facebook instagram twitter

Riska Ngilan

  • Home
  • About
  • Kategori
    • Pengalaman
    • Sponsored Post
    • Perempuan
  • Disclosure
Sore itu bersama suami dan anak, saya berkunjung ke rumah salah satu kerabat suami yakni mbak dari bapak mertua. Kami memanggil beliau dengan sapaan ebuh Ti’, lagi-lagi ebuh adalah bahasa Madura yang berarti ibu tapi bahasa ini lebih halus bila dibandingkan dengan sebutan ebok. Sebenarnya sudah lama kami kepengen main untuk silaturahmi namun baru bisa main beberapa hari yang lalu.

Baca Juga : Kenapa Harus Ebok?

Nggak jauh berbeda dengan acara silaturahmi pada biasanya, kali ini kami silaturahmi untuk lebih mengenalkan Mirza dengan sesepuhnya. Safari keluarga, begitulah kami menyebut acara silaturahmi sore itu karena rencananya bukan hanya rumah ebuh Ti’ saja yang akan kami kunjungi tapi juga beberapa rumah keluarga terutama sesepuh.

Orang bilang kalau silaturahmi itu bisa memperpanjang umur, membuat tubuh menjadi lebih sehat dan bisa lapang rezekinya. Jadi, sangat baik kalau kita sering-sering bersilaturahmi, selain itu juga hubungan dengan orang yang kita kunjungi akan semakin erat. Nah, pada tulisan kali ini saya mau cerita kejadian yang cukup bikin saya bingung namun ternyata ilmu baru bagi saya.


Menjaga Perasaan Orang Itu Penting Lho!


Sekitar pukul 4 sore kami bertiga tiba di rumah ebuh, sambil mengetok pintu mas juga mengucapkan salam. Sepertinya ebuh sedang ada di dalam karena pintu rumah dalam keadaan terbuka. Oh iya, ebuh tinggal berdua bersama satu orang putranya namanya Mas Yono. Dengan kondisi beliau yang sudah sepuh dan kadang suka sakit-sakitan beliau masih sangat bersemangat dalam beribadah dan Alhamdulillah belum pikun.

Sebenarnya saya agak kurang PD yang mau main ke rumah ebuh, rasanya masih malu gitu. Bagi saya yang baru kenal beliau dalam 1,5 tahun terakhir ini, ebuh sosok orang tua yang baik, sabar, bijaksana, ceria dan masih terlihat cantik di usianya yang sudah lebih dari 70 tahun lho. Selain itu memang saya masih suka grogi kalau diajak main ke ruamh keluarga besar suami dari bapak mertua.

Takut nggak sopan, takut salah tingkah, takut salah berucap, dsbnya. Pada postingan sebelumnya saya pernah cerita bagaimana cara saya beradpatasi dengan keluarga suami yang masih keturunan ningrat. Bukan bermaksud sombong maupun jumawa tapi memang betul kalau main atau silaturahmi ke keluarga ningrat harus sangat tahu sopan santun dan bagi saya yang suka blak-blakan harus belajar lebih peka lagi pada sekitar.

Baca Juga : Cerita Pengalaman Beradaptasi Dengan Keluarga Ningrat

Singkat cerita saat kami sedang duduk di ruang tamu keluarga, ebuh menyuguhkan dua gelas minuman untuk kami berdua. Ternyata dua gelas kopi susu yang notabenenya saya nggak suka dengan kopi dan kebetulan memang nggak boleh minum kopi karena masih masa menyusui. Untungnya mas langsung tahu kalau saya nggak bisa meminumnya.

Saya pun bingung, mau diminum tapi nggak boleh kalau nggak diminum kerasa nggak sopan banget ya. Lalu tiba-tiba mas memandang ke arah wajah saya yang mungkin sudah terlihat kebingungan saat disuruh meminum kopi susu tersebut. Dengan sigap mas langsung bilang begini :

“Buh, gheduen aeng pote? (Bu, ada air putih?)..”.

“Oh, bedhe Yan. Dentek yeh (Oh, ada Yan. Sebentar ya) *sambil menyuruh Mas Yono mengambilkan air putih di belakang..”.

“Enggi nekah, icha lok bisa ngenom kopi kabheter se kinni’ pas lok bisa tedung malem pas kauleh se aronda pole, hahaha. (Iya ini, Icha nggak bisa minum kopi khawatir yang kecil nggak bisa tidur nanti pas saya yang ronda lagi, hahaha)..”.

“Hahaha, iyeh lakar nesser legghik se kinni’ ye. La Cha lok usah eyenom kopinnah. (Hahaha, iya memang kasihan yang kecil. Ya udah Cha nggak usah diminum kopinya)..”.

“Wes, jhek ngenom be’eh male engkok bein. Ebekkelen bhik engkok reh, hahaha. (udah, jangan minum kamu biar aku yang wakilin minumnya, hahaha)..”.

Saya hafal betul gaya mas saat mencoba mencairkan suasana dan nggak mau bikin hati orang lain terluka perasaannya. Mas selalu mengajarkan pada saya untuk pintar menjaga hati orang lain terutama hati kita sendiri (jangan mudah sakit hati katanya). Meskipun terdengar sepele tapi kejadian kemarin bagi saya sungguh merupakan ilmu baru bagaimana menjaga perasaan orang lain terutama orang tua yang sudah sepuh.

Apalagi jaman sekarang banyak anak muda yang sudah nggak tahu lagi cara bersikap di hadapan Mejhedi’ (sesepuh dalam bahasa Madura) bahkan mungkin saja orang tua sekarang nggak sempat mengajarkan tata krama pada anak-anaknya. *NgacaSendiri* Padahal pendidikan moral dan ahlak itu penting banget , bisa dimulai dari hal sepele kok.

Saya jadi membayangkan betapa kakunya saya yang dulu ini, kurang bergaul, kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan bahkan mungkin kurang respect. Tuh kan betul, kalau suami dikirim ke saya untuk memperbaiki diri saya, mengajarkan banyal hal terutama tentang hidup dan mengeluarkan semua hal terbaik dalam diri saya.

Betul ya, kalau versi terbaik dari seorang istri itu bisa keluar dari suami yang bijak. Ah, makasi banget ya Mas sudah super telaten mendidik istrimu ini. Nah, selain perlu belajar menjaga perasaan orang lain. Sebaliknya, kita pun penting untuk membentengi hati kita agar nggak mudah baperan. Jangan sampai cuma dengar perkataan selentingan saja langsung tersinggung, langsung mendoakan orang lain yang menyakiti hati kita agar masuk neraka, hahaha.

Ya udah, segini saja dulu tulisannya jangan lebih panjang lagi takut bosan yang baca ya, hahaha.

Salam Sayang,
Ebok dan Mirza.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Bagi saya hidup merupakan sebuah perjalanan panjang yang dibagi dalam beberapa masa yang menyenangkan dan masa dimana hati serasa diperas-peras. Sekarang saya sedang berasa di masa yang begitu penuh tanggung jawab, penuh rasa bahagia sekaligus tidak sedikit juga rasa khawatir. Menjadi ibu memang berbagai macam rasanya, semua rasa sepertinya ada di dalam hati seorang ibu.

Rasa bahagia, rasa sedih, rasa lelah, rasa marah, rasa bosan, dan semua rasa-rasa lainnya yang mungkin tidak bisa digantikan dengan hal lainnya. Semua bercampur aduk menjadi satu seakan menjadi sebuah bom waktu yang bisa dikendalikan namun bisa saja meledak sewaktu-waktu. Memang tidak mudah, oleh karenanya saya membebaskan diri saya dari hal-hal yang sepatutnya tidak saya lakukan apalagi saya pikirkan.


