Sebenarnya kalau dilihat siapa yang salah dan siapa yang benar kami berdua sama-sama salah.

Saya dan kakak ipar saya lupa menghitung banyak barang yang dibawa untuk ditawarkan, jadi tidak ada yang tahu betul berapa sebenarnya jumlah kerudung dan ciput yang saya bawa. Hubungan kami pun sempat sedikit renggang namun kami berdua mencoba untuk lebih dewasa lagi, tidak boleh melibatkan perasaan dan ego. Ini bukan lagi mengenai kerjasama bisnis tapi hubungan yang akan berakhir sebagai keluarga kelak.

Akhirnya perlahan demi perlahan kami mulai melupakan masalah yang pertama dan sekarang bentuk kerjasama kami menjadi lebih luas lagi. Bulan puasa ini bukan lagi sprei dan bed cover saja tapi gula pasir dan satu set perabot kamar tidur. Setiap hari saya dan pasangan harus mengambil gula pasir minimal 20 kg dengan sepeda motor kesayangan.

Panas, haus dan lelah sudah menjadi teman bagi saya dan pasangan selama bulan puasa ini. Setelah mengambil gula pasir di rumah kakak ipar kemudian kami mengantar pesanan gula ke rumah-rumah pelanggan. Untuk satu kg gula pasir saya mengambil keuntungan sebesar 1000 rupiah, puji Tuhan hasil keuntungan berjualan gula pasir, sprei, bed cover dan satu set perabot kamar tidur cukup untuk menutupi kebutuhan kami sehari-hari

Untuk membeli bensin, membeli pulsa, uang bulutangkis pasangan, membeli kebutuhan bulanan dan membantu orang tua kami masing-masing. Berkah ramadhan memang sering tidak bisa diduga, selama kita berusaha keras dan berdoa kemudian memasrahkan semua pada Yang Maha Kuasa maka nikmat dari-Nya akan kita terima.

Menjalankan Bisnis Dengan Pasangan Itu Menyenangkan


Saat kami berdua memutuskan untuk mulai menjalankan bisnis bersama, itu menandakan kami berdua mempunyai sebuah tujuan, seperti halnya tujuan saat sudah berumah tangga nanti. Namun bisnis bersama pasangan juga tidak bisa dikatakan mudah lho, umumnya perbedaan pendapat antar pasangan juga sering kami rasakan berdua. Salah satu masalah yang sering muncul dalam perbedaan tersebut adalah tentang uang, kami pernah bertengkar hanya karena selisih uang dalam penjualan. :D

Namun, saat kami sedang bertengkar kami kembali ingat tujuan awal memulai bisnis ini bukan untuk bertengkar dan adu ego, melainkan untuk masa depan berdua dan anak-anak nantinya. Saya dan pasangan memang bukanlah pasangan yang sudah lama menjalin hubungan selain itu bisnis yang kami jalani pun masih terhitung ecek-ecek.


Berbicara pengalaman tentang bisnis pun masih tidak seberapa bila dibandingkan dengan pasangan lainnya. Tapi ada beberapa manfaat yang sudah saya dan pasangan rasakan langsung saat menjalani bisnis bersama. Kami tidak menyangka sebelumnya kalau manfaat ini juga berimbas baik dan sangat baik bagi hubungan kami berdua.

1. Saling menghargai satu sama lain

Sebagai pasangan muda wajar bila emosi dan ego kami masih tinggi, tidak jarang juga kami bertengkar hanya karena dua hal tersebut. Tapi sejak menjalani bisnis bersama saya dan pasangan belajar untuk saling menghargai. Misal saja, saat dia sedang tidur padahal dia janji untuk menjemput saya mengambil gula pasir.

Rasanya ingin sekali marah dan kesal, tapi saya berpikir lagi untuk apa marah? Saya harus bisa membedakan urusan bisnis dengan urusan pribadi. Jangan mentang-mentang sedang menjalani sebuah hubungan kemudian saya berhak memperlakukan dia seenaknya saja begitupula sebaliknya. Akhirnya dia menyadari kesalahannya dan kembali bekerja lebih profesional lagi.

2. Belajar berkomitmen dengan baik

Sama halnya saat kita menjalani hubungan dalam hal bisnis pun kami berdua harus belajar menghargai komitmen yang telah dibuat berdua. Saya dan pasangan sadar akan hak juga kewajiban kami masing-masing. Dia yang bertugas untuk mengantar jemput dan membawa gula pasir dan sprei, sedangkan saya bertugas untuk mencatat pemasukan juga pengeluaran. Hal ini membuat kami merasa “sama” dan tidak ada yang merasa lebih berhak maupun lebih berkuasa.

3. Lebih banyak menghabiskan waktu berdua

Point ini yang paling menyenangkan, jika pasangan lain terbatas untuk bisa menghabiskan waktu berdua, kami tidak. Setiap detik kebersamaan selalu kami nikmati berdua bahkan saat sedang berselisih paham sekalipun. Mulai dari mengambil barang dagangan, menghitung keuntungan, mengantar pesanan ke pelanggan sampai membeli kebutuhan.

