Kuretase dan Perasaan Bersalah

Hari minggu pagi itu menjadi hari yang paling bikin saya nangis histeris penuh dengan rasa bersalah dan mungkin sedikit saja rasa bahagia. Dua garis merah terang yang muncul di tes kehamilan saya lihat jelas dengan mata kepala sendiri sambil menahan tangan yang bergetar. “Duh, aku kok hamil lagi ya”, itu kalimat pertama yang saya ucapkan lirih dari dalam kamar mandi.

Perasaan tidak enak memang sudah saya rasakan sejak beberapa hari yang lalu, saya cemas karena tamu bulanan yang biasanya datang di pertengahan bulan tak kunjung datang. Sempat beberapa kali saya meminta tolong kepada suami untuk membelikan tes kehamilan karena saya merasa ada yang aneh dengan tubuh saya.

“Mas, aku belikan tes kehamilan ya. Aku kok nggak haid-haid ya, Mas?..”.

“Buat apa sih? Nggak nggak, kamu nggak akan hamil..”.

Suami selalu saja punya alasan setiap disuruh membeli tes kehamilan, sampai akhirnya saya gemas dan nekat pergi membeli sendiri. Suami selalu berkeyakinan kalau saya tidak mungkin hamil karena kami selalu rutin berhubungan berdasarkan “KB Kaleder” nyatanya bukannya malah aman tapi jadi kebobolan lagi. Sok-sokan sih kami berdua, hahaha.


Saat Perasaan Bersalah Itu Terus Saja Datang


Orang pertama yang saya kasih tahu tentang kehamilan kedua ini adalah mama, dalam keadaan panik dan kaget saya tidak tahu lagi harus bercerita ke siapa lagi selain kepada beliau, kebetulan pagi itu suami sedang ada di luar rumah. Awalnya saya pikir mama akan marah saat tahu kalau saya hamil lagi, namun ternyata respon beliau sangat bahagia mendengar kabar ini.

Dari saking bahagianya mama sampai spontan memberitahu semua keluarga besar kalau beliau akan punya cucu lagi. Ya maklum lah dulu mama sulit sekali memiliki keturunan, punya saya saja harus menunggu selama empat tahun. Membiarkan mama yang sedang berbahagia dengan kabar kehamilan ini saya pergi menuju kamar, melihat Mirza yang sedang tertidur pulas.

Baca Juga : Sebuah Catatan Untuk Menjadi Ibu yang Baik

Perlahan, saya dekati anak saya ini. Saya pandangi wajah polosnya, tiba-tiba air mata saya jatuh menetes karena sudah tidak kuat lagi untuk ditahan. Perasaan bersalah itu datang bertubi-tubi, saya terus menutup mulut saya sambil menangis agar Mirza tidak terbangun mendengar tangisan saya. Terus saja saya menyalahkan diri saya sendiri, saya sudah merampas hak Mirza. Ya itu yang saya rasakan waktu itu.

Di usia yang masih lima bulan Mirza harus bersiap berbagi kasih sayang dengan calon adiknya. Padahal setiap harinya Mirza selalu menerima kasih sayang dan perhatian penuh dari saya. Terlebih lagi saat ini Mirza masih dalam masa menyusui, saya sudah tega mengambil hak dia untuk mendapatkan ASI. Saya terus saja menangis dan meronta seakan saya ini ibu paling jahat sedunia, ya mental saya down.

Tidak lama kemudian suami datang, rupanya mama sudah memberi tahu suami tentang kehamilan ini sebelum dia masuk ke kamar. Dengan ekspresi wajah sangat santai suami saya cuma bilang, “Ya udah, terima saja disyukuri. Apa yang harus bikin kamu sampai nangis gitu?..”. Cuek, saya tidak memperdulikan ucapannya saya terus saja menangis sambil memegang tangan kecil Mirza.

Sadar bahwa saya mulai tidak bisa mengontrol emosi, pelan-pelan yang mencoba menenangkan diri. Saya tahu kalau menangis tidak akan pernah bisa mengubah keadaan yang sudah terjadi, tidak bisa juga membuat saya menjadi tidak hamil kan?. Saat itu saya terus dzikir untuk menenangkan hati sambil mencoba berdamai dengan diri sendiri yang terus saja meronta.

