Saya masih ingat betul malam itu, tiba-tiba suami datang mendekati saya untuk minta pijat katanya badannya ngilu-ngilu semua. Bukan mau menolak cuma saja saya agak heran, kok tumben ya dia minta pijat padahal selama ini suami saya tidak terbiasa dipijat. Masih merasa heran, sayapun meng-iyakan permintaannya, waktu itu suami meminta saya untuk memijat di area pinggang atasnya.
"Kok tumben minta pijet, Mas?.."
"Nggak tahu, tiba-tiba badanku sakit semua gini.."
"Oh, mungkin Mas lagi flu berat nih biasanya memang suka ngilu gitu sebadan..".
Saat memijat badannya saya tidak merasakan sesuatu yang aneh, tubuhnya juga tidak panas. Cuma suami sempat bilang kalau hidungnya mampet alias tersumbat, waktu itu dia juga tidak pernah bersin-bersin layaknya orang flu pada biasanya. Saya tidak menaruh curiga akan kondisinya, saya berpikir kalau dia kelelahan dan kurang tidur karena sering begadang bekerja.
Selain hidung tersumbat dia mengeluh kalau kepalanya agak sakit terlebih saat dibawa sujud saat sholat. Pikiran saya waktu itu semakin yakin kalau suami sedang terkena flu berat apabila dilihat dari semua gejalanya. Tiga hari berlalu tapi kondisinya belum juga membaik, padahal sudah konsumsi obat flu dan rutin saya buatkan teh hangat diberi perasan jeruk lemon.
Sampai menjelang akhir pekan tepatnya sabtu pagi, suami menyuruh saya untuk pergi ke rumah mertua untuk meminta ramuan sirih karena tenggorokannya mulai tidak enak ditambah batuknya yang belum reda juga. Kebiasaan kami sekeluarga kalau sedang batuk dan tenggorokan sakit kami minum ramuan sirih yang dibuat oleh bapak mertua.
Merawat Suami yang Kehilangan Penciuman dan Perasa, Ada Apa?
Keesokan harinya suami bilang kalau dia sudah tidak bisa mencium bau di hidung dan merasakan apapun di lidahnya. Saat itu juga suami memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah kami, mengingat di rumah yang ditempati sekarang ada kedua orangtua saya yang sudah tua dan komorbid (memiliki penyakit bawaan).
Kondisi suami saat pertama kali menjalani isolasi mandiri terbilang cukup sehat, badannya masih aktif bergerak bahkan untuk dibuat bersih-bersih rumah, cuma tersisa batuk disertai hilang bau dan rasa saja. Namun ternyata siang itu juga tiba-tiba Mirza demam, langsung saja saya kabari suami melalui pesan WhatsApp.
Baca Juga : Pengalaman Merawat Anak Demam Saat Suami Isolasi Mandiri
Saat itu juga suami meminta kami untuk sama-sama menjalani isolasi mandiri. Setelah berkemas semua kebutuhan selama di rumah sana, saya dan Mirza berangkat diantar bapak. Jujur saja, waktu itu saya bingung sekali harus melakukan apa saat melihat suami dan anak yang sama-sama sakit.
Suami memutuskan untuk isolasi di kamar tengah sedangkan saya dan Mirza tidur berdua di ruang keluarga di depan televisi sambil menggelar kasur. Entah kenapa waktu itu saya merasakan kalau kondisi tubuh saya sedang sangat fit, tidak flu, tidak batuk, tidak demam apalagi lemas. Mungkin itu kemudahan yang diberikan oleh Allah supaya saya bisa kuat merawat suami dan anak.
Saya tidak mau tinggal berjauhan dengan suami apalagi dengan kondisinya seperti itu. Saya khawatir suami kenapa-kenapa kalau harus isolasi mandiri seorang diri di rumah tanpa ada yang menemani. Antara takut dan pasrah bahkan saya rela kalau harus ikut sakit, saya sudah tidak memikirkan kondisi saya akan bagaimana nantinya cuma berbekal pasrah dan ikhtiar.
Sampai akhirnya banyak bantuan datang dikirim ke rumah kami mulai dari makanan, sembako, vitamin hingga obat-obatan. Sambil merawat Mirza yang sedang demam saya juga rajin menanyakan kondisi suami dari luar kamar. Setiap pagi suami keluar untuk berjemur dan berolahraga sampai keluar keringat bahkan dia selalu menyempatkan diri untuk menyapu daun-daun di halaman depan.
