10 Hal yang Dirasakan Pasca Menikah

Jumat, Oktober 07, 2016

Belum genap satu bulan usia pernikahan saya dan suami namun sudah ada banyak keadaan baru yang kami temui. Mulai dari hal-hal yang awalnya kami anggap remeh sampai hal besar yang membuat kami semakin banyak belajar. Betul kata banyak orang kalau menikah itu sebenarnya adalah proses hidup yang meminta kita untuk terus belajar, tidak bisa instan langsung cocok, nyaman dan awet. Tidak perlu jauh-jauh sih kadang saya suka memperhatikan bagaimana kedua orang tua saya terus belajar membangun sebuah pernikahan yang ideal.

Apalagi saya dan pasangan yang masih baru menikah, pasti perjalanannya masih panjang. Dulu sebelum menikah saya pikir menikah itu enak dan mudah tanpa ada drama. Malah saya sempat heran, Kenapa ya orangnya yang sudah berumah tangga itu mudah berselisih paham bahkan banyak yang sampai memutuskan untuk berpisah dan mengakhiri pernikahan mereka?.

Hahaha, ternyata memang betul ya kalau sesuatu itu tidak bisa hanya diimpikan begitu saja tapi kamu harus menjalaninya terlebih dahulu baru kamu bisa merasakannya langsung. Termasuk dengan yang namanya menikah, terutama untuk teman-teman yang belum menikah dan mendambakan pernikahan yang SAMAWA ( Sakinah Mawaddah Warahmah ) percayalah semua itu butuh usaha bersama dan doa.



Hal Ini yang Kami Rasakan Pasca Menikah


Kalau kembali ingat perjuangan yang dilakukan saat meyakinkan kedua keluarga besar kami supaya diizinkan menikah, rasanya saya suka tertawa geli. Maklum saja, dalam keluarga kami masing-masing izin menikah itu tidak bisa kami dapatkan begitu saja. Dulunya kami memaksa sekali agar segera bisa menikah tanpa harus berlama-lama pacaran lagi.

Kami merasa sudah cukup dewasa dan bisa bertanggung jawab bila kelak sudah menikah, tapi tetap saja keluarga kami meminta untuk pacaran dulu, hehehe. Sekarang saya baru tersadar kenapa keluarga kami tidak begitu saja memberikan izin untuk menikah. Ada banyak hal yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh kami berdua dan baru kami sadari saat awal-awal berumah tangga.

Tapi entah kenapa saya ingin menuliskan beberapa keadaan baru yang sungguh tidak kami pikirkan sebelumnya. Semua perasaan bercampur menjadi satu antara bingung, panik bahkan canggung lho.

1. Jangan Sering Membaca Buku Dongeng

Ini hal pertama yang saya sadari pasca menikah dengan suami, eh tapi apa hubungannya dengan membaca buku dongeng? Ada. Teman-teman pasti sering menonton atau mendengar cerita sepasang kekasih di negeri dongen yang berjuang untuk menikah. Nah, dari saking dramanya perjuangan mereka akhirnya pasangan itu menikah dan kita yang menonton ikut merasa bahagia lalu memimpikan hal tersebut terjadi dalam kehidupan kita.

Saya dulu juga begitu, kagum dengan kisah akhir perjalanan cinta sepasang tokoh di cerita dongeng. Tapi pernahkah saya memikirkan, bagaimana ya kehidupan pasangan itu setelah menikah? Apa-apa akan terus bahagia? Hehehe. Pernikahan itu tidak sesimple itu ya, ada banyak hal yang harus diperhatikan dan dipenuhi untuk itu butuh proses yang lama. Tapi selama ada Tuhan dan cinta dalam hati kita, semua masalah pasti bisa dihadapi bersama.

2. Rindu Keluarga

Saya masih ingat jelas malam terakhir menginap di rumah orang tua saya sebelum ikut tinggal di rumah suami. Rasanya waktu itu benar-benar berat sekali, meninggalkan rumah dan kedua orang tua bukan hal yang mudah untuk saya. Apalagi saya tidak pernah berpisah terlalu lama dengan mama, alhasil jadilah saya menangis semalam sampai kedua mata saya bengkak seperti habis ditonjok, hahaha.