Berusaha ikhlas menerima kalau anak kedua kami akan segera datang, sebentar lagi Mirza masuk usia enam bulan itu artinya dia sudah bisa makan jadi tidak hanya minum ASI saja. Hingga akhirnya minggu malamnya emosi saya benar-benar meledak, saya hampir hilang kendali, malam itu kami berdua sempat sedikit adu mulut.

Obsgyn Meminta Untuk Dilakukan Tindakan Kuretase


Lalu diputuskan keesokan harinya suami meminta saya untuk periksa ke Obsgyn yang menangani persalinan pertama saya. Pagi sekali sekitar pukul enam saya diantar suami untuk mendaftar supaya dapat nomor antrian lebih awal. Nyatanya meskipun sudah datang lebih pagi saya mendapat nomor antrian ke delapan. Sore harinya, kami kembali untuk memeriksakan kehamilan saya ini dengan berat hati saya harus meninggalkan Mirza dengan Utinya.

Singkat cerita, tibalah nama saya dipanggil oleh asisten dokter untuk segera masuk ke dalam. Pertama kali dokter melihat kedatangan kami berdua ekspresinya sedikit kaget.

“Lho, ada apa ini? Kenapa lagi?..”.

“Jadi gini, Dok. Saya hamil lagi, kemarin pagi saya sudah tes dan hasilnya garis dua..”.

“Hamil lagi? Kamu kan baru empat bulan yang lalu SC harusnya jangan sampai hamil lagi..”.

“Saya nggak KB, Dok..”.

“Ya sudah, ayo naik ke bed biar dilihat dulu..”.

Kemudian USG pun dilakukan dan ternyata belum tampak kantong kehamilan di layar jadi dokter memutuskan untuk menunggu dua minggu lagi sampai muncul kantong. Tapi berita buruknya kalau kantong sudah tampak maka mau tidak mau harus dikuret. Waktu itu saya dan suami cuma bisa pasrah dan percaya dengan semua keputusan dokter.

Karena bagaimanapun dokter yang tahu betul kondisi tubuh saya terutama dinding rahim saya yang tipis. Jadi, sangat rawan sekali kalau dipaksakan meneruskan kehamilan kedua ini. Malah dokter sampai bilang kalau saya kekeuh mempertahankan kehamilan ini dokter sudah tidak mau lagi menangani saya. Akhirnya, kami berdua pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk, tidak tahu harus berbuat apa.

Pendarahan Datang Juga


Satu minggu berlalu saat sedang pipis tiba-tiba keluar darah yang cukup banyak, saya kaget sedangkan di rumah saya hanya berdua dengan Mirza. Karena bingung, akhirnya saya memutuskan untuk berbaring di kasur sambil mengirim pesan kepada suami kalau saya pendarahan. Beberapa jam kemudian suami datang, lalu saya meminta untuk diantar ke Obsgyn lagi nanti sore.

Baca Juga : Drama Lawas Antara Melahirkan Normal Vs Sesar

Sekitar pukul setengah tujuh malam kami ditemani kedua orang tua saya datang ke tempat praktek dokter. Malam itu saya mendapat nomor antrian terakhir, sambil menahan mules di perut saya mencoba untuk tetap kelihatan santai, hahaha. Tiba giliran masuk ke dalam, saya ditemani oleh mama. Melihat saya datang lagi, dokter langsung menyuruh saya untuk naik ke bed.

Langsung saja dilakukan pemeriksaan melalui USG, dan ternyata bakal janin saya sudah rusak jadi mau tidak mau harus dilakukan kuret. Lalu dokter memberikan surat pengantar agar besok pagi saya bisa dikuret di rumah sakit saja. Kenapa kuret di rumah sakit? Supaya gratis saja, karena pakai kartu kesehatan.

Malam itu saya benar-benar tidak bisa tidur, antara takut menghadapi kuret besok pagi dan kontraksi perut yang semakin menjadi. Beruntung, suami langsung mengambil alih memegang Mirza jadi saya bisa bebas guling-gulingan nahan sakitnya kontraksi, hehehe.