Saat keluar dari kamar, suami selalu menggunakan masker dan menjaga jarak dengan kami berdua. Kebetulan rumah kami letaknya paling dalam jadi bisa dibilang kami tidak memiliki tetangga sehingga suami bisa bebas keluar untuk sekadar berjemur dan olahraga. Selama menjalani isolasi mandiri banyak artikel kesehatan yang kami baca, dari mulai bagaimana cara isolasi mandiri di rumah sampai semua hal tentang Covid-19 ini.
Kondisi suami saat pertama kali menjalani isolasi mandiri terbilang cukup sehat, badannya masih aktif bergerak bahkan untuk dibuat bersih-bersih rumah, cuma tersisa batuk disertai hilang bau dan rasa saja. Namun ternyata siang itu juga tiba-tiba Mirza demam, langsung saja saya kabari suami melalui pesan WhatsApp.
Baca Juga : Pengalaman Merawat Anak Demam Saat Suami Isolasi Mandiri
Saat itu juga suami meminta kami untuk sama-sama menjalani isolasi mandiri. Setelah berkemas semua kebutuhan selama di rumah sana, saya dan Mirza berangkat diantar bapak. Jujur saja, waktu itu saya bingung sekali harus melakukan apa saat melihat suami dan anak yang sama-sama sakit.
Suami memutuskan untuk isolasi di kamar tengah sedangkan saya dan Mirza tidur berdua di ruang keluarga di depan televisi sambil menggelar kasur. Entah kenapa waktu itu saya merasakan kalau kondisi tubuh saya sedang sangat fit, tidak flu, tidak batuk, tidak demam apalagi lemas. Mungkin itu kemudahan yang diberikan oleh Allah supaya saya bisa kuat merawat suami dan anak.
Saya tidak mau tinggal berjauhan dengan suami apalagi dengan kondisinya seperti itu. Saya khawatir suami kenapa-kenapa kalau harus isolasi mandiri seorang diri di rumah tanpa ada yang menemani. Antara takut dan pasrah bahkan saya rela kalau harus ikut sakit, saya sudah tidak memikirkan kondisi saya akan bagaimana nantinya cuma berbekal pasrah dan ikhtiar.
Sampai akhirnya banyak bantuan datang dikirim ke rumah kami mulai dari makanan, sembako, vitamin hingga obat-obatan. Sambil merawat Mirza yang sedang demam saya juga rajin menanyakan kondisi suami dari luar kamar. Setiap pagi suami keluar untuk berjemur dan berolahraga sampai keluar keringat bahkan dia selalu menyempatkan diri untuk menyapu daun-daun di halaman depan.
Saat keluar dari kamar, suami selalu menggunakan masker dan menjaga jarak dengan kami berdua. Kebetulan rumah kami letaknya paling dalam jadi bisa dibilang kami tidak memiliki tetangga sehingga suami bisa bebas keluar untuk sekadar berjemur dan olahraga. Selama menjalani isolasi mandiri banyak artikel kesehatan yang kami baca, dari mulai bagaimana cara isolasi mandiri di rumah sampai semua hal tentang Covid-19 ini.
Dua hari berlalu, kondisi Mirza mulai membaik dan kembali aktif bermain seperti biasa. Selain diberi obat penurun panas seperti Ibuprofen, saya juga memberi Mirza perasan air kunyit. Siang hari saya kasih air kunyit dan malam hari demamnya mulai turun, tidur malamnya juga lebih nyenyak daripada kemarin.
Penciuman dan perasa di lidah suami sedikit mulai kembali normal. Semangat dan rasa optimis suami untuk bisa sembuh sangat besar, meskipun lidahnya tidak ada rasa tapi dia paksakan untuk banyak makan dan minum. Suami pernah bilang ke saya, kalau dia ikhlas meninggal tapi sebelum itu dia harus melawan kondisinya tersebut.
Obat dan Vitamin yang Dikonsumsi Suami Selama Masa Isolasi Mandiri
Setiap pagi setelah sarapan, suami minum satu sendok madu dilanjut berjemur dan berolahraga sampai berkeringat. Siang hari setelah makan siang dilanjut minum susu Bearbrand satu kaleng dan saat malam hari setelah makan waktunya untuk minum obat dan vitamin yang diberikan oleh dokter. Ada tiga jenis vitamin dan satu obat untuk paru-paru.
Ukurannya cukup besar dan diminum bersamaan sebelum tidur. Bahkan salah satu teman suami mengirimkan kami obat China katanya itu obat herbal Covid-19, tapi suami mempertimbangkan untuk meminum obat dan vitamin dari dokter terlebih dulu. Selain konsumsi vitamin dan obat, untuk memancing indera perasanya kembali suami juga melakukan terapi dengan memakan satu siung bawang putih setiap pagi.