Beberapa hari setelah pindah di rumah suami pun saya masih sering menangis karena rindu dengan orang tua di rumah. Padahal jarak rumah saya dengan rumah orang tua hanya sekitar 1Km saja, manjanya. Saya jadi tidak bisa membayangkan mereka yang ikut suami dan berpisah jauh sekali dari keuarga, rasanya seperti apa ya?. :D

3. Mengendalikan Emosi dan Ego

Sekali lagi menikah itu merupakan perjalanan kehidupan yang penuh pembelajaran. Salah satunya adalah belajar mengendalikan emosi dan ego. Kalau dulu semasa masih sendiir saya dan suami bebas mengeluarkan kedua hal tersebut tapi berbeda kalau sudah menikah. Ada banyak hal dalam rumah tangga yang membutuhkan diskusi dan tukar pendapat.

Jadi, penting bagi kami berdua untuk belajar mengendalikan emosi dan ego. Mungkin kami bisa saja terus mempertahankan emosi dan ego masing-masing tapi setelah itu apa gunanya menikah?. Salah satu tujuan menikah adalah untuk mendapatkan ketentraman. Kalau kami tetap memakai emosi dan ego maka rumah tangga kami tidak akan terasa tentram dan damai.

4. Bersosialisasi Dengan Lingkungan

Menikah menuntut kami untuk lebih dewasa lagi dalam segala hal terutama saat berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Beberapa hari pasca kepindahan kami di rumah sendiri, saya meminta suami untuk dikenalkan dengan tetangga sekitar. Tetangga itu adalah saudara terdekat kita saat sedang berada jauh dari keluarga.

Kalau kami mengalami sesuatu yang membutuhkan pertolongan pasti tetangga yang akan terlebih dahulu membantu. Meskipun saya sempat merasa, “Oh, aku sudah sedewasa ini ya?” sekarang saya pun lebih perhatian dan sering berinteraksi dengan tetangga dibanding saat dulu masih ada di rumah orang tua.

5. Saling Berbagi

Untuk point yang satu ini sebenarnya saya dan suami sudah terbiasa berbagi walaupun masih dalam hal-hal tertentu saja. Kalau sekarang semua hal kami bagi bersama, baik itu hal yang menyenangkan sampai yang menyedihkan. Bukan itu saja, sekarang saya mulai terbiasa memprioritaskan kebutuhan suami daripada keinginan saya sendiri, tidak lagi sebatas berbagi.

6. Menerima Kekurangan Pasangan

Di dunia ini memang tidak akan pernah kita temukan sosok manusia yang sempurna apalagi pasangan yang sempurna. Semakin kesini saya mulai semakin hafal dan terbiasa dengan kebiasaan dan kekurangan suami begitupula sebaliknya. Awalnya memang saya kaget tapi ya itu dia, salah satu tugas istri adalah menutup kekurangan suaminya. Namanya juga sudah cinta, jadi sudah bisa menerima kekurangan suami, hehehe.

7. Konflik Pertama Pasca Menikah

Berbicara tentang konflik pertama pasca menikah, waktu itu kami berselisih paham soal barang-barang yang ada di rumah. Jadi ceritanya saya memaksa untuk membuang kaleng bekas tempat kue, tapi suami kekeuh mau menyimpannya. Menurut suami disimpan saja siapa tahu butuh, tapi lain dengan pemikiran saya kaleng bekas untuk apa disimpan? Lebih baik dibuang dan untuk menyimpan sesuatu bisa beli tempat yang baru.

Kelak suatu saat saya pasti kembali mengingat konflik pertama ini yang menurut saya sepele sekali. Pertengkaran itu memang sudah biasa dalam kehidupan berumah tangga asal tidak berlebih dan berlarut. Kami masih perlu banyak beradaptasi lagi dan tetap menikmati keadaan dimana kami sedang mengalami konflik.

8. Alhamdulillah, Diberi Mertua yang Baik

Jauh sebelum menikah saya sering mendengar cerita tentang kejamnya ibu mertua. Sampai-sampai saya banyak belajar dari mama bagaimana cara mengahadapi ibu mertua nanti. Namun semua kekhawatiran saya itu tidak terbukti. Kedua mertua saya terutama ibu sangat perhatian dan baik kepada saya.

9. Waktu Santai Terbatas

Sejak resmi menjadi seorang istri sekaligus ibu rumah tangga waktu bersantai yang saya miliki mulai terbatas dan tidak sebebas dulu saat masih sendiri. Kalau dulu, saya masih bisa mengandalkan bantuan mama untuk mengurus rumah dan memasak namun kali ini saya harus mengerjakan semuanya sendiri.