Sampai di Rumah Sakit Untuk Kuretase


Rabu paginya saya diantar bapak, mama dan suami pergi ke rumah sakit. Langsung saja saya masuk ke ruang tindakan karena sudah dapat surat pengantar dari Obsgyn untuk segera dilakukan tindakan kuret saat itu juga. Jujur ya, kalau menggunakan kartu dari pemerintah sistemnya memang sedikit ribet harus ditanya ini dan itu padahal perut sudah mules.

Beda sekali saat operasi sesar dulu di klinik swasta, proses administrasinya cepat dan langsung dilakukan tindakan. Tapi tidak apalah, saya dan suami jadi punya pengalaman baru. Sekitar pukul setengah sepuluh pagi setelah diperiksa dalam oleh dokter kemudian saya dimasukkan sebuah obat perangsang melalui bagian bawah, duh rasanya nyes juga.

Ditunggu sampai 6 jam ternyata pembukaan juga belum cukup, sampai akhirnya kembali dimasukkan obat perangsang dan Alhamdulillah sekitar pukul tujuh malam mulut rahim saya sudah lunak dan siap dilakukan kuret. Waktu itu entah kenapa saya merasa takut sekali, khawatir tidak ada habisnya padahal sebelumnya saya sudah pernah menjalani operasi yang lebih besar dan saya jauh lebih santai.

Seperti biasa, tangan kiri saya dipasang selang infus, jempol kanan dipasang alat rekam detak jantung dan di lengan kanan dipasang alat tensi darah yang otomatis akan bekerja beberapa menit sekali. Perawat meminta saya untuk bergeser ke bawah agar posisi kedua kaki bisa dibuka lebar dan disanggah, kemudian dokter Yosef pun datang, dokternya ganteng banget, hahaha.

Saya dipasang oksigen dan obat bius pun disuntikkan melalui selang infus saya. Masih teringat jelas waktu itu saya mendapat dua kali suntikan obat bius, suntikan yang pertama kaki saya mulai kebas dan menjalar ke badan juga tapi area bawah masih terasa, dalam hati saya bilang, “Duh, kok masih kerasa ya, gawat nih pasti sakit..”.

Pas suntikan bius yang kedua barulah saya bisa hilang tidak sadarkan diri, sambil menyuntikkan obat bius perawat meminta saya untuk memejamkan kedua mata supaya tidak pusing. Selama proses kuret saya sudah tidak sadar tapi anehnya saya masih bisa merasakan alat-alat dokter yang masuk ke lubang bawah itu, seperti krek, krek, krek gitu sih.

Baca Juga : Kegiatan Menyenangkan Menjelang Persalinan

Oh iya, setelah selesai dikuret kemudian dokter memasang IUD supaya saya tidak kebobolan lagi, hahaha. Setelah semua proses selesai, saya mulai sadar dan rasanya pengen langsung bangun saja, serius ternyata kuret itu tidak sakit sama sekali lho. Saya coba menggerakan yang dibawah itu dan kok tidak berasa sakit sama sekali ya?.

Awalnya saya pikir akan sesakit seperti yang orang-orang ceritakan, malahan ada yang pernah bilang kalau kuret itu jauh lebih sakit daripada melahirkan. Entahlah, setiap orang punya ambang batas rasa sakit yang berbeda-beda. Kalau saya sih Alhamdulillah tahan menahan sakit. Diluar ruangan suami sudah menunggu saya sejak pagi tadi sambil bergantian dengan bapak.

Proses kuret saya bisa dibilang berjalan lancar ya mungkin karena usaha dokter, perawat dan doa dari keluarga terutama suami yang tidak ada hentinya. Setelah dua jam saya dipindahkan ke ruang inap sambil didorong menggunakan kursi roda, ditemani perawat dan suami yang sudah mulai kelelahan pada saat itu sudah hampir pukul 11 malam lho.

