facebook instagram twitter

Riska Ngilan

  • Home
  • About
  • Kategori
    • Pengalaman
    • Sponsored Post
    • Perempuan
  • Disclosure
Bumi sudah tidak sesejuk dulu, ya. Masih teringat jelas dalam memori saya dimana saya masih berani bermain atau keluar panas-panasan. Kalau sekarang, sudah pasti saya berusaha menghindar dari panas-panasan. Penyebabnya karena cuaca panas di bumi rasanya sudah tidak lagi bisa ditoleransi, kalau bukan karena kepepet memilih berdiam dalam rumah rasanya jauh lebih baik.

Setiap hari kita merasa bahwa perubahan iklim menjadi semakin mengkhawatirkan. Ada hari dimana akan terasa panas lalu tiba-tiba hujan atau sebaliknya. Perlu diingat bahwa perubahan iklim tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi karena beberapa alasan. Untuk itu, kita harus berusaha mengatasinya dengan mencintai dan menjaga lingkungan.

Perubahan iklim bukanlah hal baru. Iklim global selalu berubah. Jutaan tahun yang lalu, bagian dunia yang dulunya tertutup es berubah menjadi daratan oleh fluktuasi radiasi matahari atau letusan gunung berapi. Perubahan iklim saat ini dan masa depan dapat disebabkan tidak hanya oleh peristiwa alam, tetapi juga oleh berbagai aktivitas manusia #BersamaBergerakBerdaya.



Kemajuan pesat dalam pembangunan ekonomi memiliki konsekuensi serius bagi iklim global, seperti penggunaan bahan bakar fosil untuk sumber energi, menjamurnya kendaraan bermotor dan pembukaan lahan skala besar melalui pembukaan hutan. Yap, sebagai anak muda pastinya kita semua sudah tahu kalau permasalahan cuaca dan iklim saat ini sudah hampir mencapai ambang batas sih kalau kata saya.

Bahkan isu perubahan iklim sudah menjadi kepentingan nasional bahkan global. Aksi nyata pengendalian perubahan iklim pun tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Peran tersebut diemban oleh setiap orang, termasuk dari generasi muda sebagai #MudaMudiBumi.

Secara umum, perubahan iklim disebut sebagai fenomena pemanasan global, dimana terjadi peningkatan gas rumah kaca pada lapisan atmosfer dan berlangsung untuk jangka waktu tertentu. Penyebab perubahan iklim dan pemanasan global terdiri dari berbagai faktor yang berbeda serta menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia.

Fakta dan Dampak Perubahan Iklim Saat Ini!


Iklim berubah secara terus menerus karena interaksi antara komponen-komponennya dan faktor eksternal seperti erupsi vulkanik, variasi sinar matahari, dan faktor-faktor disebabkan oleh kegiatan manusia seperti misalnya perubahan pengunaan lahan dan penggunaan bahan bakar fosil. Lalu, apa saja faktor yang menyebabkan perubahan iklim? Ada beberapa faktor penyebab perubahan iklim, diantaranya:

  • Efek gas rumah kaca
  • Pemanasan Global
  • Kerusakan lapisan ozon
  • Kerusakan fungsi hutan
  • Penggunaan Cloro Flour Carbon (CFC) yang tidak terkontrol
  • Gas buang industri

Lalu, apa saja dampak yang akan didapatkan bumi dari perubahan iklim saat ini? Nantinya, dari perubahan iklim yang terjadi secara terus menerus juga menimbulkan dampak tersendiri bagi kehidupan masyarakat. Apa saja?

  • Curah hujan tinggi
  • Musim kemarau yang berkepanjangan
  • Peningkatan volume air akibat mencairnya es di kutub
  • Terjadinya bencana alam
  • Berkurangnya sumber air

Upaya Mengatasi Perubahan Iklim


Upaya aktif berbagai pihak untuk mengatasi terjadinya perubahan iklim perlu terus dilakukan oleh seluruh pihak termasuk generasi muda. Upaya untuk mengatasi perubahan iklim dilakukan melalui aksi mitigasi dan adaptasi, yang dapat dilakukan pada tingkat individu, kelompok, masyarakat dan negara.


Berbicara tentang aksi mitigasi dan adaptasi pada dasarnya berbicara tentang perilaku manusia. Dalam arti, masyarakat khususnya para generasi muda bisa memberikan kontribusi signifikan melalui perubahan perilaku yang mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

  • Mengurangi timbulan sampah dengan menghindari penggunaan barang sekali pakai
  • Memanfaatkan sampah organik menjadi kompos
  • Mendaur ulang barang
  • Mematikan peralatan elektronik pada saat tidak diperlukan
  • Mengganti peralatan elektornik dengan jenis yang lebih hemat listrik
  • Mengoperasikan sesuai kapasitas
  • Menanam dan menjaga tanaman
  • Menggunakan transportasi publik, dan masih banyak lagi.

Harapan Orang Muda Indonesia Terhadap Penanganan Isu Perubahan Iklim dan Perlindungan Hutan


Seperti yang kita ketauhi Indonesia sendiri memegang peranan sangat penting terhadap perubahan iklim mengingat Indonesia memiliki hutan ke-3 terluas di dunia dengan hutan tropis dan sumbangan dari hutan hujan (rain forest) Kalimantan dan Papua. Oleh sebab itu orang muda Indonesia perlu memiliki kesadaran dan kepedulian yang lebih tinggi #TeamForImpact.

Apalagi, sekarang semakin banyak orang muda memimpin aksi perubahan iklim, membuat suara mereka didengar, dan secara lebih tegas menuntut pemerintah, dunia usaha dan kita semua, untuk mengambil sikap. Sebagai orang muda yang mewarisi bumi, saya khawatir tentang perubahan iklim.

#UntukmuBumiku harapannya semoga bumi yang kita tempati ini akan selalu menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Dengan bekerja keras dalam memecahkan persoalan-persoalan perubahan iklim di bidang pelestarian hutan dan laut, energi terbarukan, pertanian yang berkelanjutan, produksi dan konsumsi yang bertanggungjawab, serta perencanaan tata kota yang berwawasan hijau.

"Yuk, share mimpi kamu terhadap isu penangan perubahan iklim dan perlindungan hutan!"
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Teman, sadar nggak kalau cuaca akhir-akhir ini mudah sekali berubah-ubah. Ya, yang tadinya panas terang sampai rasanya nggak tahan tiba-tiba nggak berapa lama awan mendung datang dan hujan pun turun bahkan nggak jarang diikuti dengan datangnya angin. Kayak nggak bisa diprediksi apakah hari ini akan terang benderang atau turun hujan.

Sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari berada di rumah, perubahan cuaca yang cukup extrim seperti sekarang membuat saya suka khawatir. Khawatirnya bermacam-macam mulai dari anak yang tadinya sehat tiba-tiba jatuh sakit, sampai bingung mau menjemur cucian dimana lagi kalau sepanjang hari cuacanya mendung.

Mungkin dampak yang saya rasakan nggak sebanding sulitnya dengan teman-teman yang banyak berkegiatan di luar rumah. Sebagai salah satu penduduk bumi yang memegang peran untuk menjaga bumi tentunya kita nggak boleh berdiam diri dengan keadaan lingkungan sekitar, banyak yang bisa kita lakukan untuk menjaga lingkungan sekitar.



Teman, pernah dengar tentang emisi karbon? Jadi, emisi karbon memiliki dampak pada lingkungan. Sejak Revolusi Industri pertama, manusia telah menghasilkan lebih dari 2.000 gigaton emisi karbon dioksida di atmosfer dan membentuk selubung seperti rumah kaca yang menahan panas keluar dari bumi.

Fenomena efek rumah kaca ini menjadi penyebab pemanasan global. Jika tidak ada perubahan serius dalam mengatasi akibat pemanasan global, maka intensitas gelombang panas, meningkatnya permukaan air laut, pencemaran udara, dan dampak perubahan iklim lainnya akan semakin membahayakan.

Mengenal Emisi Karbon dan Dampaknya Bagi Lingkungan


Carbon emissions atau emisi karbon merupakan proses karbon dioksida ke atmosfer yang terjadi secara alami maupun dipicu aktivitas manusia, seperti deforestasi, konsumsi listrik, hingga kegiatan industri manufaktur. Dalam hal ini, emisi karbon merujuk pada pembakaran segala senyawa yang mengandung karbon, seperti CO2, kayu, hingga bahan bakar hidrokarbon.

Saat ini, jumlah jejak karbon di atmosfer sudah mencapai level yang tidak mungkin untuk diserap secara alami. Oleh karenanya, negara-negara di dunia bersatu membuat skenario menekan emisi karbon dan mencapai net zero emission pada 2050. Sebagai penduudk bumi sudah seharusnya kita tahu apa saja dampak dari emisi karbon ini.


Dampak Emisi Karbon Terhadap Lingkungan


Berikut beberapa dampak carbon footprint terhadap lingkungan, kesehatan, dan ekonomi:

1. Dampak Terhadap Lingkungan

Secara umum, emisi gas rumah kaca menjadi penyebab global warming dan memicu perubahan iklim. Konsekuensinya adalah menimbulkan anomali cuaca/cuaca ekstrem, meningkatnya suhu bumi, mencairnya es di kutub, meningkatnya permukaan laut, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan hujan lebat.

2. Dampak Terhadap Kesehatan

Perubahan iklim memicu munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bakteri, virus, dan parasit. Sebab, mikroorganisme tersebut tumbuh subur akibat meningkatnya suhu bumi. Selain itu, polusi udara dan cuaca ekstrem, seperti kemarau panjang, hujan kencang, atau gelombang panas juga berdampak pada kesehatan manusia.

3. Dampak Terhadap Ekonomi

Anomali cuaca berdampak pada kegiatan ekonomi masyarakat, seperti pertanian, pariwisata, hingga kelautan. Cuaca ekstrem juga memengaruhi kerusakan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, hingga tiang listrik. Pemanasan global yang memicu berbagai bencana secara tidak langsung juga berdampak terhadap ekonomi.


Cara Mengurangi Emisi Karbon


Selain menjadi tugas negara, kita sebagai individu juga bisa memangkas jumlah emisi gas rumah kaca untuk menghambat perubahan iklim. Berikut lima caranya:

1. Menanam Pohon

Deforestasi adalah salah satu penyebab utama emisi karbon. Padahal, pohon bisa menyerap dan menyimpan karbon secara alami. Untuk itu, menanam pohon merupakan cara termurah untuk meredam emisi karbon.

2. Efisiensi Energi di Rumah

Kita bisa memilih penyedia listrik yang menggunakan energi bersih atau memasang panel surya sebagai sumber listrik. Selain itu, kita juga bisa memilih perlengkapan rumah yang lebih ramah lingkungan, contohnya lampu LED.

3. Energi Bersih

Saat ini, sebagian besar aktivitas manusia masih menggunakan bahan bakar fosil. Untuk itu, selain mengurangi konsumsi energi, transisi ke energi bersih juga bisa menekan emisi karbon.

4. Efisien dalam menggunakan transportasi

Meski tidak semua orang bisa meninggalkan kendaraan dengan bahan bakar fosil, mengurangi berkendara dan beralih ke transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki bisa menurunkan jumlah emisi karbon. Penggunaan pesawat terbang juga merupakan salah satu moda transportasi yang paling banyak menghasilkan emisi karbon.

Fakta Permasalahan Lingkungan Hidup di Indonesia


Permasalahan lingkungan hidup memang sering menjadi masalah utama yang sering terjadi. Teman-teman, ternyata permasalahan tentang lingkungan hidup ini banyak sekali dan cukup rumit. Kebanyakan dari permasalahan ini terkadang belum memiliki solusi untuk mengatasinya. Sehingga menyebabkan kerusakan-kerusakan alam dan lingkungan terus saja terjadi.

Kerusakan Hutan

Kerusakan hutan merupakan masalah yang cukup besar terlebih negara dikenal sebagai negara yang kaya dengan hutan sedangkan faktanya kerusakan hutan sangat marak terjadi. Mulai dari penebangan liar, penggundulan hutan, hingga baru-baru ini terjadi yaitu pembakaran hutan menjadi penyebab dari kerusakan hutan yang ada. Tentu saja jika hal ini dibiarkan terus menerus, akan menyebabkan berkurangnya kawasan hutan di Indonesia yang berakibat pada ketidakstabilan ekosistem.



Banjir

Kalau teman-teman berpikir bajir hanya terjadi saat musim hujan saja, faktanya itu salah. Banjir bisa terjadi di saat musim kemarau sekalipun hal ini dikarenakan perkembangan wilayah Indonesia yang menyebabkan sistem pembuangan air yang salah dan tidak adanya penjagaan pada daerah aliran sungai.

Untuk mengatasi ini, pentingnya peran pemerintah yang mengelola pembuangan air agar tak menjadi masalah di kemudian harinya. Selain itu, peran aktif dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan sangat dibutuhkan.

