Jaga Perasaan Orang Lain

Rabu, Januari 03, 2018

Sore itu bersama suami dan anak, saya berkunjung ke rumah salah satu kerabat suami yakni mbak dari bapak mertua. Kami memanggil beliau dengan sapaan ebuh Ti’, lagi-lagi ebuh adalah bahasa Madura yang berarti ibu tapi bahasa ini lebih halus bila dibandingkan dengan sebutan ebok. Sebenarnya sudah lama kami kepengen main untuk silaturahmi namun baru bisa main beberapa hari yang lalu.

Baca Juga : Kenapa Harus Ebok?

Nggak jauh berbeda dengan acara silaturahmi pada biasanya, kali ini kami silaturahmi untuk lebih mengenalkan Mirza dengan sesepuhnya. Safari keluarga, begitulah kami menyebut acara silaturahmi sore itu karena rencananya bukan hanya rumah ebuh Ti’ saja yang akan kami kunjungi tapi juga beberapa rumah keluarga terutama sesepuh.

Orang bilang kalau silaturahmi itu bisa memperpanjang umur, membuat tubuh menjadi lebih sehat dan bisa lapang rezekinya. Jadi, sangat baik kalau kita sering-sering bersilaturahmi, selain itu juga hubungan dengan orang yang kita kunjungi akan semakin erat. Nah, pada tulisan kali ini saya mau cerita kejadian yang cukup bikin saya bingung namun ternyata ilmu baru bagi saya.


Menjaga Perasaan Orang Itu Penting Lho!


Sekitar pukul 4 sore kami bertiga tiba di rumah ebuh, sambil mengetok pintu mas juga mengucapkan salam. Sepertinya ebuh sedang ada di dalam karena pintu rumah dalam keadaan terbuka. Oh iya, ebuh tinggal berdua bersama satu orang putranya namanya Mas Yono. Dengan kondisi beliau yang sudah sepuh dan kadang suka sakit-sakitan beliau masih sangat bersemangat dalam beribadah dan Alhamdulillah belum pikun.

Sebenarnya saya agak kurang PD yang mau main ke rumah ebuh, rasanya masih malu gitu. Bagi saya yang baru kenal beliau dalam 1,5 tahun terakhir ini, ebuh sosok orang tua yang baik, sabar, bijaksana, ceria dan masih terlihat cantik di usianya yang sudah lebih dari 70 tahun lho. Selain itu memang saya masih suka grogi kalau diajak main ke ruamh keluarga besar suami dari bapak mertua.

Takut nggak sopan, takut salah tingkah, takut salah berucap, dsbnya. Pada postingan sebelumnya saya pernah cerita bagaimana cara saya beradpatasi dengan keluarga suami yang masih keturunan ningrat. Bukan bermaksud sombong maupun jumawa tapi memang betul kalau main atau silaturahmi ke keluarga ningrat harus sangat tahu sopan santun dan bagi saya yang suka blak-blakan harus belajar lebih peka lagi pada sekitar.

Baca Juga : Cerita Pengalaman Beradaptasi Dengan Keluarga Ningrat

Singkat cerita saat kami sedang duduk di ruang tamu keluarga, ebuh menyuguhkan dua gelas minuman untuk kami berdua. Ternyata dua gelas kopi susu yang notabenenya saya nggak suka dengan kopi dan kebetulan memang nggak boleh minum kopi karena masih masa menyusui. Untungnya mas langsung tahu kalau saya nggak bisa meminumnya.

Saya pun bingung, mau diminum tapi nggak boleh kalau nggak diminum kerasa nggak sopan banget ya. Lalu tiba-tiba mas memandang ke arah wajah saya yang mungkin sudah terlihat kebingungan saat disuruh meminum kopi susu tersebut. Dengan sigap mas langsung bilang begini :

“Buh, gheduen aeng pote? (Bu, ada air putih?)..”.

“Oh, bedhe Yan. Dentek yeh (Oh, ada Yan. Sebentar ya) *sambil menyuruh Mas Yono mengambilkan air putih di belakang..”.

“Enggi nekah, icha lok bisa ngenom kopi kabheter se kinni’ pas lok bisa tedung malem pas kauleh se aronda pole, hahaha. (Iya ini, Icha nggak bisa minum kopi khawatir yang kecil nggak bisa tidur nanti pas saya yang ronda lagi, hahaha)..”.

“Hahaha, iyeh lakar nesser legghik se kinni’ ye. La Cha lok usah eyenom kopinnah. (Hahaha, iya memang kasihan yang kecil. Ya udah Cha nggak usah diminum kopinya)..”.

“Wes, jhek ngenom be’eh male engkok bein. Ebekkelen bhik engkok reh, hahaha. (udah, jangan minum kamu biar aku yang wakilin minumnya, hahaha)..”.

Saya hafal betul gaya mas saat mencoba mencairkan suasana dan nggak mau bikin hati orang lain terluka perasaannya. Mas selalu mengajarkan pada saya untuk pintar menjaga hati orang lain terutama hati kita sendiri (jangan mudah sakit hati katanya). Meskipun terdengar sepele tapi kejadian kemarin bagi saya sungguh merupakan ilmu baru bagaimana menjaga perasaan orang lain terutama orang tua yang sudah sepuh.

Apalagi jaman sekarang banyak anak muda yang sudah nggak tahu lagi cara bersikap di hadapan Mejhedi’ (sesepuh dalam bahasa Madura) bahkan mungkin saja orang tua sekarang nggak sempat mengajarkan tata krama pada anak-anaknya. *NgacaSendiri* Padahal pendidikan moral dan ahlak itu penting banget , bisa dimulai dari hal sepele kok.

Saya jadi membayangkan betapa kakunya saya yang dulu ini, kurang bergaul, kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan bahkan mungkin kurang respect. Tuh kan betul, kalau suami dikirim ke saya untuk memperbaiki diri saya, mengajarkan banyal hal terutama tentang hidup dan mengeluarkan semua hal terbaik dalam diri saya.

Betul ya, kalau versi terbaik dari seorang istri itu bisa keluar dari suami yang bijak. Ah, makasi banget ya Mas sudah super telaten mendidik istrimu ini. Nah, selain perlu belajar menjaga perasaan orang lain. Sebaliknya, kita pun penting untuk membentengi hati kita agar nggak mudah baperan. Jangan sampai cuma dengar perkataan selentingan saja langsung tersinggung, langsung mendoakan orang lain yang menyakiti hati kita agar masuk neraka, hahaha.

Ya udah, segini saja dulu tulisannya jangan lebih panjang lagi takut bosan yang baca ya, hahaha.

Salam Sayang,
Ebok dan Mirza.



Komentar Facebook

Tulisan lainnya

0 komentar

Jangan lupa berkomentar ya, tinggalkan alamat blognya biar bisa balik berkunjung.

Terima Kasih.

Fanpage

Member of

Emak Emak Blogger
Blogger Perempuan
Komunitas Blogger Madura

Instagram