Mom Wars, ya pada postingan sebelumnya saya sempat membahas tentang masalah ibu-ibu yang satu ini. Tapi seperti yang pernah saya tulis dalam sebuah status di Facebook kalau sebuah tulisan itu pada akhirnya akan menemukan pembuktiannya. Itu artinya saya tidak boleh cuma bisa menulis tapi ya harus praktek juga, Go Action gitu, Cha!.

Baca Juga : Stop Mom Wars! Kita Ini Ibu Bukan Monster

Cara Saya Menghindari The Mommy Wars


Sungguh, saya bisa merasakan betapa nggak enaknya dijadikan bahan perbandingan ataupun terlibat dalam sebuah perdebatan ibu-ibu yang ujung-ujungnya nggak ada hasilnya. Tapi bagaimana pun dan sekuat apapun saya mencoba menghindar dari Mom Wars tersebut tetap saja saya akan bersinggungan juga.

Seperti sebuah tantangan tersendiri untuk nggak lagi terlibat dalam perdebatan dan pembully-an yang topiknya itu-itu saja. Saya mau jadi ibu yang selalu bahagia setidaknya berusaha untuk bisa selalu bahagia di hadapan anak dan suami. Saya nggak mau ambil pusing dengan hal-hal yang nggak seharusnya saya pusingkan.

Kalau ditanya bagaimana cara saya menghindar dari Mom Wars itu ya begini ini.

1. Berdamai Dengan Diri Sendiri

Penerimaan diri sendiri dengan sebaik mungkin adalah hal terpenting bagi setiap ibu-ibu, ini menurut saya lho. Menerima kalau memang sebagai ibu kita pasti punya kekurangan dan keterbatasan yang nggak bisa dilupakan. Karena memang punya kekurangan ya sudah terima saja dan berdamai dengan kekurangan tersebut tanpa harus merasa minder.

2. Nggak Mudah Terbawa Perasaan

Kalau jaman masih perawan dan saat teman bulanan tiba biasanya kita kerap nggak bisa mengontrol diri dan perasaan. Nah, sejak menjadi ibu saya berusaha untuk mengontrol hal tersebut sebisa mungkin ya. seringkali moms war yang terjadi diakibatkan oleh para ibu yang terlalu terbawa perasaan mereka saat menyerap informasi yang diperoleh.

Semisal saja dengan adanya statement bernada sindiran dan pemahaman akan informasi yang setengah-setengah yang akhirnya menjadi pemicu perselisihan di antara para ibu. Dengan adanya keterbukaan hati, pikiran, dan juga kelapangan dada agar dapat memahami persoalan dan kondisi pihak lain secara keseluruhan dengan sudut pandang yang objektif. Jadi, jangan mudah terbawa perasaan ya, tetap kontrol.

3. Selalu Percaya Diri

Ternyata rasa percaya diri ini nggak cuma dibutuhkan saat saya masih remaja dulu, tapi sekarang setelah memiliki anak saya harus selalu percaya diri. Percaya diri yang saya maksud disini adalah lebih kepada sikap yakin dan juga konsekuen atas pilihan yang telah diambil. Hal ini penting terutama saat kita mendisiplinkan anak.

Jangan sampai kita yang jadi galau dengan aturan yang ditetapkan, karena hal ini hanya akan membingungkan anak. Saat saya sudah memutuskan untuk memilih prinsip yang digunakan dalam pengasuhan Mirza kelak maka saya harus yakin bisa menjalankannya dengan baik dan tentunya dilakukan dengan melibatkan pertimbangan suami juga.

4. Menghargai Setiap Pilihan Ibu-Ibu Lainnya

Saya selalu percaya dengan prinsip bahwa kalau kita ingin dihargai oleh orang lain maka terlebih dulu kita harus menghargai orang tersebut (pilihannya). Kadang dengan alasan ingin memberi tahu atau berbagi pengalaman tanpa sengaja kita kerap memaksakan pendapat kita dan menyamakan pengalaman kita dengan ibu lainnya padahal hal yang seperti itu jatuhnya justru seperti pemaksaan.

5. Terus Belajar

Sebagai ibu muda sekaligus ibu baru saya sadar kok kalau harus terus banyak belajar terutama dalam merawat anak. Menyiapkan mental yang kuat dan menjadikan diri kita sebagai gelas kosong yang siap menampung segala ilmu yang akan berguna untuk menunaikan tanggung jawab kita sebagai sosok ibu yang jempolan dan mampu menyaring segala informasi dengan baik.

6. Menghindar Dari Mom Wars

Cara terakhir adalah ya saya sebisa mungkin menghindar dari Mom Wars, biasanya kalau ada ramai-ramai tentang status yang membicarakan sesuatu yang berujung “Perang” saya langsung sigap menghidar. Saya selalu katakan dalam hati kalau setiap ibu itu punya keadaan masing-masing, yang nggak bisa diselesaikan lewat debat-debat seperti ini.

Biarlah, meskipun harus dibilang banyak diam yang penting dalam diam itu saya mencoba untuk terus belajar dan memahami setiap keadaan yang saya lalui bersama Mirza. Sebenarnya tulisan ini juga terlahir karena saya seperti mendapat sebuah teguran kalau seharusnya saya lebih fokus pada anak bukannya fokus mendebat sana sini.

Perjalanan saya sebagai seorang ibu baru saja dimulai, saya tahu kalau di depan sana aka nada ujian yang ditemui. Sebab itulah saya mau lebih fokus pada “Action saya” merawat, mendidik dan membesarkan Mirza saja. Setiap melihat cara ibu-ibu lain dalam membesarkan anaknya saya berusaha untuk selalu mendukung.

Dukungan inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh ibu-ibu. Ya sudah, tulisannya juga mulai kemana-mana ya, hahaha. Jangan lupa selalu bahagiakan dirimu ya, Bu dan nggak perlu ikut-ikutan Mom Wars.

Salam Sayang,
dari Ebok Mirza.
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Di awal masa kehamilan Mirza dulu rasanya hati ini nggak berhenti bahagia dan bersyukur. Dari terlalu bahagianya sampai-sampai saya udah semangat banget buat cari nama, stalking perlengkapan bayi di Instagram maupun e-commerce dan yang paling bikin antusias itu waktu bingung mau dipanggil apa nanti kalau bayinya sudah lahir?.

Belum juga lahiran tapi rasanya kalau dipanggil ibu itu bikin hati meleleh karena bahagia. Saya sudah yakin banget kalau panggilan yang cocok untuk saya nantinya adalah “Ibu”. Saya suka dipanggil dengan panggilan tersebut kesannya itu Indonesia banget dan sederhana. Saya sendiri malahan memanggil ibu saya dengan panggilan Mama.

Sampai akhirnya iseng-iseng saya menanyakan hal yang sama kepada suami,

“Mas, kalau anak kita lahir nanti mas mau dipanggil dengan sebutan apa?..”.

“Bapak!..”

“Kok bapak sih? Kan kesannya mas jadi tua banget. Ganti ayah aja!..”

“Kenapa? Kamu malu ya? Oh iya, anak kita nanti panggil Ebok aja ya ke kamu..”.

“Ebok?..”


Kenapa Harus Ebok?


Sama sekali nggak pernah terlintas dalam pikiran saya kalau akhirnya nanti saya akan dipanggil Ebok. Ebok sendiri adalah sebutan untuk panggilan seorang ibu dalam bahasa Madura, ya kami berdua memang asli orang Madura. Jujur ya, bagi saya pribadi awalnya panggilan Ebok itu terdengar kuno banget dan bikin nggak PD ngucapinnya, hahaha.

