Jangan Bohongi Suami!

Jumat, Juni 16, 2017

Tuhan menjodohkan kita dengan seseorang yang sesuai dengan kualitas kita dan tentu yang bisa melengkapi kekurangan kita. Memilih pasangan untuk dijadikan teman hidup memang bukan perkara mudah, karena pasangan yang sudah kita pilih akan menemani kita sepanjang hidup. Pasangan kita yang paling tahu apa yang sedang terjadi pada diri kita, yang akan terus mendukung dan memberikan semangat.

Bulan ramadhan ini saya mendapat banyak sekali pelajaran hidup yang membuat mata saya terbuka lebih lebar lagi bagaimana menjadi manusia yang baik dan hamba Tuhan yang disayang. Salah satu kejadian yang membuat saya belajar dan lebih bersyukur adalah ketika saya semakin paham kewajiban seorang istri yang sebenarnya.

Namanya juga suami istri alangkah baiknya jika tidak ada yang disembunyikan satu dengan lainnya. Karena suami atau istri kita adalah bagian dari diri kita sendiri, kalau kita membohongi mereka sama saja kita telah membohongi diri sendiri. Sampai sekarang pun saya sangat menghindari sikap tidak jujur kepada suami karena saya tidak mau kehilangan kepercayaan suami saya selama ini.


Ketika Seorang Istri Berbohong Kepada Suaminya


Sambil menulis tulisan ini saya sadar betul kalau saya sendiri tidak punya banyak pengalaman apalagi kata-kata bijak sebagai seorang istri. Pernikahan kami berdua pun masih terbilang sangat muda dan kata orang belum masuk pada fase aman. Ego dan ambisi kami berdua masih sering meluap-luap, namun dengan menulis cerita ini saya ingin menjadikannya sebuah catatan pribadi.

Cerita ini dimulai ketika salah satu teman SMA saya yang sudah lama tidak menghubungi lagi tiba-tiba mengirim sebuah pesan bbm. Tanpa basa basi dia menyatakan maksudnya menghubungi saya karena ingin meminjam sejumlah uang. Waktu itu saya sempat bertanya untuk apa dia meminjam uang kepada saya dengan jumlah yang cukup banyak?.

Dia beralasan untuk mengganti uang tabungan murid-muridnya dan dia butuh malam itu juga karena besok paginya harus setor dana tabungan. Dengan kalimat sedikit memelas dia berusaha meyakinkan saya, waktu itu hati saya mulai luluh dan merasa kasihan. Akhirnya saya pun mengiyakan permintaannya dan berjanji akan mentransfer sejumlah uang.

Namun, tiba-tiba dia berpesan kepada saya untuk tidak menceritakan hal ini kepada suaminya. Kebetulan saya juga kenal dengan suaminya yang juga teman SMA dulu, ya kami bertiga memang sekolah di tempat yang sama. Tanpa pikir panjang saya pun menyetujuinya dan berjanji tidak akan menceritakan hal ini kepada suaminya.

Akhirnya dengan ijin dari suami sejumlah uang saya transfer ke nomor rekening miliknya. Tapi setelah beberapa hari dia meminjam uang hati saya merasa bersalah karena saya menyetujui permintaannya untuk tidak menceritakan hal ini kepada suaminya. Padahal wajib bagi saya untuk meminta persetujuan suaminya saat akan memberi pinjaman.

Karena menurut saya bagaimanapun dia masih dalam tanggung jawab dan pengawasan suaminya. Namun, saya mencoba untuk berpikir positif kalau mungkin saja keadaan yang mengharuskan dia untuk tidak bercerita kepada suaminya. Oh iya, saat meminjam uang ini dia berjanji akan segera melunasinya dalam waktu satu minggu.

Lalu, satu minggu yang ditunggu datang tiba-tiba dia kembali mengirim sebuah pesan bbm kepada saya dan mengatakan kalau dia masih belum bisa membayar utang karena belum ada uang. Saya masih bisa maklum kebetulan juga uang yang saya pinjamkan tersebut adalah uang untuk membayar tagihan listrik, air dan Wifi bulan depan.