Anehnya, dia masih merasakan rasa pedas yang sangat kuat saat mengunyah bawang putih, artinya indera perasa suami tidak hilang total. Terbukti saat saya memasakkan dia ayam bumbu pedas, suami masih bisa merasakan rasa pedasnya. Saya senang sekali mengetahui hal tersebut, meskipun dalam hati saya saat itu terus bertanya, kapan penciuman dan perasanya bisa kembali normal?
Anxiety saya kembali kambuh tapi saya tidak mau rasa kecemasan berlebihan ini membuat imun saya menurun dan ikutan sakit. Ya, sebisa mungkin saya tidak boleh ikut jatuh sakit. Alhamdulillah, masuk hari kelima isolasi mandiri kondisi suami sudah normal, bau dan rasanya kembali seperti biasa. Kami bertiga sudah sehat dan aktif, tapi kami memutuskan untuk melanjutkan isolasi mandiri selama 14 hari.
Sampai di sini teman-teman pasti akan bertanya-tanya, apakah sudah menjalani test Swab PCR? Tidak, suami saya memang tidak melakukan test, sebab pertimbangan kami waktu itu kondisinya yang masih sehat dengan gejala ringan. Namun, kami sudah berencana akan segera pergi ke rumah sakit jika kondisi suami semakin memburuk. Selama isolasi mandiri kami dalam pengawasan salah satu keluarga yang bekerja sebagai tenaga kesehatan.
Nah, sesuai anjuran dari pemerintah melalui Kementerian Kesehatan yang kami baca kalau batas isolasi mandiri penderita dengan gejala ringan sampai masa 10 hari ditambah 3 hari bebas deman dan gejala pernapasan, setelah itu diperbolehkan keluar untuk kembali beraktivitas seperti sedia kala. Supaya lebih jelas, teman-teman bisa membaca langsung di sini.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Hilang Penciuman dan Perasa?
Bagi kami semua ujian yang datang merupakan kehendak Allah, takdir jangan dilawan tapi harus diterima dengan ikhlas. Semakin melawan takdir Allah maka semakin tidak berkuasa, namun semakin mencoba ikhlas menerima ternyata takdir Allah bisa kami lewati dengan baik. Prinsip itu yang membuat saya dan suami bisa tetap kuat menjalani ini semua.
Tidak mudah berada di posisi saat itu, ruang gerak sangat terbatas, kami hanya bergantung pada bantuan keluarga bahkan untuk ambil uang di ATM saja sudah tidak bisa. Kebetulan keluarga saya hampir tidak ada yang memegang rekening untuk saya transfer jadi untuk sementara terpaksa mereka semua yang menanggung biaya hidup kami sehari-hari.
Tidak mudah berada di posisi saat itu, ruang gerak sangat terbatas, kami hanya bergantung pada bantuan keluarga bahkan untuk ambil uang di ATM saja sudah tidak bisa. Kebetulan keluarga saya hampir tidak ada yang memegang rekening untuk saya transfer jadi untuk sementara terpaksa mereka semua yang menanggung biaya hidup kami sehari-hari.
Sedangkan sebagian sembako, obat-obatan dan vitamin diberikan oleh keluarga suami. Beruntung sekali kami bisa menyadari gejala ini sedari awal, dan tidak banyak pikiran untuk memutuskan melakukan isolasi mandiri. Dengan keterbatasan pengetahuan tentang kondisi ini, kami berusaha untuk bisa pulih kembali.
Jadi, pesan saya untuk teman-teman jika mengalami kondisi yang sama dengan suami saya yang sempat terkena flu, batuk hingga kehilangan penciuman dan perasa tidak perlu khawatir. Langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah menenangkan diri dan segera lakukan isolasi mandiri jika dirasa hanya gejala ringan saja.
Ada banyak petunjuk di internet mengenai bagaimana cara melakukan isolasi mandiri di rumah dan kalau diperlukan segera hubungi dokter. Jangan nekad tetap berkeliaran keluar rumah dan melakukan kontak dengan orang lain. Harus tetap semangat dan optimis, banyak makan makanan bergizi, minum air hangat, konsumsi madu dan susu.
Jangan malas untuk bergerak, berjemur dan berolahraga. Kalau sistem imun kita kuat maka kita bisa kembali sehat. Tetap tenang sehingga kita bisa berpikir solusinya, kami mengalaminya sendiri dengan pikiran dan hati yang tenang tubuh bisa menjadi lebih sehat. Banyak sholat dan berdoa karena dengan cara inilah kami bisa berhubungan langsung dengan Allah.
Sekarang, sudah hampir satu bulan pasca kondisi tersebut, kami sudah bisa kembali berkumpul bersama di rumah orangtua saya seperti biasanya. Suami sudah kembali bekerja, Mirza anak kami sudah kembali aktif bermain dan saya sudah mulai kembali menulis.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.