Sampai akhirnya suami maksa banget supaya saya mau dipanggil dengan sebutan Ebok. Baiklah, saya ikuti saja meskipun rasanya nggak banget. Terus dari saat itulah saya membiasakan diri dengan panggilan Ebok sambil memperkenalkan diri sama Mirza yang waktu itu masih ada di dalam perut. Awalnya sih kerasa kaku lha wong saya maunya dipanggil Ibu bukan Ebok.

Lalu satu waktu saya sempat stalking akun Instagramnya Andien dan ternyata artis sekelas Andien juga dipanggil Ebok. Saya sempat mikir, “Kok bisa dipanggil Ebok ya? Andien orang Madura juga kah?..”. Ya sudahlah, semakin saya PD dengan panggilan Ebok itu meskipun masih malu-malu. Malu? Iya saya sempat malu padahal harusnya saya kan nggak malu soalnya panggilan Ebok ini ciri khas orang Madura.

Jadi dulu itu saya nggak bisa bicara pakai bahasa Madura padahal sekeliling saya orang Madura semua dan setiap harinya saya berinteraksi dengan mereka. Sedihnya lagi waktu itu saya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, rasanya cuek saja toh memang saya nggak bisa bahasa Madura. Sampai akhirnya saya berkenalan dengan suami dan cerita pun mulai berubah.

Punya Pacar Orang Madura Asli, Jadinya Belajar Bahasa Madura


Jujur kalau ingat awal pacaran sama suami dulu saya kepengen ketawa ngakak, karena keluarga besar suami orang Madura asli jadi mau nggak mau harus bisa bicara pakai bahasa Madura. Apalagi waktu pertama kali diajak main ke rumah orang tua suami, ya ampun malunya banget banget bangeeet. Rasanya kurang sopan kalau sama orang tua bicara pakai bahasa Indonesia, harusnya ya pakai bahasa Madura bahkan bahasa halusnya.

Baca Juga : Cerita Pengalaman Beradaptasi Dengan Keluarga Ningrat

Sejak itulah saya gigih belajar bahasa Madura apalagi keluarga suami masih keturunan ningrat, bahasa yang dipakai ya bahasa Madura terutama ke keluarga yang lebih tua bahasanya halus banget dan sangat sopan. Akhirnya saya bilang ke mama kalau saya pengen bisa bahasa Madura, mendengar hal tersebut mama pun tertawa dan bilang “Kok baru sekarang yang mau belajar?..”. *duh malunya

Nggak perlu waktu lama bagi saya untuk bisa fasih berbicara menggunakan bahasa Madura juga bahasa yang lebih halus. Saya pun mulai membiasakan berbicara Madura dengan para tetangga dan mereka semua sempat kaget karena mendadak saya bisa berbicara menggunakan bahasa Madura. Dari situlah mulai timbul perasaan cinta Madura dan nggak lagi malu dengan semua yang berbau Madura.

Sampai akhirnya saya beneran yakin dipanggil dengan sebutan Ebok, mengingat jaman sekarang panggilan tersebut sudah hampir punah. Entah kenapa alasannya? Terutama di kalangan ibu-ibu muda rata-rata panggilannya bukan Ebok melainkan mama, bunda, ibu dsbnya. Ya sudah saya semakin yakin dengan panggilan Ebok sekalian melestarikan bahasa Madura juga.

“Kok manggil Ebok Bapak? Kedengarannya tua banget..”. Itu kalimat yang sering saya dengar dari orang-orang saat mereka tahu kalau Mirza punya Bapak Ebok bukan ayah bunda atau papa mama. Suka sedih sih kenapa justru orang Madura malu dengan sebutan tersebut?. Malahan saya dan suami sudah pernah diskusi kalau besar nanti Mirza harus bisa bahasa Madura dengan baik dan benar.

Sebagai anak Madura asli dia harus melestarikan budayanya, seperti saat ini sejak kecil dia dibiasakan untuk memanggil kami berdua dengan panggilan Bapak Ebok. Mungkin kelak saat dia besar nanti akan bertanya kenapa panggilan untuk kedua orang tuanya terasa asing dan berbeda dengan teman-teman sebayanya?.

Memang terdengar sangat idealis tapi nggak apa-apa, hidup ini harus ada aturannya. Kita harus punya prinsip yang harus dijunjung sampai mati supaya kita tahu betapa berharganya diri kita ini. Kadang saya suka nyesel kenapa nggak dari dulu saya bisa bicara bahasa Madura yang benar?. Jadi, kenapa harus Ebok? Karena kami memang orang Madura.

Salam Sayang,
dari Eboknya Mirza.
Share
Tweet
Pin
Share
18 komentar
Dasarnya di jaman milenial ini, terdapat beberapa lapangan pekerjaan yang baru dan bisa dilakukan oleh siapapun. Baik dari semuda anak sekolah dasar sampai lansia umur 90 tahun, bisa memulai bisnisnya di dunia online dengan mudah. Di bidang kreatif, semua punya banyak kesempatan untuk masuk dan dengan kebebasanya itu, bisa membantu kita untuk menemukan ciri khas yang bisa kita jual sendiri. Selera tiap orang berbeda-beda, begitu juga dengan selera seni dan desain.

Selalu ada celah dimana para pekerja estetis bisa masuk. Maka, jangan khawatir apabila teman-teman ingin membuka suatu usaha kreatif, karena pasti ada pasarnya yang suka. Terdapat beberapa tahap utama yang bisa kalian lakukan untuk memulai bisnis. Hal yang pertama kita lakukan bisa dari mengetahui apa yang dijual, tetapi mempersiapkan alatnya dulu juga bisa sangat membantu. Seperti siapkan rekening bank khusus untuk bisnis, dengan membuat rekening maka akan ada obligasi khusus, atau kewajiban sendiri untuk mengisi rekening itu dengan hasil usahamu.

Cukup ke bank, daftarkan atas nama perusahaanmu, dan teman-teman akan mendapatkan rekening bisnis yang siap menjadi rekening transaksi utama dalam pekerjaanmu. Selanjutnya adalah, setelah memiliki akun bisnis, maka akan lebih baik apabila kalian juga memiliki akun pembayaran online. Internet adalah dunia yang luas yang bisa menyambungkan kita dengan pembeli di ujung dunia lain.


Siapa tau ada yang menyukai produkmu di ujung Antartika sana? Rejeki bisa dari mana saja, dan internet juga ada dimana saja. Mempunyai akun pembayaran online yaitu membuka pintu agar dunia internasional bisa bertransaksi denganmu. Karena bank lokal memiliki prosedur yang sulit untuk bertransaksi antar negara, maka bisa dibantu dengan akun pembayaran online, seperti Paypal, Skrill, Atau Vimundo.

Memulai Usaha Kreatif di Bidang Jasa dan Produk Online


Walaupun mempunyai rekening bank dan mempunyai akun pembayaran online bisa membantumu dalam memulai usaha. Usaha pasti selalu butuh modal, baik dari promosi ataupun membuat karya kreatifmu. Maka akan butuh dana tambahan dalam membangun usah. teman-teman bisa cek ke Monily.id agar usahamu berkembang. Website tersebut adalah bantuan kredit usaha kecil tanpa agunan, yang cocok untuk siapapun yang butuh pinjaman dengan mudah dan online.