Pencemaran Sungai

Banjir merupakan salah satu dampak akibat adanya pencemaran sungai dan pencemaran sungai merupakan salah satu bentuk dari pencemaran air yang membuat sungai menjadi terkontaminasi dan kehilangan fungsinya. Pencemaran bisa terjadi karena kurangnya rasa tanggung jawab dari manusia dengan membuang berbagai bentuk limbah ke dalam sungai dan mengakibatkan kondisi sungai terus mengalami penurunan.

Apa saja penyebab pencemaran sungai? Wah, beragam sekali mulai dari limbah air panas, limbah industri, tumpahan bahan bakar sampai limbah rumah tangga. Lagi-lagi terbukti kan kalau dari rumah saja kita bisa #BersamaBerdayaBergerak menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Bentuk Kepedulian pada Lingkungan Hidup Mulai dari Lingkungan Sekitar


Kepedulian kita pada lingkungan hidup nggak harus dimulai dengan melakukan sesuatu yang besar dan melibatkan banyak orang. Kita bisa lakukan mulai dari lingkungan sekitar, mulai dari rumah yang kita tempati #UntukmuBumiku team up for impact, seperti :

1. Tidak Membuang Sampah Sembarangan

Sampah masih menjadi permasalahan besar yang dihadapi oleh Indonesia. Terlebih masih banyak masyarakat Indonesia yang belum membuang sampah secara tertib di tempatnya. Mungkin pernah melihat masyarakat yang tinggal di bantaran sungai membuang sampah sembarangan ke aliran sungai.

Atau mungkin salah satu dari kita tinggal di dekat aliran sungai? Hal ini kemudian mengakibatkan air sungai menjadi tercemar, aliran sungai pun menjadi terhambat dan berpotensi mengakibatkan banjir di wilayah tersebut. Selain itu, lingkungan juga menjadi tidak sehat karena banyak sampah yang mengapung di pinggir sungai.



2. Tidak Membakar Sampah

Pernah mendapati tetangga sekitar rumah yang membakar sampah? Padahal sebenarnya aktivitas membakar sampah sangat tidak disarankan, loh. Membakar sampah bisa melepaskan gas-gas yang menyebabkan kerusakan ozon. Sedangkan ozon berfungsi mengatur jumlah atau porsi sinar ultraviolet yang masuk ke permukaan Bumi.

Lapisan ozon juga berfungsi untuk melindungi Bumi agar sinar ultraviolet tersebut tidak langsung mengenai permukaan Bumi, menyerap sinar ultraviolet, menjaga suhu di Bumi agar tetap stabil, melindungi permukaan Bumi dari benda- benda langit yang jatuh. Nah, bisa jadi cuaca panas yang kita alami saat ini diakibatkan karena lapisan ozon yang mulai menipis.

3. Menghemat Energi

Melakukan penghematan energi, bagaimana melakukannya? Seperti mematikan penggunaan lampu di siang hari atau sedang tidak dipakai. Penghematan energi juga bisa dilakukan dengan menghemat BBM dengan meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor. Bila hendak pergi ke tempat yang relatif dekat, gunakan sepeda atau berjalan kaki agar emisi dari kendaraan tidak mencemari udara. Mudah bukan?

Kesimpulannya adalah untuk mengambil peran dalam rangka manja kelestarian lingkungan hidup bukan suatu yang sulit dilakukan. Ada banyak hal sederhana yang bisa dilakukan mulai dari lingkungan sekitar kita. Asal mau memulai dan bergerak bersama demi lingkungan yang terjaga. Kalau #BersamaBergerakBerdaya versi kalian apa nih? Boleh dong tulis di kolom komentar ya!
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Setelah lama tidak merasakan suasana camping di tengah hutan akhirnya saya kembali merasakan sejuknya udara dan dingin malam hutan di Bukit Geger Madura. Kali ini ngecamp-nya tidak jauh dan hanya semalam saja tapi sudah cukup membuat hati senang karena akhirnya kesampaian juga ngecamp di tengah hutan yang letaknya di atas bukit.

Bukit Geger merupakan tempat wisata yang sarat akan cerita sejarah, bahkan konon di bukit inilah cikal bakal Pulau Madura. Selepas sholat Dzuhur saya dan suami memulai perjalanan menuju Bukit Geger, jaraknya sekitar 30 KM dari Kota Bangkalan atau sekitar 1,5 jam waktu yang kami tempuh menggunakan sepeda motor.

Tidak ada persiapan khusus saat berangkat ngecamp, hanya membawa tenda, dua stel pakaian, alat sholat dan panci kecil untuk memasak. Sekitar pukul 2 siang, akhirnya kami pun tiba diatas bukit. Untuk bisa naik ke atas bukit, kami harus berputar mengikuti jalan yang disediakan untuk pengendara roda dua. Jalannya menanjak tapi sudah bagus untuk dilewati karena sudah disemen.

Sebenarnya ada akses jalan utama menuju Bukit Geger yakni dengan menaiki anak tangga yang menanjak dan jumlahnya yang  banyak. Kebetulan, ini kali ketiga saya pergi kesana dan sudah sama-sama pernah melewati kedua akses jalan tersebut. Capek banget, tapi ketika sudah ada di atas bukit rasanya capeknya terobati dengan menikmati pemandangan alam yang sangat mempesona.



Menikmati Suasana Tengah Hutan Kayu Mahoni di Bukit Geger Madura


Bukit Geger yang menjadi tempat kami ngecamp dikelilingi oleh hutan lindung kayu Mahoni dengan luas sekitar 44 hektare serta menjadi tempat tinggal hewan-hewan liar seperti monyet, ayam hutan, dan ular yang dimana keberadaannya tidak boleh diganggu. Bukan hanya itu, bahkan kita dilarang untuk memberi makan pada hewan-hewan yang berkeliaran karena khawatir akan terus diikuti.

Tempat ini memang biasa digunakan sebagai lokasi untuk berkemah karena cuaca alamnya yang sangat mendukung. Meski di sana terdapat situs pemakaman sejarah dan beberapa warung tapi suasananya benar-benar seperti sedang berada di tengah hutan yang lebat, sangat tenang dan jauh dari kebisingan kota.

Setibanya di bukit, kami langsung menurunkan barang bawaan dan mendirikan tenda yang akan digunakan untuk ngecamp semalam di sana. Suami yang mendirikan tenda sedangkan saya kebagian tugas mencari kayu kering yang akan dipakai untuk memasak dan sebagai alat penerangan saat malam nanti.