Sejak bangun tidur pagi hari sampai malam tiba saya banyak menghabiskan waktu untuk mengurus rumah dan memenuhi kebutuhan suami. Karena itu saya tidak bisa bersantai sebebas dulu tapi tidak mengapa sebab saya benar-benar menikmati semua proses ini. Bukankah rasa lelah mengurus suami akan tergantikan dengan keridho’an Allah.

10. Jodoh Kita Cerminan Diri

Sejak memutuskan untuk menjalin hubungan sampai menikah itu semua karena kami merasa banyak kecocokan satu sama lain. Setelah menikah saya menemukan lebih banyak lagi kemiripan dengan suami, mulai dari karakter, beberapa kebiasaan dan wajah. Meskipun tidak saya pungkiri kalau ada juga perbedaan yang mencolok dari diri kami berdua.

Terkadang saat kami sedang mengobrol atau diskusi tidak jarang saya suka heran dengan beberapa sifat kami yang sama. Selain itu beberapa keputusan serta cara berpikir kami berdua juga sama. Sampai-sampai saya suka bilang, “Kok sama sih Mas? Baru juga aku mikir gitu..” atau “ Aku juga suka ini, ini bagus.."

Begitulah beberapa hal yang saya dan suami rasakan pasca menikah. Rasanya saya tidak akan pernah bisa berhenti bersyukur akhirnya kami bisa menikah. Karena dengan menikah saya menemukan banyak sekali hal-hal baru dan mengejutkan. 10 hal ini bisa juga dijadikan bahan catatan bagi teman-teman yang belum menikah, semoga bermanfaat ya.



Komentar Facebook

Tulisan lainnya

40 komentar

  1. Selamat menempuh hidup baru mbak Riska, sekaligus selamat menikmati naik turunnya dinamika berumah tangga. Seru kan? :)

    BalasHapus
  2. Welcome to the jungle ya Ris.
    Pelan-pelan saja menikmati perjalanan RTmu
    Kelak akan ada masa dimana semuanya benar-benar dibutuhkan dewasa tingkat dewa hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, masuk hutan emak-emak ya mbak, hehehe. Ini lagi menikmati setiap prosesnya :) makasi ya mbak nasehatnya.

      Hapus
  3. Mbaak... Selamat dulu yaa! Semoga sakinah mawaddah wa rahmah, hehehe

    Semoga bisa terus saling melengkapi, saling mengingatkan, saling menjaga perasaan, dan saling2 yang baik lainnya ya mbak. Selamat datang di kehidupan pernikahan dan selamat belajaarr! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiinn, makasi mbak Istiana buat doanya dan nasehatnya berguna sekali, semoga selalu aku ingat. :)

      Hapus
  4. Rindu keluarga itu benar banget. Bawaannya pengen pulang terus ke rumah ortu heeh.

    BalasHapus
  5. betul tante, jodoh itu cerminan diri. :)
    dan Alhamdulillah juga kita punya kesamaan, diberi mertua yang baik oleh Allah Ta'ala.. Untung rumahnya dekat yaa, kalau kami, sama-sama jauh semua, hehe.. Jadi kalau ada apa-apa ya diselesaikan cuma berdua. Itu untungnya.. :)
    tapi ada juga susahnya sih, misalnya, kami bingung mau lebaran pertama dimana? haha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah bisa samaan gitu kita ya mbak, kebetulan rumah suamiku dekat sama rumah orang tua dan mertua. :)

      Hapus
  6. Barakallah mba, dulu aku malah disuruh cepetan nikah karena gak boleh pacaran, hihi.
    Memang awal2 nikah kaget dengan banyak hal, apalagi harus beradaptasi dengan lingkungan Surabaya yg beda dengan lingkungan di Jawa Tengah, mana suami memang bawaannya klo ngomong pake suara keras, kadang kaget sendiri LOL. Tapi lama2 suami belajar untuk bicara dengan suara rendah kalau lagi ngomong dengan aku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi mbak Enny. Sama mbak, aku juga suruh cepetan nikah tapi sama teman-teman sih. Logat orang surabaya memang begitu kalau lagi bicara kadang suka bikin kaget ya. Hahaha.

      Hapus
  7. Selamat atas pernikahannya Mbak Riska. Emang akan banyak "kejutan-kejutan" setelah menikah. Yg paling penting cara menyikapinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi mbak April. Iya betul mbak, semoga bisa menyikapi dengan dewasa. :)

      Hapus
  8. Jadi pengen nulis point 8 mba yang kebalikannya ahahaha btw selamat y mba semoga berbahagia sll ^^ aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditulisa saja mbak, bila dirasa itu bermanfaat buat banyak orang :), makasi mbak ya.