Sebelum teman-teman memulai suatu usaha kreatif, kalian harus tahu potensi dan bakat kreatifmu, apakah itu mengajar, membuat desain dari klien, atau hobi membuat produk yang unik-unik. Dalam industri kreatif, ada dua pelaku didalamnya, baik itu jasa ataupun pembuat produk. Para pelaku kreatif yang menawarkan jasa umumnya

Tips Membangun Usaha Dibidang Jasa


A. Bangun Portofolio Online

Untuk para pelaku jasa, maka kebanyakan menampilkan hasil kreatif mengikuti keinginan dari klien. Tetapi klien banyak yang tidak tau apa yang bisa dibuat apabila kalian tidak mempunyai karya contoh. Portofolio online adalah salah satu cara termudah di jaman serba online ini agar klien bisa melihat kemampuan dan seleramu, bisakah sesuai dengan klien ataupun bisa dioper ke orang lain yang citra selera seni nya bisa sama.

Contoh Portofolio Online (Webpraktis.com)

Portofolio online seperti Instagram, ataupun Tumblr, dan BeHance, adalah portal sederhana agar karya teman-teman bisa dilihat tanpa klien perlu masuk ke website. Jangan lupa untuk selalu siapkan email dan no telpon agar bisa dihubungi klien kapan saja.

B. Buat Akun Linked In

Mungkin sepele dan terlihat tidak penting untuk para pekerja kreatif. Karena yang terpenting dari pekerja kreatif adalah hasil bekerjanya bukan lagi dari sekolah mana ataupun akridetasi mana yang unggul. Selama kalian punya selera maka karya kalian bisa terjual dengan baik pula.

Tetapi jangan dianggap remeh kekuatan relasi. Linked in adalah website untuk para pekerja professional dengan perusahaan besar, dengan memiliki linked in, maka dengan membuka diri agar perusahaan besar bisa mengintip sepak terjang kalian. Kemungkinan untuk direkrut untuk projek ataupun desain untuk perusahaan nya sangatlah mungkin. Selain itu teman-teman juga bisa mencari tahu orang-orang yang bisa bekerja sama dengan projekmu juga tanpa perlu relasi keluarga ataupun alumni.

C. Update Kegiatan di Sosial Media

Baik dari path, facebook, atapun Instagram, update kegiatan akan menunjukan keaktifan teman-teman dalam berkarya dan seringnya kalian menerima pekerjaan. Dengan demikian relasi lama kalian juga bisa mengetahui perkembanganmu dan kemungkinan untuk mendapat pekerjaan bisa lebih mudah. Apabila kalian lebih enjoy dengan hobi mendesain tanpa ingin orang lain mendikte, maka kalian juga bisa update karya kalian dan kegiatanya dengan cara Vlog atau tutorial online.

Netz.id
Dengan demikian orang lain bisa belajar dan melihat cara bekerja kalian, bahkan support secara finansial untuk skill yang teman-teman miliki. Salah satu website yang mendukung untuk hal ini adalah PatreOn, dimana kalian bisa berkarya tanpa demand klien, tetapi tetap didukung oleh siapapun fans kalian .

D. Kejar Pelangganmu

Banyak yang dilupakan para pekerja kreatif adalah mencari klien juga. Baik itu dari portal online ataupun promo di sosial media dan dunia nyata. Mengejar pelanggan bisa juga mengikuti trend-trend dunia yang ada. Apabila dalam budaya pop sedang populer Batman, maka ikutilah trend itu dengan karya seputar Batman. Karena trend akan selalu muncul di pencarian utama, maka kemungkinan agar tersandung pelanggan juga besar.

Memiliki demand bisa juga membantu mendengar apa yang pasar sukai. Walaupun kalian bisa memiliki fans nya sendiri, tetapi sekali-sekali mengikuti trend bisa membuat teman-teman berkembang lebih cepat dalam memperkenalkan brand kalian dan mencari pelanggan dari mana saja.

Tips Jualan Produk Online


A. Siapkan produk yang ingin dijual

Para pekerja kreatif mungkin membutuhkan dana untuk membuat produk-produknya. Maka diperlukan bantuan pinjam dana tunai cepat tanpa jaminan, agar produk kalian bisa diproduksi dengan lancar. Caranya mudah, teman-teman tinggal akses Monily.id dan ikuti langkah-langkahnya agar usahamu berjalan lancar tanpa hambatan uang.

B. Siapkan Akun Sosial Media untuk Usahamu

Jangan gunakan akun pribadi yang penuh dengan foto keluarga atau anak-anak dalam berjualan. Karena akan membuat distraksi bagi pelanggan yang ingin melihat barang daganganmu. Cari tampilan yang menyenangkan agar pelanggan senang dengan daganganmu. Karena daganganmu akan tampil lebih enak dimata dan terlihat profesional apabila dihias daripada hanya difoto ala kadarnya tanpa layout yang mendukung.

C. Pajang produkmu di berbagai E-Commerce

E-Commerce di Indonesia bisa daftar melalui Tokopedia, Olx, Ataupun BukaLapak. Sementara yang spesifik secara international bisa dari E-bay atau Etsy. Toko Etsy adalah toko online yang bisa dicustom penampilanya. Para pelanggan bisa membeli dari Etsy, namun pengiriminya bisa dari kalian sendiri. Fokus dari etsy adalah untuk siapapun pekerja kreatif yang fokus pada barang-barang buatan tangan, atau kerajinan daerah dan penualan kembali barang-barang vintage.

Poster seni juga bisa dijual dengan muda di Etsy. Tetapi Etsy tidak menerima barang yang dijual secara masal, karena bisa kehilangan harga seni dan otentisitasnya. Tokopedia, OLX, BukaLapak dan E-bay membantu untuk menjual barang kalian secara masal. Tetapi dengan melihat stok yang banyak di hitungan avaibilitas produk, akan membuat barang kalian menjadi tidak eksklusif. Karena seni dan desain adalah menjual orisinalitas daripada fungsional saja.

D. Jual di event-event

Menjual di event-event produk kreatif akan membuatmu menemui pelangganmu. Karena mereka bisa langsung melihat produkmu dan bisa memegang dan merasakan dengan lebih efisien. Selain itu kualitas produk kalian juga terjamin karena bisa dipajang secara wujud dan nyata. Dan masukan dari pelanggan bisa kalian dengar sendiri.

Terakhir adalah, untuk pekerja kreatif tidak akan selalu cepat dalam membangun brand-nya, karena saingan yang banyak, dan selera yang tidak seragam membuat ciri khas yang kalian miliki gampang dilupakan apabila kalian tidak mau berkembang sendiri dan selalu berusaha untuk tampil eksis.
Share
Tweet
Pin
Share
7 komentar
Tanpa terasa saat ini kita semua sedang menikmati hari-hari terakhir di tahun 2017. Selesai menidurkan Mirza saya pun bisa kembali menikmati waktu sendiri di depan layar laptop sambil menikmati dinginnya malam karena hujan yang turun. Cuaca yang tidak menentu kerap menjadi alasan kenapa tubuh saya mudah terserang flu dan demam.

Ditambah lagi mengurus suami, anak dan rumah benar-benar membutuhkan tenaga yang extra, serta kondisi tubuh yang selalu fit. Sambil menikmati dinginya cuaca malam ini, saya teringat untuk menulis beberapa target yang ingin saya capai di tahun 2018 nanti. Atau bahasa yang lebih kerennya kita kenal dengan Resolusi.

Berbeda dengan tahun lalu, kali ini saya memberanikan diri untuk menulis resolusi yang saya tetapkan di penghujung tahun ini. Bisa dibilang ada semacam perasaan aneh saat menuliskan tulisan ini, tapi demi bisa mewujudkan beberapa hal yang memang harus saya capai maka saya menuliskannya. Sama sekali tidak ada keinginan untuk sombong, lagi pula apa yang bisa saya sombongkan? Hahaha.