Sebenarnya saya sedikit takut saat berada di hutan, takut kalau-kalau bertemu dengan hewan buas. Apalagi di kawasan Hutan Kayu Mahoni di Bukit Geger ini terdapat semak belukar tempat ular pecut yang warna hijau panjang, ular viper hijau, ular bandotan puspa (ular tanah warna hitam), ular python, serta aneka ragam binatang berbisa semacam kala jengking, ketonggeng atau lipan.

Deretan Pohon Kayu Mahoni yang Dilindungi Negara


Di puncak pepohonan, juga sering dijumpai beberapa burung hantu, gagak, elang laut, rajawali laut, serta aneka ragam spesies burung lainnya.Benar-benar masih alami dan dilindungi oleh negara. Hutan di Bukit Geger ini merupakan salah satu kekayaan negara yang memang harus dilindungi dan jangan sampai rusak.

Setelah tenda berdiri dan kayu bakar sudah terkumpul, kami pun memutuskan untuk berjalan berkeliling sebentar menyusuri jalan setapak yang sudah di semen. Selama berkeliling, kami menjumpai kawanan induk monyet yang sedang membawa anaknya. Ada yang melompat dari satu pohon kayu Mahoni ke pohon lainnya.

Kalau masih sore begini, biasanya masih ada wisatawan yang datang untuk sekadar menikmati indahnya hutan maupun yang datang untuk wisata sejarah. Namun, semua berubah saat malam datang. Para wisatawan dan penduduk yang biasa mencari kayu mulai pergi meninggalkan hutan.

Semakin malam langit semakin gelap, waktunya untuk menghidupkan penerangan dengan membakar kayu kering yang sudah saya kumpulkan tadi. Udara dingin hutan mulai menyapa tubuh dan mulai terdengar bunyi binatang bersahut-sahutan. Hampir tidak ada fasilitas yang bisa kami temuka di sana hanya ada satu toilet umum saja.

Saat tinggal di hutan, itu artinya kami siap menyatu dengan alam tentunya dengan tidak menganggu apapun yang ada di dalam hutan. Karena kami sadar bahwa hutan merupakan investasi alam yang sangat penting, hutanlah yang menyeimbangkan segala elemen kehidupan kita di bumi yang kita tinggali ini.

Pemandangan dari Atas Anak Tangga 


Fakta-Fakta Membanggakan Tentang Hutan di Indonesia


Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan hutan terluas di dunia dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Hutan Indonesia merupakan #HutanKitaSultan yang menduduki urutan ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis dan sumbangan dari hutan hujan (rain forest) Kalimantan dan Papua.

Menurut data Forest Watch Indonesia (FWI), sebuah lembaga independen pemantau hutan Indonesia, sejumlah 82 hektare luas daratan Indonesia masih tertutup hutan. Jelas, hal ini merupakan satu prestasi #IndonesiaBikinBangga mengingat hutan merupakan salah satu pendukung yang sangat penting bagi keseimbangan alam.

Hutan tropis di Indonesia menyimpan banyak potensi energi mikrobiologi yang sangat diperlukan dunia. Senior Advisor for Terresterial Policy, The Nature Conservancy, Wahjudi Wardoyo mengatakan energi mikrobiologi sebagai generasi kedua dan ketiga sumber energi di dunia. Dimana energi mikrobiologi hanya dapat ditemukan di hutan hujan tropis dan keanekaragaman hayati.

Desain by Canva


Sebagai warga negara Indonesia tentu kita bangga dengan fakta-fakta yang dimiliki oleh hutan di negeri ini. Namun, nyatanya masih banyak orang yang tergiur dan tergoda dengan hasil kekayaan hutan yang dieksploitasi secara besar-besaran. Tergiur dengan penawaran harga yang tinggi dengan menebang kayu hutan, dan kemudian hutan pun gundul.

Padahal sudah jelas nyatanya kalau kita ini hidup membutuhkan hutan. Ini terbukti karena belakangan ini rata-rata 3 - 5 hektar hutan per menit hilang akibat penebangan ilegal dan pengalihgunaan lahan. Kementerian Kehutanan menyebutkan hutan di Indonesia yang tersisa dalam kondisi bagus (primer) tinggal 64 juta hektar.

Jika luas hutan Indonesia terus menyusut, maka ke depan Indonesia bisa tidak memiliki hutan lagi. Salah satu artikel di www.hutanindonesia.com mengangkat berita "1 Juta Hektare Hutan di Jambi lenyap dalam 10 tahun". Apa penyebabnya? Penyebabnya karena adanya alih fungsi hutan secara besar-besaran yang diakibatkan konsesi perusahaan skala besar.

Tidak tanggung-tanggung, hutan seluas 1 juta hektare bisa lenyap begitu saja akibat pertambangan, perkebunan sawit dan karet yang dilakukan secara besar-besaran dengan menggunduli hutan. Mengerikan? Jelas, sangat mengerikan. Coba bayangkan bagaimana jadinya Indonesia apabila semua hutannya digunduli? Bisakah hidup tanpa hutan?

Bagaimana Jika Kita Hidup Tanpa Hutan?


Bumi diciptakan sudah sepaket dengan keseimbangan alam di dalamnya, dan itu yang bisa kita dapatkan dengan adanya hutan yang dijaga. Lalu bagaimana bila hutan tidak ada? Rasanya mustahil terlebih hutan merupakan paru-paru dunia, pada hutanlah sebenarnya hidup manusia ditentukan.

Tanpa adanya hutan, maka persediaan oksigen juga tidak akan ada, kalau oksigen tidak ada lalu bagaimana caranya kita bisa bernafas untuk hidup? Hutan yang memegang peranan besar dalam melindungi bumi kita dari bahaya pemanasan global akibat sinar matahari. Apa jadinya bumi kita tanpa hutan? Terbakar.

Desain by Canva


Apa jadinya tumbuhan dan hewan-hewan hidup tanpa hutan? Padahal hutan satu-satunya tempat paling tepat untuk mereka tinggal dan menjalani kehidupan. Saat hujan turun, pepohonan yang ada di dalam hutanlah yang menyerap air untuk disimpan. Bukankah kita sebagai manusia juga sangat membutuhkan air?

Masih banyak sekali hal buruk yang akan terjadi bila hutan sudah tidak ada lagi. Seharusnya ada kesadaran,ada tindakan dan ada kepatuhan agar kelestarian hutan bisa dijaga. Kita tidak mungkin hidup tenteram dan damai tanpa hutan. Hutan yang sebenarnya selama ini menolong manusia dalam menjalani hidupnya.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan untuk Menjaga Hutan di Indonesia?