Malam itu kami tidur satu bed berdua, karena kasihan kalau suami harus tidur dibawah. Saya sandarkan kepala saya ke dadanya seakan melepas semua rasa lelah seharian ini dan akhirnya saya pun tertidur pulas di dadanya, romantis kan ya?. Akhirnya kami bisa melewati masa-masa sulit berdua, bukan hal mudah untuk melewati keadaan kali ini, penuh drama dan intrik, hahaha.

Seminggu sebelum kuret tidak sengaja postingan facebook saya jadi ramai karena saya cerita kalau sedang hamil lagi dan harus dikuret. Seperti biasa, postingan yang awalnya hanya foto Mirza jadi ramai sekali penuh pro kontra. Sampai akhirnya saya bingung karena tidak mau mengambil keputusan yang salah saya pun menutup tread postingan tersebut.

Terima kasih banyak ya untuk teman-teman yang sudah memberikan masukan, saran dan berbagi pengalamannya. Mohon maaf sekali kalau waktu itu saya tidak bisa balas komentar teman-teman satu persatu. Jadi beginilah cerita selengkapnya, kami berdua memang tidak berjodoh dengan calon anak kami yang kedua.

Sedih iya, tapi saya senang karena saya bisa kembali menyusui Mirza dan fokus merawat Mirza seperti biasanya. Dari keadaan ini banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan salah satunya adalah saya semakin mensyukuri kebersamaan saya bersama Mirza meskipun semakin hari tingkahnya Mirza semakin aneh-aneh, hehehe. Terima kasih ya untuk support dan doanya, terima kasih juga sudah penasaran dan mau baca cerita saya ini.

Salam Sayang,
Ebok Mirza.

35 komentar:

  1. Fiuh, memang takdirnya harus melewati lika liku seperti ini ya mbaaa Ris. Tapi syukurlah all good. Kangen eh lama ga berjumpa ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Sil. Mau gimana lagi? ya sudah dijalani saja. Ayolah kita meet up gitu pas ada event mungkin. hehehe

      Hapus
    2. Iya nih mbaaa, sampai belum sempat nengok Mirzaa. Insya Allah kalau pas libur dan ada event kita meet up ya

      Hapus
  2. Berarti memang belum rezeki ya mbak, belum sampai dikuret ternyata udah pendarahan duluan. saya habis sc, gak kb iud maupun hormonal pilih yang aman aja hehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, belum rejekinya. Saya pakai KB alami malah kebobolan, hehehe.

      Hapus
  3. Semua ada jalannya ya riska. Semoga sehat selalu

    BalasHapus
  4. Syukur alhamdulillah udah sehat ya Ebok. Semoga IUD aman sentosa hingga promil lagi :D

    BalasHapus
  5. Lekas pulih ya ebooknya Mirza, dan kuret emang cepet tp nyeseknya itu bikin baper huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, tapi ngga boleh lama-lama nyeseknya kasihan Mirza. :D

      Hapus
  6. Yah.. lega-lega gemana gitu ya.. hehe.. aku dulu yang besar umur 7 bulan udah isi lagi..ketahuannya udah umur 4 bulan calon adeknya.. haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya mba lega banget sebenarnya. Jadi cerita kebobolan ini sudah wajar ya, semua bisa bobol. :D

      Hapus
  7. Saya pernah dua Kali kuret. Kuret pertama nggak terasa apa-apa Wong dibius total. Kuret yang kedua nyeri2 gimana wong bius belum jalan sudah dimulai prosesi kuretnya. Lumayan deh mules2 dikit wkwkwk.

    Saya nggak KB mbak, soalnya takut wkwk. Alhamdulillah belum pernah kebobolan, soalnya suami siaga banget kalau anak masih kecil nggak berani deh macem2.. apalagi tahu banget proses SC kek gimana.. hihi. Jadi sudah sadar diri kasih jarak minimal 2 tahun baru 'macem2' hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, suami siaga ya mba tapi tiap suami beda-beda tipe sih ya. Suamiku mana tahan, hehehe.