4. Belajar bersikap terbuka

Sebuah hubungan akan menjadi sia-sia jika tidak ada rasa keterbukaan antara pelakunya satu sama lain. Sejak mulai berbisnis bersama kami pun lebih terbuka satu sama lain terutama saya. Setiap persoalan atau sesuatu yang menjadi ganjalan dalam pikiran selalu saya utarakan dihadapan dia. Entah itu masalah ataupun kendala bisnis sampai kebiasaan buruk kami masing-masing.

Selain rasa cinta dan rasa percaya yang membuat kami nyaman untuk menjalani hubungan ini adalah komunikasi yang baik. Kami berprinsip bahwa semua masalah sekecil apapun tidak boleh ada yang ditutupi, cari jalan keluar dengan komunikasi bersama dan tidak boleh bersikap egois.

5. Saling menghargai dan berbagi peran yang tepat

Bisnis tidak akan bisa berjalan tanpa ada peran orang lain yang membantu, saya dan pasangan memiliki peranan masing-masing dalam menjalankan bisnis. Kebetulan pasangan saya memiliki jaringan pertemanan yang luas jadi dia bertugas untuk membantu menawarkan barang dagangan ke teman-temannya (bagian promosi).

Soal keuangan usaha adalah bagian saya, jadi saya menghargai peran dia untuk menjalankan promosi dan dia menghargai tugas saya yang memegang keuangan. Hal ini sangat penting untuk kami kelak supaya bisa saling menghargai peranan dan tugas masing-masing saat mengurus rumah tangga. Jadi, tidak ada lagi istilah “Hanya istri yang banyak mengurus rumah”. Tapi soal rumah tetap saja saya memilih banyak ambil bagian, kasihan juga kalau kelak dia yang banyak mengurus, cukup bantu-bantu saja.

Dari lima manfaat yang saya ceritakan tadi semoga bisa bermanfaat untuk teman-teman yang berencana memulai bisnis dengan pasangan. Tidak lupa juga saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Abi dan Ibu Lela untuk sharing pengalaman tentang merintis bisnis bersama mulai dari nol sampai mereka bisa memiliki restoran bebek dimana-mana.

Berbisnis dengan pasangan itu menyenangkan, jangan ragu untuk memulai kebersamaan bersama yang baru dengan menjalankan bisnis. Doakan kami berdua juga ya semoga bisnis ini bisa membawa manfaat untuk banyak orang dan tentunya untuk kami berdua. Hidup tanpa memberi manfaat kepada orang lain rasanya kurang greget, hehehe. Terima Kasih :)



Komentar Facebook

Tulisan lainnya

14 komentar

  1. Wah mantap nih kalo sudah bangun bisnis bersama. Moga langgeng terus ya.

    BalasHapus
  2. Wah hebat ris, masi muda uda punya semangat bisnis yg tinggi
    Wah di tempatmu ada tah siatem nyicil 2000an itu dibayar per berapa hari?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada mbak, beneran ini masak bohong sih. hehehe

      Hapus
  3. Memang asik ya,bisa menjalani bisnis bersama pasangan. Hubungan jadi semakin intens karena ada bahan pembicaraan yang sama. Dan kemana-mana juga bisa sama-sama ya...so sweet, deh!

    BalasHapus
  4. pengen mbak, bisnis bareng suami
    selama ini masih jalan sendiri-sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga suatu saat bisa terwujud ya mbak. :)

      Hapus
  5. bisnis bersama pasangan bikin romantis dan berdua selalu hihi, saya juga kedepan mau begitu mba usaha sama suami berdua ^_^

    www.leeviahan.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, semoga bisa terlaksana ya mbak mimpi dengan suaminya. :)

      Hapus
  6. Di kampungku sini juga banyak yg nawarin beli barang dgn dicicil 5000/hari. Tapi kalau ditotal sih bedanya jauh dgn harga cash. Jadi kalau punya uang cash ya mending beli tunai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sistem kredit memang jauh lebih mahal daripada cash mbak :)

      Hapus
  7. "puji Tuhan hasil keuntungan berjualan gula pasir, sprei, bed cover dan satu set perabot kamar tidur cukup untuk menutupi kebutuhan kami sehari-hari" <-- Ini maksudnya cukup kali ya Dek? Kalau liat paragraf berikutnya :D

    Salut buat kalian berdua ya. Semoga usahanya berkah. Kamu keren Dek, belum nikah udah punya rumah plus perabotnya <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, aamiinn makasi ya mbak buat doanya :)

      Hapus

Jangan lupa berkomentar ya, tinggalkan alamat blognya biar bisa balik berkunjung.

Terima Kasih.

Fanpage

Member of

Emak Emak Blogger
Blogger Perempuan
Komunitas Blogger Madura

Instagram