Sebenarnya melakukan upaya penyelamatan hutan bukanlah hal yang besar dan sulit #TeamUpforImpact. Langkah terkecil yang bisa dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat adalah dengan memulai menjaga dari hal-hal yang menjadi kebiasaan kita sehari-harinya, seperti:

  • Melakukan penghijauan di sekitar rumah
  • Mengurangi limbah non organik harian
  • Memakai sepeda dan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor
  • Bijak menggunakan kertas dan tisu
  • Mendukung gerakan lingkungan dengan menjadi relawan atau memberikan donasi

Ya, menjaga hutan memang tidak sesulit yang dibayangkan. Hal kecil yang kita lakukan bisa melindungi hutan di Indonesia dari kerusakan. Bahkan saat sedang duduk bersantai pun kita bisa mengambil tindakan untuk melindungi hutan. Caranya mudah, coba dengarkan lagu Dengar Alam Bernyanyi di platform musik seperti di Spotify, dan Apple Music.

Karena semakin banyak yang mendengarkan lagu tersebut maka akan semakin banyak royalti yang digunakan untuk perlindungan hutan di Indonesia. Dengan begitu kita sudah bisa melakukan donasi untuk pengadaan konservasi dan restorasi hutan hujan tropis yang ada di Indonesia.



Selain itu, donasi dan sebagian royalti Dengar Alam Bernyanyi ciptaan Laleilmanino akan diberikan kepada Sekolah Adat Arus Kualan di Simpang Hulu dan Simpang Dua, Kalimantan Barat. Digerakkan oleh sejumlah orang muda setempat, kegiatan pendidikan di sekolah tersebut berbasis budaya dan kearifan lokal.

Lagu Dengar Alam Bernyanyi sendiri merupakan karya dari tiga komposer yakni Laleilmanino Arya Aditya Ramadhya alias Lale, Ilman Ibrahim, dan Anindyo Baskoro alias Nino. Lagunya enak didengarkan selain itu setiap lirik yang ada di dalamnya juga sarat makna dan menyimpan pesan besar.

Bila kau jaga aku, ku jaga kau kembali
Berhentilah mengeluh ingat kau yang pegang kendali
Kau yang mampu obati
Sudi kah kau kembali?

Lirik bait kedua dari lagu Dengar Alam Bernyanyi tersebut seolah-olah menjadi suara dari alam yang mengingatkan manusia untuk menjaganya. Pada bagian ini, Laleilmanino seperti sedang mencoba mengingatkan kita bahwa jika manusia menjaga kelestarian alam, alam pun akan terus menjaga manusia dengan memberikan tempat yang nyaman untuk hidup.

Manusia juga menjadi makhluk yang telah dipercayakan oleh Sang Pencipta untuk memegang kendali akan pelestarian alam. Oleh karena itu, sudah seharusnya manusia berhenti mengeluh dan memulai aksi nyatanya untuk peduli #UntukmuBumiku. Kalau bukan kita yang lakukan lalu siapa lagi? Pada akhirnya kitalah yang merasakan semua kebaikan yang diberikan Sang Pencipta melalui hutan.

Saya jadi sadar kalau kegiatan ngecamp semalam yang kami lakukan di tengah hutan di Bukit Geger kemarin mengingatkan bahwa apapun kondisi yang terjadi bukan cuma sesuatu untuk dikeluhkan. Ini pertanda bahwa alam ingin mengajak kita ngobrol, dan bergerak untuk melakukan sesuatu supaya tidak terus-terusan seperti ini.

Kalau kamu gimana? Sudah siap mengambil bagian untuk bergerak melindungi hutan? Semoga dengan semakin banyak dan semakin sering lagu #DengarAlamBernyanyi diputar oleh banyak orang, maka akan semakin banyak pula yang tergerak dan tersadar bahwa kita nggak bisa lho selalu diam saja, dan kayak gini terus kan?

Video Klip Dengar Alam Bernyanyi



Sumber tulisan :

https://ultimagz.com/hiburan/musik/laleilmanino-rilis-dengar-alam-bernyanyi/
https://www.antaranews.com/berita/2635733/upaya-sederhana-menyelamatkan-hutan-dan-lingkungan
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/12/bagaimana-hutan-indonesia-sebagai-paru-paru-dunia-di-masa-depan
https://www.pulaumadura.com/2016/07/obyek-wisata-bukit-geger-di-kabupaten-bangkalan.html
https://www.youtube.com/watch?v=lmKBZ8Wo6Ds
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Kadang saya bersyukur karena bisa tinggal di daerah kecil yang masih bisa dibilang nggak terlalu padat penduduk apalagi bangunan gedung-gedung yang tinggi. Saya tinggal di Madura tepatnya di Kabupaten Bangkalan yang populasi penduduknya nggak sepadat bila dibadingkan dengan kota besar.

Saya jarang sekali bertemu dengan polusi, kemacetan, asap yang berlebih terutama dari cerobong pipa pabrik, dan semua hal yang membuat bumi menjadi semakin panas untuk ditinggali. Steriotip kebanyakan orang adalah Madura itu panas tapi fakta yang saya rasakan panas nggak sebanding dengan kota sebelah.

Saya masih bisa menghirup udara segar, apalagi kalau sedang bepergian ke desa-desa masih banyak sekali tumbuhan dan pepohonan yang sangat rindang serta nyaman dipandang mata. Keadaan ini tentu berbanding terbalik dengan daerah perkotaan yang tentunya kita semua sudah tahu.

Di perayaan Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April ini kita semua diingatkan betapa kondisi bumi yang kita tinggali sedang nggak baik-baik saja. Bumi saja rasanya semakin panas, kan? Bahkan, banyak es di kutub yang sudah mencair. Nah, masalah-masalah yang bisa berdampak buruk ke bumi inilah yang kemudian melahirkan Earth Day atau Hari Bumi Sedunia.



Apa yang Terjadi Dengan Bumi Kita Saat Ini?


Teman-teman, suka kepikiran nggak sih atau bertanya-tanya sendiri tentang kenapa sih kita mesti peduli dengan bumi? Kenapa harus ada Hari Bumi? Memangnya, ada apa sama bumi yang jadi tempat tinggal kita sekarang? Jadi, bumi kita sekarang ini lagi mengalami yang namanya perubahan iklim.