      Hapus
  8. Diobok-obok anunya sama dokter ganteng ya bu...😃. Cepat pulih kembali ya dan fokus dengan Mirza. Sekarang pake IUD udah bebas dong...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya dokternya ganteng bu. Semoga bisa terus aman si IUDnya. :D

      Hapus
  9. Ya Allah ngilu banget bacanya, semoga semua sehat selalu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, nggak sengilu pas ngejalaninnya kok mba, aamiinn. makasi mba eni :)

      Hapus
  10. Syukuri yg Ada Dan jadikan pelajaran. Dulu Saya kuret cakon anak ke 3 karena Saya Juga CS Dan YG je2 berumur 8 bulan. Minggu depannya Saya tugas 12 Hari ke Papua, Sulawesi Dan Kalimantan. Kuret pilihannya. Saya gak mau mengingatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya BunCha. Pelajaran yang berharga banget soalnya bikin hati nyes banget, Bun.

      Hapus
  11. Duh Dek, aku yang jarak anak pertama dan kedua hampir 4 tahun aja, sempat sedih banget waktu yang bungsu lahir. Merasa bersalah karena biasanya si sulung dapat full perhatian, ini harus dibagi sama adeknya. I feel you pokoknya, meski mungkin rasa sedihnya ngga sebesar Tante Riska yang masih menyusui juga.

    Tetap semangat ya, Allah pasti sudah mengatur semuanya dengan baik. Jadikan pelajaran. ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Super nyesek banget mba, itu kenapa kejadian kemarin benar-benar jadi pengalaman berharga buat aku dan suami. Makasi ya mba :)

      Hapus
  12. Alhamdulillah kuretnya berjalan lancar dan semoga nggak kebobolan lagi ya he3.
    Kalau kami dulu baru memutuskan untuk punya anak kedua setelah Mas Aiman berusia 4 tahun. Pertimbangannya nunggu Mas Aiman umur 4 tahun agar lukas bekas sc benar-benar sembuh dan Mas Aiman sudah siap memiliki adik. Itu aja rasanya masih kurang lama sebab Mas Aiman teryata punya sibling rivalry sama Baby Aira.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang nggak gampang ya mas menjelaskan sama anak kalau bakal ada saudara dia yang pastinya bikin dia berbagi kasih sayang dan perhatian orang tuanya.

      Hapus
  13. Tak bisa dibayangkan bagaimana berada diposisi Mbak Riskaa,
    Peluk hangat dari Jauh, Mbak Riskaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peluk balik, makasi ya mba supportnya. :)

      Hapus
  14. Duh aku bacanya ngiluuu mbaa. Tapi ternyata kuret itu tidak sakit ya?

    Aku juga pakai sistem kalender sih. Cuma bedanya sama aku, alu malahan tak kunjung berbuah hahaa..

    Insyallah akan diberikan rezeki kembali si buah hati di waktu yang tepat ya. Cepet pulih ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, nggak sakit kok mba. Makasi ya mba doanya. :)

      Hapus
  15. Tiba tiba aq ngilu bacanya..inget banget pas di meja operasi sc...
    Semangat ya ebok..mudah mudahan lekas pulih dan mizan pun sehat selalu...
    Btw aq juga pakai iud..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak sengilu yang aku rasakan kok mba, hahaha. Makasi ya mba :*

      Hapus
  16. Semoga lekas pulih, Mbak. Awalnya aku KB hormonal, nggak cocok. Pasang IUD takut. Jadi yang KB suami, Mbak.

    BalasHapus
  17. Ammiinn, makasi mba. Pakai KB apa aja asal nyaman buat berdua. ;)

    BalasHapus
  18. Alhamdulillah.. tetap semangat ya ebooknya Mirza. Allah pasti tau yang terbaik untuk umatNya, bisa jadi Mirza memang masih membutuhkan kasih sayang yang lebih dari ebook bapaknya. Aku pun sekarang pake IUD, karena horor juga sih ya udah SC 2x hahahha.

    BalasHapus
  19. aku kemarin pakai kb 3 bulan tapi sampai anakku umur setahun aja. ini masih deg-degan nunggu bakal haid lagi atau jangan-jangan malah hamil lagi. heu

    BalasHapus

Jangan lupa berkomentar ya, tinggalkan alamat blognya biar bisa balik berkunjung.

Terima Kasih.