Memilih Sistem Keuangan Satu Keranjang

Memutuskan untuk menikah itu artinya memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu bersama. Hidup bersama, melakukan beberapa aktivitas bersama, berkumpul bersama dan menggunakan uang bersama. Itu bagi keluarga kami, mungkin berbeda dengan keluarga lainnya tapi dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang keuangan keluarga kami yang menganut sistem satu keranjang.

Menjadi seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari hanya berkutat di dalam rumah saja merupakan hal baru bagi saya setelah beberapa bulan sebelumnya resign dari kantor. Ya, dulu saya adalah seorang wanita karir tepatnya seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta selama kurang lebih lima tahun lamanya.

Baca Juga : Kenapa Harus Menjadi Seorang PNS?

Beberapa bulan sebelum memutuskan untuk menikah Mas meminta saya untuk berhenti dari pekerjaan dan fokus untuk menjadi freelance. Bukan hal mudah bagi saya untuk bisa menuruti kemauannya, banyak hal yang menjadi pikiran saya jika harus berhenti bekerja salah satunya adalah kalau nanti berhenti kerja saya tidak akan mempunyai penghasilan sendiri. Sudah siap kah?.


Sistem Keuangan Satu Keranjang


Singkat cerita setelah kami menikah maka dimulai lah babak awal dalam kehidupan kami yang baru. Kalau yang dulu mau beli-beli apa saja sendiri tidak memikirkan pasangan sekarang mau tidak mau tidak sebebas dulu. Menyesal? Tidak. Karena kebetulan dari awal kami pacaran Mas terbiasa mempercayakan semua keuangannya kepada saya.

Hal nekat bukan? Belum tentu berjodoh tapi sudah berani kelola uang “Orang”. Dari sanalah kami sudah tidak kaget lagi kalau sistem keuangan dijadikan satu. Butuh kepercayaan dan keterbukaan yang besar dalam hal ini. Memegang kepercayaan suami dalam mengelola semua penghasilannya untuk dibelanjakan sesuai kebutuhan itu merupakan hal yang tidak mudah.

Semua pembayaran listrik, air, WiFi, angsuran BPJS sengaja saya bayar melalui aplikasi online supaya Mas juga bisa cek setiap bulan, walaupun saya tahu betul dia tidak akan lakukan hal itu. Suami saya tipe orang yang santai dan tidak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil. Lagi-lagi dibutuhkan rasa saling percaya yang kuat, “Aku percaya kok, pakai aja sesuai kebutuhan..” itu yang selalu dia katakan.

Selanjutnya adalah komunikasi yang baik antara saya dan suami, kalau ada apa-apa itu ya bilang dulu dirembuk bersama. Mungkin bagi sebagian orang merasa tidak perlu meminta izin suami saat ingin membeli sesuatu tapi bagi saya hal tersebut perlu meskipun nominal barang yang akan saya beli tidak lah besar.

Misal saja, “Mas, tadi aku beli lipstik baru..”. Atau saat saya ingin membeli sebuah barang yang harganya cukup mahal saya selalu minta pendapat suami. Dengan komunikasi yang baik maka tercipta keterbukaan antar pasangan. Saya akui persoalan keuangan memang merupakan hal yang sangat sensitif.

Bahkan dalam sebuh hadist pernah menyebutkan kalau ingin mengetahui karakter seseorang yang sesungguhnya maka lihat dari dia saat berurusan dengan uang. Kami belajar dari pengalaman rumah tangga lainnya dimana persoalan uang ini kerap kali menjadi sebab terjadinya sebuah perceraian. Karena itulah suami saya memutuskan untuk memakai sistem satu keranjang untuk mengatur keuangan keluarga.

Baca Juga : Lima Manfaat Menjalankan Bisnis Bersama Pasangan

Suami pasti sudah tahu betul karakter, sifat serta kebiasaan istrinya sehingga mempercayakan betul semua penghasilannya pada saya. Lagi pula suami bukan tipe laki-laki yang harus selalu pegang uang, biasanya dia meminta uang jatah untuk bulutangkis, beli bensin motor, selebihnya saya yang mengatur. Termasuk ketika dia ingin membeli raket bulutangkis baru, atau kebutuhan lainnya.

Dalam keluarga kami memang tidak ada privasi, tapi bukan berarti juga saya bisa dengan mudah membuka pesan di handphone suami. Semua menjadi satu, sudah bukan dua lagi dan kami nyaman dengan keadaan seperti sekarang ini. Mungkin terdengar terlalu mendramatisir ya? Over protektif? tidak sama sekali, suami memberi kebebasan pada saya untuk melakukan apa saja asal itu hal yang positif.

Bahkan semua akun media sosial dan email milik saya juga dikelola oleh suami, begitu pula sebaliknya saya bisa bebas menggunakan akun media sosialnya terutama saat ada tawaran untuk menjadi buzzer, hehehe. Bagi kami hal yang paling menyakitkan itu adalah ketika dibohongi oleh sebab itu sedari awal menikah berusaha tidak ada lagi satu hal yang ditutupi terutama soal keuangan.

Jadi, pemasukan dijadikan satu dan pengeluaran ditanggung bersama. Hal seperti ini membuat kami semakin merasakan nikmatnya sebuah perjuangan bersama dari bawah. Kalau keuangan sedang menipis saya selalu komunikasikan dengan suami, “Ya sudah, sabar dulu. Nanti dicari lagi bareng-bareng..”.

Baca Juga : Pentingnya Memaafkan dan Meminta Maaf Dalam Rumah Tangga

Terlebih sekarang ini kami hidup berlima bersama kedua orang tua saya, saya bersyukur sekali memiliki suami yang pengertian. Untuk urusan memberi uang pada mertua dan orang tua kembali kami bicarakan berdua. Tidak ada yang ditutup-tutupi, semua berjalan santai tidak berlebihan apalagi memaksakan keadaan.

Begitupula dengan hutang, sangat transparan agar kami berdua bisa fokus mencari uang untuk bisa melunasinya. Prinsip kami, uang bisa dicari tapi kebahagiaan dan ketenangan adalah yang utama. Kehidupan pernikahan kami masih sangat awal, orang bilang pernikahan itu kalau belum mengijak usia lima tahun masih sangat rapuh.

Itu kenapa saya dan suami tidak ingin semakin dibebankan dengan persoalan keuangan. Kalau teman-teman sendiri bagaimana? Apakah menganut sistem satu keranjang kah dalam pengaturan keuangan keluarga atau bagaimana?. Apapun sistem yang dipilih setiap keluarga punya cara dan aturannya sendiri bukan? Yang penting tetap bahagia dan akur selalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa berkomentar ya, tinggalkan alamat blognya biar bisa balik berkunjung.

Terima Kasih.