Kalau teman-teman pernah mendengar bagaimana es di kutub mulai mencair, naiknya air ke permukaan laut, hingga bumi yang terasa semakin panas, itu merupakan dampak dari adanya perubahan iklim ini. Atau mungkin cuaca yang semakin nggak menentu, pagi dan siang matahari terik banget terus malamnya hujan deras begitu pula sebaliknya.

Ambil contoh pada fenomena bertambahnya air laut yang disebabkan oleh es di Antartika yang terus mencair. Ibaratnya nih, kalau kita lagi minum es teh terus esnya mulai mencair, volume air di dalam es teh yang kita minum tadi bakalan bertambah sedikit, kan? Nah, ini juga yang terjadi sama bumi sekarang.

Saat terjadi pemanasan global di mana suhu bumi terus meningkat kita pasti malas keluar rumah pas siang hari karena panasnya yang terik dan rasanya kayak menembus ke dalam kulit, kan? Tapi, sebenarnya kita tahu nggak seberapa panas suhu bumi kita sekarang? Jangan dibayangin sama suhu tubuh kalau lagi demam ya, beda jauh.

Terus, apa yang kira-kira bakalan terjadi kalau bumi kita semakin panas lagi? Oke, saya bakal ajak kalian berandai-andai merujuk dari informasi yang saya dapet dari website NASA, ya. Menurut NASA, kalau pemanasan global ini sudah mencapai angka 2°C, maka bakal ada lebih dari 70% garis pantai yang mengalami kenaikan ke permukaan laut setinggi 0,66 kaki (0,2 meter).

Kalau sampai hal ini terjadi, banjir bakal mulai menyelimuti bumi di mana-mana. Selain banjir, bakal terjadi erosi pantai, salinisasi pasokan air, serta dampak lain pada manusia dan sistem ekologi. Waduh, dampaknya semengerikan ini ya. Terus kira-kira apa yang bisa kita lakukan dalam menjaga bumi ini?



Cara Menjaga Bumi Bisa Dimulai dari Rumah


Tanpa kita sadari sebenarnya kita berkontribusi pada 'Menyelamatkan Bumi', sekilas memang terdengar sangat berat, padahal kita bisa menjaganya dengan melakukan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Nggak sulit untuk merawat bumi kita yang besar ini, kita cuma perlu memulai dari rumah saja untuk melestarikan bumi.

  • Jangan membuang sampah sembarangan
  • Kurangi penggunaan barang berbahan dasar plastik
  • Menghidupkan penghijaun, seperti menambah jumlah tanaman di rumah
  • Menghemat penggunaan air
  • Menghemat penggunaan listrik di rumah

Bicara soal menghemat penggunaan listrik di zaman serba listrik seperti sekarang memang menjadi  tantangan sendiri. Terutama bagi generasi muda yang nggak bisa lepas dari gadget yang dipakai sehari-hari, kalau satu orang bisa menggunakan lebih dari satu gadget, lalu kira-kira berapa banyak yang kebutuhan listrik di bumi ini?

Dari sini sadar nggak sih kalau selama ini kita nggak terlepas dari penggunaan listrik yang sumber energinya berasal dari bumi, dan jumlahnya semakin terbatas. Sebenarnya ada sumber energi listrik lain yang lebih efisien, bersih dan hemat dibanding sumber bumi. Pembangkit listrik tersebut bertenaga surya atau biasa disebut Panel Surya (Solar Panel).

Jangan Ragu Beralih ke Solar Panel untuk Selamatkan Bumi Kita


Matahari selalu menyinari tiada henti setiap hari, wajar bila dikatakan bahwa energi ini akan tetap ada sepanjang masa. Sayangnya pemanfaatan solar panel di Indonesia belum se-masif dan se-efektif negara luar, padahal melihat potensinya, Indonesia berada di garis katulistiwa yang menerima sinar matahari dalam jumlah yang banyak.

Energi yang dihasilkan oleh matahari tentu lebih ramah lingkungan, cara kerjanya juga efisien dengan mengubah cahaya surya menjadi sel fotovoltaik dan dikonversi menjadi listrik.Hal ini membuat tenaga surya menjadi tren teknologi kekinian yang banyak dilirik oleh para pemerhati lingkungan dan kaum hemat. Lantas apalagi alasan lain untuk kamu beralih ke solar panel?

Berikut Alasan Kamu Harus Beralih ke Solar Panel, Sekarang!

Hemat Tagihan Listrik

Dimasa pandemi seperti ini membuat kita lama berdiam diri di rumah, terlebih jika kamu seperti saya yang merupakan pekerja WFH. Kebayang kan berapa banyak biaya yang harus kita keluarin untuk tagihan listrik saja?. Dengan bantuan solar panel, kita akan terhindar dari tingginya tagihan listrik dan bisa menghemat pengeluaran itu untuk kebutuhan lain.

Meningkatkan Keamanan Jaringan

Kebayang nggak saat kita lagi fokus mengejar deadline kerjaan kemudian terjadi pemadaman listrik, pasti risih banget kan rasanya. saya pernah mengalaminya, saat sibuk menyelesaikan deadline artikel ternyata mati listrik. Rasanya mau marah tapi mau marah sama siapa? Tapi gimana kerjaan mesti selesai hari tiu juga.



Nah, di saat inilah terasa banget fungsi lain dari Panel Surya yang sebagai pembangkit listrik kecil dengan dilengkapi baterai back-up atau disebut sistem Off-Grid. Sehingga para pengguna Solar Panel akan lebih merasa aman mengetahui rumah mereka memiliki cadangan listrik di kondisi krisis.

Investasi yang Menguntungkan

Panel surya terbukti bukan teknologi yang boros menjadikannya sebagai salah satu cara Investasi terbaik. Dalam beberapa tahun awal setelah pemasangan, beban pembelian akan terlunasi dan kita tinggal menikmati Profit dari penghematan energi. Beberapa studi juga telah membuktikan banyak yang tertarik beralih ke solar panel karena terbukti lebih irit sehingga menaikkan nilai investasi.

Hal ini yang saya dapatkan dari acara Blogger Gathering bersama Utomo SolaRuv beberapa hari yang lalu. Penggunaan Solar Panel menjadi pilihan banyak orang dalam mendukung kelestarian lingkungan. Telerbih lagi keunggulan Solar Panel yang dapat menghemat hingga 40% pengeluaran listrikmu.

Dalam kesempatan tersebut Mbak Diah dari Utomo SolaRuv memaparkan fakta bahwa Indonesia harus memenuhi komitmen mengurangi emisi karbon sebesar 29% - 41% pada tahun 2030. Porsi energi terbarukan dalam pembangkit listrik akan naik dua kali lipat menjadi 23% pada tahun 2025. Pada tahun 2030, target tersebut meningkat hingga 31%.