Pentingkah Memiliki Resolusi?


Pertanyaan tersebut yang terus berulang dalam otak saya, seberapa pentingkah memiliki resolusi?. Ada yang berpendapat bahwa resolusi memang disusun sedemikian rupa bahkan dengan kaidah khusus agar kita memiliki tujuan yang jelas dalam hidup. Ada juga yang menganggap bahwa sebenarnya memiliki resolusi dalam hal hidup bukanlah hal yang penting.

Tidak ada salahnya mengevaluasi kembali bagaimana capaian hidup di tahun ini dan menyusun ulang strategi di masa depan. Tentukan target tahunan yang ingin dicapai, pecah menjadi target bulanan, lalu pecah lagi menjadi target mingguan bila perlu pecah lagi menjadi target harian, hahaha. Percayalah, semua soal kebiasaan, disiplin atau yang sering dikenal dengan istiqomah.


Tidak perlu membuat resolusi muluk-muluk yang langsung dilupakan bahkan di pekan pertama tahun baru. Saya mencoba mulai dari hal-hal kecil yang bisa diterapkan di keseharian tapi jangan lupakan juga mimpi yang harus tetap dipupuk. Bagi saya, saya akan memilih untuk mengevaluasi apa yang belum saya capai di tahun 2017 dan yang akan saya tambahkan pada tahun 2018.

Jadi, Apa Resolusi Saya di Tahun 2018?


1. Berdamai Dengan Masa Lalu

Di tahun 2017 ini saya diberi nikmat bahagia dan nikmat sedih yang luar biasa. Di tahun ini saya dipercaya menjadi seorang ibu dan di tahun ini pula saya harus menerima kenyataan pahit kalau ibu saya harus cuci darah setiap 2 kali dalam seminggu seumur hidupnya. Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya kalau beliau harus bergantung dengan alat cuci darah.

Ya, tidak mudah untuk bisa menerima keadaan tersebut. Tapi saya sadar bahwa cara terbaik untuk menghadapai suatu keadaan yang sulit adalah berdamai dengan keadaan sulit tersebut. Perlahan saya mulai bisa menerima semuanya, menjalani setiap prosesnya yang tentu tidaklah mudah. Namun masa-masa sulit kemarin sudah berhasil melatih saya menjadi lebih dewasa, lebih sabar dan lebih bijak dalam memandang hidup.

2. Memprioritaskan Hal-Hal Penting

Saya sadar kalau hidup yang diberikan oleh Tuhan harus dipertanggung jawabkan. Diberi keluarga yang utuh, suami yang baik, anak yang sehat, bapak ibu dan kedua mertua yang selalu ada untuk saya. Merekalah prioritas saya sekarang, saya ingin fokus dengan mereka semua terutama dengan anak dan suami.

3. Berbagi Lebih Banyak Lagi

Saya juga ingin berbagi pengalaman-pengalaman berharga lewat blog ini lebih banyak lagi. Saya akui, konsistensi saya dalam menulis masih jauh dari target yang saya tetapkan yaitu 4 kali seminggu. Saya pun lalai dalam mengelola email yang masuk sehingga banyak sekali email dan komentar yang tidak terjawab. Di tahun 2017, saya akan lebih cekatan lagi.


4. Menabung

Sebenarnya menabung adalah resolusi saya setiap tahunnya, saya ingin lebih disipilin lagi dalam menabung. Karena bagi saya menabung adalah cara terbaik untuk mengubah gaya hidup. Mulai rancang prioritas keseharian. Mungkin saya akan mengurangi jadwal nongkrong dan kongkow di restoran atau kafe mewah.

Mengendalikan hasrat berbelanja dan membiasakan membuat daftar belanja sebelum shopping. Apalagi saat ini sudah ada anak yang membutuhkan perawatan dengan biaya yang tidak sedikit. Pengeluaran setiap bulan untuk anak saja sudah cukup menguras isi dompet saya dan suami.

5. Menjalani Gaya Hidup Sehat

Sejak ibu menderita Gagal Ginjal yang mengharuskan beliau menjalani terapi cuci darah seminggu dua kali selama seumur hidup saya semakin sadar kalau sehat itu benar-benar berharga. Dengan tubuh yang sehat kita bisa bebas beraktivitas kapan saja. Tubuh yang sehat bisa kita dapat dengan menjalani gaya hidup yang sehat.

Seperti menjaga makanan yang kita konsumsi, rajin berolahraga minimal satu kali dalam seminggu, atur jadwal tidur meskipun harus rela kurang tidur karena anak yang masih bayi dan terkadang suka rewel. Jadi, tidak heran jika sejak ada anak saya mudah terserang penyakit, akibat kurang tidur dan kelelahan. Biasanya kalau sudah kelihatan lelah suami saya membelikan saya jus buah agar tubuh saya kembali segar.


Untuk mengimbanginya saya juga konsumsi vitamin, karena bagi seorang ibu seperti saya ini kalau sakit jangan lama-lama sebab ada anak yang masih bayi yang membutuhkan kehadiran saya di dekatnya. Soal multivitamin ini dari dulu saya dan suami selalu percaya dengan multivitamin dariTheragran-M.

Kenapa Memilih Theragran-M?


Ada banyak jenis vitamin yang ada diluar sana tapi kenapa kami berdua memilih Theragran-M?. Theragran-M merupakan vitamin yang bagus untuk Mempercepat Masa Penyembuhan. Tahun lalu suami saya menjalani operasi Ganglion di pergelangan tangan kanannya, meskipun bisa dibilang operasi kecil tapi suami saya ingin cepat kembali pulih.

Satu tablet sayur Theragran-M ini memenuhi semua nutrisi yang dibutuhkan selama pemulihan bekas luka pasca operasi, seperti Vitamin A, Vitamin C dan Zinc. Saya sendiri juga rutin mengkonsumsinya untuk membantu penyembuhan luka  bekas jahitan di perut pasca menjalani operasi sesar sekitar tiga bulan yang lalu. Alhamdulillah, saya pun bisa kembali pulih dalam waktu yang terbilang cepat.


Kamu Yakin Resolusimu Bisa Tercapai?


Seperti yang sudah saya katakan tadi kalau semua target yang telah disusun bisa tercapai dengan melakukan pembiasaan yang rutin. Karena biasa maka akan menjadi bisa, betul kan?. Lagi pula Insya Allah dengan niat yang baik, usaha yang kuat maka Tuhan pasti memberi kemudahan jalan. Jadi, tidak perlu terlalu dipusingkan yang penting jalani saya dengan sebaik mungkin.

Well, itulah lima resolusi sederhana saya di tahun 2018 nanti. Sebagai manusia menjadi sangat penting untuk memiliki pencapaian dalam hidupnya sebagai bentuk usaha menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Bagaimana dengan teman-teman? Apa resolusi yang ingin kalian capai di tahun 2018? Yuk, ditulis di kolom komentar ya!. Semoga, resolusi yang kita tulis bisa tercapai.
Share
Tweet
Pin
Share
15 komentar
Sejak mirza lahir ke dunia rasanya tidak ingin berpisah dengannya barang sebentar saja. Ya, perasaan ingin selalu dekat dengan anak seperti menjadi candu bagi saya yang baru mencicipi indahnya menjadi ibu. Memang benar kata orang-orang kalau menjadi ibu itu bahagianya tidak bisa terungkapkan dengan kata-kata.

Setiap detik, setiap menit dan setiap harinya cinta di dalam hati saya untuk Mirza semakin bertambah. Kami berdua semakin dekat tak terpisahkan terlebih lagi Mirza masih dalam proses ASI eksklusif. Menciptakan kedekatan atau bounding dengan anak sejak dia masih dalam kandungan adalah cara saya untuk mengungkapkan cinta.