Jadi, saya bilang tidak apa-apa asal kalau pas waktunya saya bayar tagihan jangan sampai telat, kira-kira begitulah pesan balasan saya. Tiba waktunya saya membayar semua tagihan tapi teman saya ini tidak kunjung memberikan kabar akan membayar utangnya. Akhirnya dengan berat hati saya mencoba untuk menghubunginya dan ternyata bbmnya sudah tidak aktif lagi.

Lama kelamaan hati saya mulai merasa tidak nyaman dengan banyak pertimbangan dan meminta saran kepada suami akhirnya saya memberanikan diri untuk menghubungi suaminya. Alhamdulillah, suaminya memberikan respon yang cepat namun betapa kagetnya saya kalau ternyata selama ini dia memiliki banyak utang. Bukan cuma ke saya saja tapi ke banyak orang, suaminya cerita kalau sudah melunasi sebagian utang istrinya.

Satu tanya besar dalam benak saya waktu itu, “Kok bisa ya bohong sama suami sendiri?..”. Menyedihkannya lagi menurut cerita dari suaminya, kalau keluarga besarnya baru tahu seminggu terakhir ini tentang semua utangnya. Saat itu saya merasa sedikit bersalah kenapa saya tidak minta persetujuan suaminya untuk memberi utang pada istrinya?.

Ternyata teman saya ini dulunya pernah mencoba peruntungan dengan berbisnis online namun dia ditipu oleh suplier bodong. Karena itu dia terpaksa meminjam sejumlah uang bunga untuk menutupi utangnya tersebut. Nah, mungkin untuk membayar uang bunga ini dia meminjam uang kesana kemari dan tanpa sepengetahuan suami maupun keluarga besarnya.

Akhirnya, Kami Mencoba Mengikhlaskan Uang Tersebut


Saya dan suami menyadari betul kalau di dunia ini tidak ada satupun orang yang mau mendapat musibah termasuk kedua teman saya ini. Terlebih lagi kami mengingat kalau mereka juga pasangan pengantin baru dan saat ini istrinya dalam kondisi sedang hamil. Tanpa banyak pertimbangan akhirnya suami saya mengambil keputusan untuk mengikhlaskan uang kami tersebut.

Karena jumlahnya cukup banyak saya sampai bertanya beberapa kali kepada suami tentang keputusannya tersebut. “Mas beneran mau diikhlaskan gitu aja?..” dan jawaban suami tetap sama “Iya, ikhlasin aja. Toh mereka ditipu bukan menipu, kita masih bisa cari uang lagi kok!..”. Dengan mantap dan penuh keyakinan suami saya berusaha untuk tidak mengubah keputusannya itu.

Baiklah, sebagai istri saya menurut saja dengan perintah suami apalagi ini bulan baik rugi rasanya kalau kita tidak memanfaatkannya untuk berbuat baik. Kami berdua masih bisa bahagia, diberi kesehatan, keluarga yang lengkap, hubungan yang harmonis dan calon anak yang sedang tumbuh di dalam rahim saya adalah anugerah besar dari Tuhan yang tidak bisa dibandingkan dengan hal apapun.

Saya kembali belajar menjadi manusia dewasa, istri yang baik dan hamba Tuhan yang disayang olehNya. Terima kasih mas karena didikanmu saya bisa seperti saat ini, kita memang masih baru dalam pernikahan tapi semoga kita selalu diberikan hidayah untuk mau berbuat baik bagaimanapun keadaannya nanti. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk mampu menjaga amanah dari pasangan kita.

Hidup kurang berarti tanpa bisa memberikan manfaat kepada orang lain, karena sejatinya hidup ini adalah tempat untuk mengumpulkan amal baik untuk dibawa ke alam selanjutnya. Terima kasih untuk kedua teman saya, karena telah memberikan pelajaran berharga bagi kami berdua. Semoga kita semua dianugerahi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dan kembali berkumpul di surga Tuhan suatu saat nanti. Aamiinn :)



Komentar Facebook

Tulisan lainnya

22 komentar

  1. aku greget mba bacanya hahaha tp kejadian ini jg prnh menimpa kami dan reaksi suami persis ke reaksi suami mba yg mangkel si aku malah tp disitu aku belajar mengikhlaskan. semoga diganti yg lbh y mba 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, bener mbak belajar ikhlas mungkin udah jalan-jalannya kayak gini :)

      Hapus
  2. InsyaAllah digantikan rejeki yang lebih ya, mba. Mungkin dia merasa terpaksa dengan keadaan. Aku pun pernah begitu tapi sejak awal suami sudah bilang nggak usah mengharapkan dikembalikan. Ya anggap saja sedekah. Tetap semangat mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah mbak, kita juga nggak pernah tahu keadaan seseorang yang sebenarnya.