Mbak Diah dari Utomo SolaRuv memberikan penjelasan mengenai PLTS Atap


Melimpahnya sinar matahari sepanjang tahun di Indonesia, ditambah lagi biaya PLTS yang rendah dan terus turun, maka mendapatkan listrik 100% dari energi terbarukan sangat memungkinkan untuk tercapai pada tahun 2050. Namun, pemerintah perlu menetapkan kebijakan yang menarik bagi pelanggan dan penyedia listrik untuk mendorong pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Utomo SolaRuv Solusi Hemat Listrik Menggunakan Solar Panel


Teman-teman pernah dengar tentang Solar Rooftop? Ya, saat ini setiap mahkota rumah dan bangunan memiliki potensi untuk memiliki pembangkit listrik pribadi. Selain nggak memerlukan baterai atau penyimpan energi, sekarang kita juga bisa menikmati penghematan dari PLN dan memberi efek pendingin di atap rumah yang kita tempati.

Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya terbukti bisa mengurangi penggunaan listrik pada rumah maupun bangunan, memberikan image yang ramah lingkungan ke perusahaan, serta mengurangi noise maupun penggunaan pendingin ruangan karena juga berfungsi sebagai insulator alami.

Utomo SolaRUV adalah merek dagang dari PT Utomo Juragan Atap Surya Indonesia yang merupakan bagian dari Utomodeck Group, perusahaan spesialis yang menyediakan solusi atap untuk bangunan dengan lebih dari 40 tahun pengalaman di Indonesia. Utomo SolaRUV menyediakan energi terbarukan solusi berdasarkan BIPV (Building Integrated Photo-Voltaic) yang fleksibel dan bisa digunakan pada berbagai desain bangunan yang akan dibuat.



Didukung oleh produsen komponen skala global, Sungrow dan LONGi, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap teknologi dari Utomo SolaRUV menyediakan pendampingan sistem solar panel berkualitas dan berSNI 540 wp memastikan instalasi surya atap memiliki kinerja yang tahan lama.

Ternyata saat kita memasang atap PLTS kita bisa dapat insentif SEF. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana menjelaskan sebanyak US$ 8 juta atau setara Rp 114,4 miliar disiapkan untuk memberikan insentif kepada 1.300 pelanggan PT PLN (Persero) yang berminat untuk memasang PLTS Atap.

Wah, sudah bisa kehitung berapa biaya yang bisa kita hemat untuk sekadar bayar listrik per bulannya? Rasanya bahagia banget saat kebutuhan listrik di rumah maupun bangunan yang kita miliki bisa terpebuhi tanpa harus kipikiran dengan biaya tarif perbulannya. Dalam rangka menyelamat bumi, sudah terpikirkan untuk beralih menggunakan solar panel atau PLTS Atap?

Selamat Hari Bumi Sedunia 2022
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Halo, apa kabar teman-teman?. Bagaimana keadaan teman-teman setelah beberapa bulan harus stay di rumah supaya terhindar dari Covid-19 ini?. Semoga kita semua bisa selalu survive ya. Saat ini kita sudah masuk dalam fase New Normal dimana masyarakat terus menggerakkan roda perekonomian dengan kembali bekerja seperti sediakala namun dalam kondisi dan peraturan yang berbeda.

Protokol kesehatan seperti rajin cuci tangan, menggunakan masker dengan tepat dan menjaga jarak harus kita patuhi dalam fase New Normal. Karena rupanya covid-19 masih belum mau pergi bahkan informasi terbaru dari gugus satgas Covid pusat memberitakan kalau pasien positif sudah mencapai angka 1000 lebih, itu artinya covid 19 bukanlah ancaman yang main-main.

Saat musim kemarau tiba ancaman terbaru dari covid-19 sepertinya akan semakin meningkat. Memasuki musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan menjadi bencana tahunan negeri ini. Kondisi menjadi semakin horor dengan adanya karhutla di masa pandemi Virus Corona.


Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan di Tengah Pandemi


Musim kemarau pada 2020 selain akan memunculkan ancaman kebakaran, juga memiliki dampak lanjutan langsung berupa meningkatnya risiko penularan Covid-19 pada masyarakat di sekitar wilayah kebakaran lahan dan hutan. Pasalnya asap karhutla yang pekat akan memperburuk kondisi paru-paru.

Sementara diketahui saat ini covid-19 juga menyerang sistem pernapasan. Lantas, bagaimana menghadapi ancaman asap dan karhutla ini sebagai langkah mitigasi pada masa pandemi?. Upaya-upaya antisipasi harus segera pemerintah dan pihak terkait lakukan untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan asap di tengah pandemi saat ini.

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti Podcasts yang diadakan oleh Kantor Berita Radio (KBR) dengan narasumber Kasubdit Pencegahan Karhutla-Direktorat PKHL, Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK, Anis Aliati dan Guru Besar Perlindungan Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, Prof Bambang Hero Saharjo.

Menurut Prof Bambang di Riau saja pada tanggal 1 Januari kemarin sudah ada yang terbakar. Jadi tidak perlu menunggu sampai benar-benar kemarau untuk melakukan penanganan, karena tanggal 26 April pun di Rupat sudah ada kebakaran juga. Jadi, jangan berpikir karena covid-19, orang berhenti membakar, tidak.

Karhutla Berpotensi Memperburuk Kondisi Pasien Covid-19


Dalam rangka mengantisipasi bencana tahunan karhutla tahun ini, daerah yang rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan harus bersiap. Sebab karhutla berpotensi menyebabkan kondisi pasien covid-19 bisa semakin memburuk. Sebab, dampak karhutla yang bisa menimbulkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akan memperburuk kondisi pasien covid-19 dan menyebabkan tingkat kematian yang meningkat.

Demi mencegah meningkatnya tingkat kematian yang disebabkan oleh karhutla di tengah pandemi covid-19 masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam rumah dan terus menjalankan protokol kesehatan. Di tengah kondisi seperti ini pemakaian masker berjenis N95 yang mampu menghalau asap karhutla dibutuhkan.

Namun sayangnya penggunaan masker jenis N95 dan masker medis diprioritaskan untuk tenaga kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Oleh sebab itu penting adanya upaya pencegahan dini dari masyarakat sendiri, tentu selain upaya antisipasi karhutla yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait.