      Hapus
  9. Selamat menempuh hidup baru mbak, semua memang ada masanya. Tapi nanti akan terbiasa. Eh selamat juga ya dapat mertua yg baik hehehe.
    Oh ya aku juga lagi ngedraft tulisan beginian tapi gak kelar2 hadew

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi banyak mbak Mei, Alhamdulillah dikasih mertua yang baik dan pengertian. Ayo dong segera diselesaikan mbak. Aku mau baca juga :D

      Hapus
  10. selamat ya mbak. semoga penuh berkah.

    betul itu poin-poinnya terutama nomor 1! hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi mbak, aamiinn. Hahaha, engga boleh kebanyakan baca cerita dongeng ya :D

      Hapus
  11. Suatu saat nanti saya juga akan merasakan itu mbak, Btw selamat ya pernikahannya.

    BalasHapus
  12. ecieee.. pengantin baru ni ye...., aduh berasa balik muda hahhaha, semoga jadi keluarga sakinah..langgeng selalu ya..aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mbak, makasi banyak doanya mbak :)

      Hapus
  13. Mantap, tulisan yang inspiratif untuk penganten muda ataupun penganten yang pengen tetep kayak penganten muda wakakakakak. Trims mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, makasi banyak mbak sudah mampir untuk baca :)

      Hapus
  14. Bahagianya penganten baru :)
    Selamat ya mba
    Kalau aku nggak merasa banyak perubahan sejak sebelum nikah Ama setelah nikah. Semuanya sama sejak awal. Hanya saja emang lebih bahagia. Hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak alhamdulillah, makasi ya mbak. :)

      Hapus
  15. Selamat yah mba, semoga jadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah, Eh, btw itu aku paling kerasa pas lagi kangen orang tua ih, rasanya kepingin balik aja ke rumah ortu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah makasi banyak mbak. Iya betul banget, aku paling berat itu pas pisah sama orang tua. :D

      Hapus
  16. Eh aku jadi pingin bikin versiku nih baca ini. Seru seru kalo aku dulu soalnya..kayak buku cerita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bikin dong mbak, ini aku bikinnya juga iseng. :D

      Hapus
  17. Jadi ingat awal-awal nikah aku dan suami sering banget berantem walau kita udah pacaran selama 4 tahun tapi tetep aja ya beda kalau nikah mah. Meskipun sekarang juga masih berantem-beranteman tapi udah selow. Dulu awal nikah mah berantemnya remeh-temeh hal-hal kecil dari sekadar gantian cuci piring juga bisa buat bahan beranteman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,cerita perjalanan pernikahan ada aja ya mbak :D

      Hapus
  18. Saran pertama itu, lho. Jleb banget. Jangan mau termakan doktrin cerita klasik, so drama queen hehehe. Aku juga termasuk yang punya pendapat jodoh itu cerminan kita. Meskipun dalam beberapa hal pasti bakal nemu hal yang beda. Kalau udah mikir gitu dan merasa diri lagi jadi sosok nyebelin aku buru-buru nyadar, jangan sampai nanti punya suami yang nyebelin kayak aku gitu. Lumayan buat ngingetin diri sendiri kalau terpikir gitu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, dulu aku sempat termakan sih mbak cuma ya semakin dewasa semakin banyak pengalaman juga. aamiinn, semoga disegerakan ya mbak :)

      Hapus
  19. Soal waktu santai yang terbatas, kalo belum punya anak sih masih tergolong santai, Mbak. Kecuali Mbak Riska tetap bekerja setelah nikah. Nanti deh kalau sudah punya anak, terasa banget bedanya. Hidup mulai kebalik-balik, tapi seneng ya tentu karena lihat anak itu obatnya hati. Jadi biar gak bisa santai juga tetap dinikmati aja. Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mas, kalau diam-diam kadang suka kepikiran gimana ya pas punya anak besok-besok? hihihi

      Hapus
  20. Waa..ternyata manten anyar, to?
    Selamat menempuh hidup baru, mb. More happiest years to come ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, iya mbak. Makasi banyak ya mbak :)

      Hapus

Jangan lupa berkomentar ya, tinggalkan alamat blognya biar bisa balik berkunjung.

Terima Kasih.

Fanpage

Member of

Emak Emak Blogger
Blogger Perempuan
Komunitas Blogger Madura

Instagram