      Hapus
  3. Mudah2an kebaikanmu dibalas Allah berkali2 lipat ya mba :) . Aku bacanya jujur rada gemea sih.. Pernah punya penglaman diutangin ama temen dan susah bayar jg orangnya. Tp mngkin krn itu bukan temen deket, jd aku g segan utk trs nagih ya.. Beda cerita mungkin kalo sahabatku sendiri. Rasanya aku jg bakal memilih utk ikhlasin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiinn mbak, kasihan juga apalagi dia lagi hamil.

      Hapus
  4. Kenyataannya memang banyak kok mba, para istri yang berutang kiri kanan tanpa sepengetahuan suaminya. Sejak kecil saya telah akrab dengan kondisi seperti ini karena dulu saya ditugaskan Bapak untuk menagih orang2 yang berutang di toko kelontong kami. Dan, kebanyakan yang berutang adalah para istri dan tanpa sepengetahuan suaminya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, itu kenapa jadi alasanku nulis hal ini. Jangan sampai bohongi suami, segawat apapun keadaannya. Tapi ya nggak tahu juga kalau keadaannya yang memungkinkan untuk begitu, tetep aja salah. :(

      Hapus
  5. Belajar berbagi semua masalah denGan suami, dengan begitu akan terbiasa bermusyawarah dengan sendirinya saat berhadapan dengan masalah. Apalagi masalah keuangan keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ada masalah apapun aku terbiasa bercerita dengan suami mbak.

      Hapus
  6. Sama orang ajangak boleh boong yah apalagi sama suami.. mba aku cantik kan hayo jawab jujur?? Wakakaka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cantik lha kan cewek mbak, aku jujur kan ya :D

      Hapus
  7. nah , kalau soal mmeinjam itu aku suka bingung mmeutuskannya , pengalaman yg minjem itu selalu gak ngembaliin, aad juga minjemnya nyicil skrng 100 ribu, dua ahri lagi 100 ribu, ada saja alasananya, kl dipikir ah cuma 100 ribu, tp ternyata setelah dihitung jd jutaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keenakan utang terus nggak taunya dapat banyak.

      Hapus
  8. Pernah mengalami ini dan belajar utk ikhlas

    BalasHapus
  9. Aku juga pernah gini, utang barang jualan suami saya. Istrinya yang utang, pas utang bilang begini begitu. Eh pas waktunya bayar nggak datang. Pas didatangi ke rumahnya, suaminya kayak nggak tahu menahu. :(
    Semoga kita senantiasa bisa jadi istri yang sholihah ya, Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiinn, semoga Allah selalu bimbing kita ya mbak :)

      Hapus
  10. Banyak banget aku temui kasus yang kayak begini, paling sering bohong memang masalah uang. Bukan cuma istri yang bohong, kadang ada suami juga yang pinjam uang ke orang lain dan istrinya nggak tahu. Utangnya pun sampai berlarut-larut. Masalah uang kadang banyak yang transparan, mudah-mudahan kita nggak termasuk yang begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, semoga kita masih diselamatkan dari masalah yang kayak gitu.

      Hapus
  11. waduhh.. walaupun saya belum menikah (n blm punya pengalaman). sya mengharapkan nanti saya bisa terbuka dalam hal apapun dengan istri saya kelak, begitupun sebaliknya.

    BalasHapus
  12. sungguh luar biasa sekali artikelnya dan saya ucapkan terimakasih banyak.....

    BalasHapus

Jangan lupa berkomentar ya, tinggalkan alamat blognya biar bisa balik berkunjung.

Terima Kasih.

Fanpage

Member of

Emak Emak Blogger
Blogger Perempuan
Komunitas Blogger Madura

Instagram