Sadar bahwa untuk menjalin ikatan batin dengan bayi tidak hanya bisa dilakukan melalui proses menyusui saja, maka sebagai ibu saya harus memberikan perhatian serta kasih sayang setiap harinya. Seiring dengan bertambahnya usia Mirza maka kemampuannya untuk mengenali orang tuanya akan semakin meningkat. Oleh karena itu, pada masa-masa ini diperlukan pola pengasuhan yang mengutamakan kasih sayang sehingga membentuk sebuah ikatan yang baik antara saya dan Mirza.


Jalin Kedekatan Si Kecil Bentuk Ungkapan Cintaku Untuknya


Menurut literatur yang pernah saya baca diketahui bahwa ikatan batin yang baik akan berdampak positif terhadap perkembangan bayi. Hal ini karena bayi yang dekat dengan sang ibu akan merasa lebih nyaman sehingga energi yang dimiliki oleh bayi lebih banyak digunakan untuk proses pertumbuhan. Itu kenapa seorang ibu adalah dunia bagi seorang anak.

Berikut ini adalah kebiasaan kami berdua untuk menjalin dan meningkatkan ikatan batin satu sama lain

Menyusuinya

Pada saat sedang menyusui Mirza, saya bisa melakukan kontak mata dan memberikan tatapan yang penuh kasih sayang kepadanya. Hal ini akan meningkatkan ikatan batin saya dengan Mirza. Kontak mata sama halnya dengan saya mengajaknya untuk berkomunikasi sehingga Mirza akan merasa lebih nyaman dan aman ketika berada di pelukan saya.

Memberikan Sentuhan Lembut

Salah satu cara saya untuk menjalin hubungan batin dengan Mirza yakni membiasakan memberikan sentuhan lembut atau pijatan. Sentuhan yang saya lakukan selalu berhasil membuatnya lebih merasakan kehadiran saya di dekatnya. Pijatan tersebut bisa dilakukan ketika memandikan Mirza atau sebelum dia tidur.

Saya biasa melakukan pijatan pada semua area tubuhnya dengan menggunakan minyak bayi, sambil memijat saya juga sambil mengajaknya berbicara. Di usianya yang sudah masuk 3 bulan, Mirza sedang senang-senangnya ngoceh. Pijatan lembut akan membuat bayi merasa lebih tenang dan nyaman juga membuat tidur Mirza lebih berkualitas.

Memberinya Pelukan

Pelukan adalah salah satu cara untuk berkomunikasi dengan bayi. Pelukan juga bermakna kasih sayang dan kepedulian saya kepada Mirza yang membuatnya merasa lebih tenang. Tanpa disadari pelukan yang diberikan oleh seorang ibu akan berdampak positif terhadap psikologis bayi yang memberikan efek nyaman.

Tersenyum

Senyuman adalah salah satu bentuk ikatan batin antara ibu dan bayi. Dengan Mirza tersenyum itu menandakan kalau dia sedang bahagia bersama saya. Saya selalu memperhatikan ketika tersenyum biasanya Mirza akan mengikuti dan meniru ekspresi wajah saya. Oleh sebab itu saya bahagia sekali kalau mendapat senyuman dari Mirza.


Mengajaknya Bicara

Meskipun mungkin Mirza belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang saya bicarakan, namun tidak ada salahnya untuk mengajaknya bicara, bukan?. Iya, saya juga terbiasa membacakan buku cerita untuk menstimulus kemampuan berkomunikasinya. Saat saya sedang mengajaknya berbicara kemudian Mirza merespon ucapan saya dengan cara menggerakan kakinya atau mengeluarkan suara yang keras. Secara tidak langsung cara ini akan semakin mendekatkan ikatan batin kami berdua.

Respon Cepat

Ikatan batin akan semakin terbentuk apabila sebagai ibu cepat tanggap dengan semua kebutuhan bayinya. Respon cepat yang saya lakukan terhadap kebutuhannya akan membuatnya merasa lebih aman dan nyaman. Salah satu contohnya adalah saya harus cepat tanggap ketika bayi lapar atau merasa tidak nyaman akibat popok yang basah apalagi saat Mirza sedang demam.

Respon Cepat Saat Mirza Terserang Demam


Dalam hal cepat tanggap merespon kebutuhan bayi bukan berarti saya suka memanjakannya. Saya harus tetap memberikan batasan sehingga Mirza tidak merasa dimanjakan. Tapi kalau dia sudah demam saya harus respon cepat untuk menurunkan demam di tubuhnya. Biasanya Mirza demam sehabis mendapat imunisasi dari ibu bidan.

Bayi demam karena imunisasi memang bisa dibilang wajar tapi saya tidak tega melihat Mirza sakit. Sebagai ibu baru yang sedikit pengalaman mengatasi demam pada bayi akhirnya saya mulai cari tahu obat apa yang bisa saya berikan untuk Mirza dan aman untuk dia minum. Pemberian obat pada bayi memang tidak boleh sembarangan, sampai akhirnya salah seorang teman menyarankan untuk memberi Mirza Tempra.

Mengapa Memilih Tempra Syrup?


Dengan cepat saya langsung saja mencari tahu tentang obat yang satu ini. Ternyata Tempra sudah dipercaya sejak 50 tahun dan aman karena mengandung paracetamol. Tempra terdiri dari Tempra Drops untuk bayi di bawah 1 tahun, Tempra Syrup untuk anak 1-5 tahun, keduanya dalam bentuk sirup rasa anggur, dan Tempra Forte untuk anak 5-12 tahun dengan sirup rasa jeruk.

Tempra Drops bebas alkohol jadinya aman untuk saya berikan pada Mirza. Selain itu setiap 0,8 ml Tempra Drops mengandung 80 mg paracetamol. Tempra mengandung paracetamol yang bekerja sebagai anti piretika pada pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit. Hebatnya lagi tempra ini tidak membuat iritasi pada lambung, aman untuk lambung bayi.


Tempra juga memiliki dosis tepat yang tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis. Karena itu saya benar-benar berhati-hati memilih obat penurun panas untuk Mirza, obat dengan kelebihan dosis bisa mengakibatkan keracunan hati.

Untuk bayi berusia di bawah satu tahun tersedia Safty Dropper atau pipet di dalam kemasan tempra Drops. Sedangkan pada Tempra Forte tersedia gelas takar yang sesuai dengan dosis yang harus diberikan. Sirup Tempra juga tidak perlu dikocok karena sudah larut 100%. Cara menggunakan pipetnya juga mudah, isi pipet sampai garis yang dianjurkan.


Tidak perlu bingung jumlah yang dianjurkan akan diperoleh dengan menekan karet pipet satu kali dengan kuat, kemudian teteskan di lidah bayi. Demam pada tubuh Mirza berangsur turun dan dia kembali ceria lagi. Sejak itulah setiap Mirza demam sehabis imunisasi saya langsung memberinya Tempra Drops.

Well, pada intinya saya percaya bahwa menjalin kedekatan dengan si kecil merupakan bentuk ungkapan cinta seorang ibu. Perhatian yang diberikan semata-mata hanya untuk membuat bayi merasa nyaman sehingga ikatan batin akan terjalin dengan baik. Jadi, mulai sekarang yuk perhatikan kedekatan kita dengan si kecil.

