Intuisi Istri

Tulisan ini saya tulis sambil sesekali menyeka air mata, mengelus dada, mencoba untuk memahami sebuah guyonan tapi entah kenapa terus saja gagal untuk bisa saya pahami. Yang saya tahu guyonan atau candaan itu ada untuk menghibur bukan untuk membuat sakit hati orang lain. Atau mungkin saja saya yang terlalu berlebihan tapi rasanya tidak kalau guyonan itu menyenggol soal kesetiaan.

Maafkan saya kalau tulisan ini penuh emosi tapi saya mencoba untuk terus kontrol hati saya. “Istri masih satu, mau tambah lagi?..” atau “Ini ada perempuan buat penyegar mata supaya nggak ngantuk,,”. Ini bukan kali pertama saya mendapati guyonan seperti itu awalnya saya biasa saja, saya pikir itu hanya sekadar candaan antar teman. Tapi ternyata lama-lama hati saya mulai berontak, saya tidak bisa terima dengan model candaan seperti itu.


Kenapa harus bercanda seperti itu? Apa memang tidak ada bahan candaan yang lainnya?. Kenapa harus bawa-bawa soal kesetiaan? Kesetiaan itu tidak sepatutnya dijadikan bahan candaan seperti ini. Seolah-olah ingin menyiratkan bahwa kalau kamu bosan bisa tambah istri lagi atau menjadikan perempuan lain sebagai objek pemuas mata.

Mas, Mbak, Bapak, Ibu menjadi seorang istri itu tidak mudah. Kami dituntut untuk patuh pada semua perintah suami, kami mengorbankan nyawa untuk melahirkan anak suami, kami rela berletih-letih untuk merawat suami, anak dan rumah. Kami berikan segenap rasa cinta, penghormatan dan kesetiaan pada suami kami.

Baca Juga : Satu Melengkapi Namun Dua Melenyapkan

Mengalahkan ego untuk sepenuhnya taat dan patuh pada suami itu bukan hal mudah. Kadang kami terpaksa mengorbankan hati dan keinginan hanya demi membahagiakan suami. Tuhan meminta kami untuk patuh pada suami karena ridho suami adalah ridho Tuhan. Kenapa harus selalu istri yang dikorbankan? Padahal kami sudah mengorbankan segalanya untuk suami dan anak kami.

Kenapa candaan seperti itu harus keluar dari lisan yang bisa bahagia karena doa ibunya yang bisa bahagia karena kepatuhan istrinya?. Ini bukan sebuah ancaman, tapi ini isi hati saya yang coba saya pendam tapi nyatanya saya sudah tidak mampu lagi memendamnya. Setidak berharga kah kami sebagai istri sehingga perasaan kami tidak dihiraukan lagi?.

Baca Juga : Jangan Bohongi Suami!

Kami bukan objek atau barang yang pantas dijadikan bahan guyonan. Kami tempatkan suami pada posisi kedua setelah Tuhan, hati kami tidak pernah tenang saat suami tidak ridho. Kenapa harus seperti ini balasan untuk semua pengorbanan kami?. Kenapa kami dibilang terlalu sensitif saat kami marah mendengar guyonan seperti ini?.

Ingin rasanya saya berkata kasar, tapi nyatanya makian kasar tidak sebanding untuk sedikit meredakan hati yang terlanjur sakit. Kami bukan bahan guyonan, kami adalah orang yang dipercaya Tuhan untuk mengorbankan hati, diri dan perasaan kami untuk suami. Tapi sudahlah biar kami mengadu pada Tuhan kalau untuk hal ini kami tidak bisa terima, kami tidak lagi bisa berkorban.

14 komentar:

  1. Saya suka sebal sama guyonan seperti itu, bener apa ga ada guyonan lain gitu, hiks. Keep strong mbak, yang penting rumah tangga bahagia.

    BalasHapus
  2. Begitulah. Seringkali orang kalo bercanda ga mikir perasaan orang lain. Sabar yaa ca. I feel you.

    BalasHapus
  3. MasyaAllah, kalau menurut saya guyonan jangan yang sampai menyinggung gitu ya. Sya juga pasti perasaan kalau ada yang berkata seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, tapi banyak yang nggak sadar kalau guyonannya salah.

      Hapus
  4. Memang candaan semacam itu sangat sensitif bagi istri. Saya pun jengkel bila ada teman suami yang bercandanya macam gitu... langsung eneg dibuatnya

    BalasHapus
  5. I feel you cha... Tentang candaan memang tak seharusnya seperti itu.. sama halnya ketika ada orang yang dengan mudahnya mengulas masa lalu kita sementara saat ini kita sudah bahagia dgn pasangan kita...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Kesel banget tapi ya gimana ya namanya juga bersosialisasi banyak karakter yang dihadapi.

      Hapus
  6. iyes mba aku juga baper n marah klo ada teman2 suami kurang ajar begitu kok orang ga mikir gitu perasaan istri yang suaminya digituin

    BalasHapus
  7. Bukan guyonan, Mbak... Ini mah keterlaluan.. Akupun juga bakalan marah kalo mendapati guyonan seperti ini...

    BalasHapus

Jangan lupa berkomentar ya, tinggalkan alamat blognya biar bisa balik berkunjung.

Terima Kasih.