Source : CNN Indonesia

Dalam kondisi seperti ini peran masyarakat dirasa bisa membantu terutama pada daerah rawan karhutla. Patroli terpadu juga sudah dijalankan di beberapa wilayah yang rawan terjadi karhutla seperti di Sumatera dan Kalimantan. Tim patroli terpadu juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai upaya pencegahan penyebaran covid-19.

Bersamaan dengan patroli petugas di lapangan melakukan sosialisasi pencegahan Covid-19. Pengecekan titik panas, penegakan hukum karhutla, dan teknologi modifikasi cuaca (TMC) juga terus dilakukan.

Maksud kegiatan patroli terpadu pencegahan kebakaran hutan dan lahan adalah mensinergikan para pihak untuk melakukan pemantauan di tingkat tapak terutama di desa-desa rawan karhutla. Terlebih strategi pengendalian karhutla mengalami perubahan dengan memprioritaskan segala upaya pencegahan dan pemadaman secara dini.

Upaya Antisipasi Karhutla di Tengah Pandemi


Untuk antisipasi, sejak Maret lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menyurati para kepala daerah, swasta dan pemangku kawasan untuk mewaspadai karhutla. Upaya pencegahan karhutla di masa pandemi ini, tetap berjalan dengan meningkatkan partisipasi aktif dari berbagai pihak.

Upaya antisipasi karhutla tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan covid-19 selama pandemi. Tim teknologi modifikasi cuaca (TMC) juga sudah memulai menggelar operasi untuk menghasilkan hujan buatan di Riau dan Jambi selama 15 hari di bulan Mei. Tujuannya, membasahi lahan gambut yang mulai mengering dan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Untuk itu, dalam pelaksanaan TMC, BPPT mengacu pada data ketinggian muka air gambut dari KLHK dan Badan Restorasi Gambut. Dengan adanya hujan buatan diharapkan bisa menaikkan level air gambut pada kesatuan hidrologi gambut yang ada di Riau dan Jambi. Sehingga ketika gambut basah menjelang puncak kemarau tidak rawan karhutla.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, secara umum Pulau Sumatera, terutama di Riau, sebagian Sumatera Utara dan Jambi, sudah memasuki musim kemarau. Puncaknya, Agustus-September di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.

Upaya antisipasi lain yang dilakukan yakni pelaksanaan patroli pencegahan karhutla selain melalui pengawasan lapangan dan sosialisasi juga mengutamakan pemadaman secara dini, sedangkan untuk wilayah remote area diupayakan pemadaman melalui udara. Persiapan pelaksanaan TMC pada awal bulan Mei berkoordinasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), BMKG, dan TNI.


Segala upaya antisipasi pencegahan karhutla sudah dan terus dilakukan oleh semua pihak terkait mulai dari tingkat masyarakat sampai pemerintah. Sedih rasanya mengetahui beban masyarakat yang tingal di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan menjadi double di tengah pandemi covid-19 ini.

Karhutla yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya saja sudah banyak memberikan dampak buruk bagi semua pihak terutama masyarakat apalagi di tengah pandemi ini. Sinergitas dari semua pihak dalam menekan tingkat kebakaran hutan dan lahan sangat diperlukan. Jadi penyelesaiannya harus spesifik, dan lokal.

Rasanya tidak mungkin teman-teman atau pemerintah pusat di Jakarta itu bisa mengatakan dengan satu solusi saja. Fokus pemerintah juga akan terpencah dalam menangani karhutla, sedang pencegahan dan penanggulangan covid-19, akan berdampak pula pada penanganan kebakaran hutan karena ada imbauan pembatasan sosial skala besar (PSBB).

Dengan terus melakukan pencegahan karhutla di daerah-daerah rawan kebakaran hutan dan lahan agar penduduk di daerah tersebut tidak mengalami gangguan kesehatan. Terlebih bagi masyarakat dengan gangguan kesehatan paru rentan terkena Virus Corona yang juga rentan mengalami kematian.

Harapan saya semoga dengan semua upaya antisipasi yang sedang dilakukan saat ini bisa menekan tingkat terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kita semua berada di satu perahu yang sama, di masa pandemi covid-19 dan bencana tahunan karhutla yang mengancam keselamatan masyarakat.

Optimis, bersama kita selamatkan hutan dan udara.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.


Sumber Tulisan :

- www.mongabay.co.id
- www.beritasatu.com
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Pencarian

About me

About Me

Halo, perkenalkan saya Riska, seorang istri dan ibu dari satu putra. Suka menulis tentang hal apa saja khususnya yang saya pahami. Selengkapnya

Follow Us

  • facebook
  • instagram
  • twitter

Labels

Kecantikan Kesehatan Keuangan Opini Parenting Pengalaman REVIEW Sponsored Post wisata

recent posts

Komunitas

About Me

Blog Archive

  • ►  2015 (39)
    • ►  Juni (9)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  September (3)
    • ►  Oktober (12)
    • ►  November (10)
  • ►  2016 (84)
    • ►  Januari (8)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Maret (4)
    • ►  April (1)
    • ►  Mei (6)
    • ►  Juni (20)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  September (1)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  November (3)
    • ►  Desember (10)
  • ►  2017 (68)
    • ►  Januari (6)
    • ►  Maret (4)
    • ►  April (5)
    • ►  Mei (13)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  September (2)
    • ►  Oktober (8)
    • ►  November (5)
    • ►  Desember (10)
  • ►  2018 (102)
    • ►  Januari (6)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Maret (11)
    • ►  April (12)
    • ►  Mei (11)
    • ►  Juni (7)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  September (11)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  November (12)
    • ►  Desember (8)
  • ►  2019 (71)
    • ►  Januari (4)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Mei (6)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  September (6)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  November (2)
    • ►  Desember (4)
  • ►  2020 (41)
    • ►  Januari (4)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Maret (2)
    • ►  April (5)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  September (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Desember (6)
  • ►  2021 (67)
    • ►  Januari (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  April (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Juni (7)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  September (5)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  November (4)
    • ►  Desember (8)
  • ►  2022 (67)
    • ►  Januari (4)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Maret (6)
    • ►  April (11)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Juni (7)
    • ►  Juli (9)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  November (4)
    • ►  Desember (6)
  • ►  2023 (43)
    • ►  Januari (3)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Desember (7)
  • ►  2024 (29)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  November (5)
    • ►  Desember (3)
  • ▼  2025 (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Mei (2)
    • ▼  Agustus (1)
      • Cara Praktis dan Aman dari Gangguan Spam Call

Created with by BeautyTemplates