Salam Sayang,
Dari Saya dan Si Kecil Mirza
Share
Tweet
Pin
Share
16 komentar
Belum pernah terpikirkan kalau menjadi seorang ibu itu bahagianya tiada tara, nggak bisa ditukar dengan apapun. Iya, itu yang saya rasakan sejak resmi menyandang gelar mulia ini menjadi ibu dari anak yang lucu plus ginuk-ginuk seperti Mirza. Tapi hidup memang selalu adil, ada bahagia pasti ada dukanya juga termasuk duka menjadi ibu.

Mungkin lebih tepatnya bukan duka tapi perasaan sedih apalagi menjadi ibu-ibu jaman sekarang tantangannya lebih berat. Dari awal pasca melahirkan saya sering sekali mendapatkan wejangan berupa nasehat bagaimana cara merawat bayi mulai dari A sampai Z dengan orang yang berbeda. Teman-teman bisa bayangkan beda orang beda nasehat, bikin kepala mumet dan bosan.

Menghadapi berbagai macam mitos dan pengalaman ibu-ibu yang berbeda berhasil membuat saya ruwet, pada awalnya. Sekarang gimana, Cha? Makin ruwet, hahaha. Mungkin maksud mereka semua baik tapi cara dan pemahaman mereka yang belum tentu benar. Saya suka antipati dengan seseorang kalau memberi nasehat pakai acara pemaksaan, kalau nggak dipaksa biasanya suka nyindir-nyidir.


Omongan Nggak Enak, Nggak Usah Didengerin!


Percayalah, menjadi ibu-ibu jaman sekarang nggak semudah yang kamu bayangkan lho!. Penuh drama, intrik, pro kontra dan Mom Wars-nya. Jadi harus extra cuek tapi tetap banyak baca cari tahu ilmu yang benar mengenai bayi dan perawatannya. Hal utama yang mesti kita perhatikan adalah kondisi setiap ibu dan bayi itu beda-beda, masing-masing dari mereka mempunyai tantangan yang berbeda dalam merawat bayinya.

Oleh sebab itu, nggak bisa kita asal ngejudge tanpa mau memahami keadaan yang sesungguhnya terjadi. Saya cukup sering jadi bahan “bully” saat merawat Mirza awalnya saya marah dan mellow tapi sejak suami bilang nggak usah didengarkan dan fokus sama Mirza jadinya saya mulai bisa cuek. Menjadi ibu itu sangat butuh dukungan moril dan materil bukan cuma menasehati dengan kata-kata pedas.

heardingchickens.wordpress.com

Terlebih lagi apabila sang ibu dalam masa menyusui bayinya, ASI ibu mampet kebanyakan karena ibunya nggak happy. Nah, ibu yang nggak bahagia ini bisa jadi karena banyak faktor salah satunya adalah kondisi lingkungan yang membuat sang ibu merasa tertekan. Harus gini, harus gitu, nggak boleh gini, nggak boleh gitu, capek tauk!.

Bu, lepaskan semua bebanmu! Nggak usah dengarkan omongan yang nggak enak dan fokus aja sama anak, banyak tanya sama ahlinya semisal dokter. Tugas kita sebagai ibu itu bukan satu atau dua biji aja tapi berbiji-biji. Kalau kitanya down karena omongan atau tekanan dari lingkungan gimana anak kita yang selalu butuh ibunya. Ingat ya, Mom Happy Baby Happy!.

Harus Punya Waktu Untuk Diri Sendiri Itu Penting Banget!


Sedikit mau cerita pengalaman pribadi beberapa saudara saya yang terlebih dulu menjadi seorang ibu. Demi bisa mendapatkan predikat ibu yang baik, nggak pernah sakit, nggak pernah capek, pokoknya ibu ideal versi mereka yang rela mengerjakan tugasnya seorang diri tapi ujung-ujungnya mereka stres sendiri. Iya, mereka itu maksa banget mau megang semua kebutuhan anak-anaknya padahal disekitarnya ada yang siap untuk membantu lho.

Teman-teman pernah dengar omongan seperti ini, “Aku Lho pegang anakku sendiri nggak pernah ngeluh dan nggak pernah minta bantuan suami..!”. Baiklah mungkin bagi sebagian dari ibu-ibu bisa menjadi wonder woman yang nggak butuh bantuan siapapun tapi masih banyak kok ibu-ibu lainnya yang sebenarnya sangat butuh bantuan dari orang sekitar seperti misalnya dari suaminya.

heardingchickens.wordpress.com

Saya sendiri nggak pernah sungkan atau malu minta bantuan suami untuk megang Mirza. Suami saya juga bisa diajak kerjasama, beliau selalu tahu saat istrinya sedang sibuk atau kelelahan. Biasanya suami saya langsung ambil alih mengurus si Mirza, beliau juga nggak keberatan dan happy-happy aja. Menjadi ibu itu bukan berarti kita melupakan hak tubuh kita, justru penting banget untuk memenuhi hak tubuh supaya tetap waras.

Ibu butuh bouncer beli aja!

Ibu butuh stroller beli aja!

Ibu butuh baby sister ya pakai aja!

Ibu butuh susu formula untuk anaknya ya kasih aja!

Ibu mau punya anak banyak, ya bikin aja terus! *eh gimana sih*

Saya percaya kalau yang tahu pasti kondisi si anak adalah ibunya sendiri. Jadi bu ibu, jangan lagi beratkan beban karena tugas kalian nggak main-main. Kalau semisal terbentur dana yang terbatas ya memang harus banyak bersabar dan cari pemasukan tambahan.

Seorang ibu yang merdeka yaitu paham benar siapa dirinya dan berani mengambil pilihan untuk kemudian memperjuangkannya tanpa pernah tergoda menilai buruk pilihan orang lain. Seorang ibu yang merdeka juga paham bahwa pilihan hidupnya dapat membuatnya bahagia tanpa pernah tergoda membandingkan kebahagiaan orang lain. Seorang ibu yang merdeka bahkan selalu punya keinginan besar ikut mendukung ibu lain dengan masing-masing pilihannya bahkan turut mendoakan kesuksesannya. -Sahabat Ummi-

Kalau sekiranya capek banget, lagi bad mood, atau pikiran mulai jenuh ibu boleh kok cari waktu untuk Me Time. Me Timenya juga nggak harus shopping kayak saya ya, hahaha. Me Time mungkin bisa melakukan hobi yang disenangi, nah setelah pikiran mulai fresh baru deh kembali pegang anak. Atau buat ibu-ibu yang mungkin sama sekali nggak ada waktu, coba kuatkan dzikirnya minimal selalu ingat Tuhan.

Jangan Sok Tahu Baru Juga Jadi Ibu!


Kalimat kayak gini ini yang suka bikin tanduk saya keluar, hahaha. Nggak lha, saya nggak mau mudah terpancing emosi sayang ASInya isinya ngamuk-ngamuk bukan nutrisi, hahaha. Saya sadar kalau saya ini ibu baru masih seumur butiran debu paling kecil. Saya menulis ini juga bukan berarti saya sok tahu tapi saya sudah mulai merasakan dilema menjadi ibu.

Paling tidak saya sering mendengar curahan hati para ibu-ibu saat merawat anaknya, dari sanalah saya banyak belajar dan nggak mau mengulangi kesalahan yang sama. Minimal saya meminimalisir untuk tidak melakukan perbuatan bodoh dari pengalaman ibu-ibu lainnya. Ya karena menjadi ibu itu nggak mudah sangat nggak mudah karenanya kurangi menilai buruk dan memberi stigma negatif pada seorang ibu.

heardingchickens.wordpress.com

Saya juga belajar untuk menghindar dari Mom Wars, saya nggak mau dzalim kepada sesama wanita karena ingin ego saya dimenangkan dengan cara menyakiti sesama wanita, sesama ibu. Tapi akhir-akhir ini saya akui pernah terlibat Mom Wars dengan ibu-ibu yang anti vaksin. Tapi sudahlah saya nggak mau bahas soal itu bisa merembet kemana-mana yang jelas saya ini ibu yang pro vaksin. *nah kan mulai*

Well, terakhir pesan dari saya si ibu baru yang sok tahu tapi memang banyak tahu. Lakukan apa saja yang menurut ibu baik dan anak kita butuhkan. Jaga diri baik-baik, tetap waras, tetap bahagia, banyak bersyukur dengan apapun yang kita miliki saat ini dan berhenti dari Mom Wars. Kalian ibu atau monster sih sukanya saling nyakitin ibu lainnya, hahaha.

Salam Sayang,
Dari saya dan Mirza.
Share
Tweet
Pin
Share
16 komentar
60 Tahun sukses berkiprah dan menjadi menjadi perusahaan besar dan kebanggaan nasional tak lepas dari keberhasilan manajemen mengimplementasikan "Catur Dharma", core values atau nilai-nilai dasar perusahaan yang ditetapkan William Soeryadjaya sebagai pendiri. Astra, sepanjang perjalanannya sejak tahun 1957 senantiasa mendedikasikan karyanya untuk kemajuan bangsa Indonesia, sejalan dengan salah satu butir Catur Dharma 'Menjadi Milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara'.

Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) merupakan langkah nyata dari Grup Astra untuk berperan aktif, serta memberikan kontribusi meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta dan karya terpadu untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia. Pada prinsipnya di mana pun instalasi Astra berada, harus memberikan manfaat.

Catur Dharma sebagai nilai dasar perusahaan masih tetap relevan. Manajemen Astra pernah berusaha menyusun core values baru. Setelah digodok nilai yang dirumuskan tetap sama dengan Catur Dharma. Manajemen akhirnya kian mengukuhkan Catur Dharma sebagai nilai dasar perusahaan.


Semangat 60 Tahun Astra Untuk Indonesia


Darma pertama dari Catur Dharma adalah menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kedua, memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Ketiga, menghargai individu dan membina kerjasama. Darma keempat, senantiasa mencapai yang terbaik. Filosofi Catur Dharma, kata Yakub, dielaborasi menjadi Astra Code of Conduct dan Astra System of Management. Kode etik dan sistem manajemen membuat Astra mampu menjalankan good corporate governance (GCG) dan corporate social responsibility (CSR) untuk ikut mewujudkan kesejahteraan bangsa.

Berkenaan dengan ulang tahun ke-60 yang jatuh pada 20 Februari, perusahaan mengadakan acara di lima kota selain Jakarta. Setelah Yogyakarta, Balilkpapan, dan Surabaya, kini Astra mengadakan acara Inspirasi 60 Tahun di Medan dan terakhir di Makassar. Selain bedah buku, ada talk show kewirausahaan dan "Satu Indonesia".

Berawal dari bisnis otomotif, Astra kini memiliki tujuh lini bisnis dan tujuh perusahaan terbuka.

Pertama adalah lini bisnis otomotif dengan memproduksi sejumlah merek mobil terkenal dunia, yakni Toyota, Daihatsu, Isuzu, BMW, dan Peugeot. Astra juga memproduksi sepeda motor merek Honda. Divisi otomotif juga mencakup produksi komponen di bawah PT Astra Otopart Tbk.

Kedua adalah divisi jasa keuangan. Divisi keuangan mencakup perbankan, asuransi, dan multifinance. Astra antara lain, memiliki PT Bank Permata Tbk, Astra Federal International Finance, dan Astra Sedaya.

Ketiga, divisi alat berat yang mencakup penambangan batu bara, kontraktor penambangan, dan energi, yakni PLTU di Tanjung Jati Jepara, kerja sama dengan Sumitomo.

Keempat, divisi agribisnis, antara lain PT Astra Argo Lestari.

Kelima, infrastruktur dan logistik.

Keenam, teknologi informasi (TI) dan document solution, serta ketujuh, properti. Di lini bisnis properti, Astra, antara lain membangun dan mengoperasikan Menara Astra dan Astra Modern Land. Lini bisnis otomotif masih mengontribusi 40 persen dari total pendapatan Astra. Namun, jika digabungkan dengan divisi alat berat dan divisi keuangan yang berkaitan dengan otomotif, kontribusinya mencapai 60 persen.

Untuk menyalurkan CSR, Astra kini memiliki sembilan yayasan. Grup Astra kini memiliki 213 perusahaan yang tersebar di tujuh lini bisnis dan menyerap tenaga kerja secara langsung hingga 215.000. Ditambah perusahaan komponen, pemasok bahan baku, dan penjual, jumlah tenaga kerja yang terserap di atas satu juta orang.

Dari 213 perusahaan Astra, tujuh di antaranya sudah menjadi perusahaan terbuka, yaitu PT Astra International Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Acset Indonusa Tbk (ACST), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Astra Graphia Tbk (ASGR), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dan PT Bank Permata Tbk (BNLI).
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Pencarian

About me

About Me

Halo, perkenalkan saya Riska, seorang istri dan ibu dari satu putra. Suka menulis tentang hal apa saja khususnya yang saya pahami. Selengkapnya

Follow Us

  • facebook
  • instagram
  • twitter

Labels

Kecantikan Kesehatan Keuangan Opini Parenting Pengalaman REVIEW Sponsored Post wisata

recent posts

Komunitas

About Me

Blog Archive

  • ►  2015 (39)
    • ►  Juni (9)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  September (3)
    • ►  Oktober (12)
    • ►  November (10)
  • ►  2016 (84)
    • ►  Januari (8)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Maret (4)
    • ►  April (1)
    • ►  Mei (6)
    • ►  Juni (20)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  September (1)
    • ►  Oktober (9)
    • ►  November (3)
    • ►  Desember (10)
  • ►  2017 (68)
    • ►  Januari (6)
    • ►  Maret (4)
    • ►  April (5)
    • ►  Mei (13)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  September (2)
    • ►  Oktober (8)
    • ►  November (5)
    • ►  Desember (10)
  • ►  2018 (102)
    • ►  Januari (6)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Maret (11)
    • ►  April (12)
    • ►  Mei (11)
    • ►  Juni (7)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Agustus (10)
    • ►  September (11)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  November (12)
    • ►  Desember (8)
  • ►  2019 (71)
    • ►  Januari (4)
    • ►  Februari (6)
    • ►  Maret (6)
    • ►  April (7)
    • ►  Mei (6)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  September (6)
    • ►  Oktober (13)
    • ►  November (2)
    • ►  Desember (4)
  • ►  2020 (41)
    • ►  Januari (4)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Maret (2)
    • ►  April (5)
    • ►  Mei (4)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  September (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  November (3)
    • ►  Desember (6)
  • ►  2021 (67)
    • ►  Januari (5)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Maret (2)
    • ►  April (8)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Juni (7)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  September (5)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  November (4)
    • ►  Desember (8)
  • ►  2022 (67)
    • ►  Januari (4)
    • ►  Februari (7)
    • ►  Maret (6)
    • ►  April (11)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Juni (7)
    • ►  Juli (9)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  September (4)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  November (4)
    • ►  Desember (6)
  • ►  2023 (43)
    • ►  Januari (3)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Maret (3)
    • ►  April (4)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  September (6)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Desember (7)
  • ►  2024 (29)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  November (5)
    • ►  Desember (3)
  • ▼  2025 (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Mei (2)
    • ▼  Agustus (1)
      • Cara Praktis dan Aman dari Gangguan Spam Call

Created with by BeautyTemplates