Bedak Saripohatji Ramuan Tradisional Hampir Satu Abad

Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terdapat sebuah blok tepatnya di Kecamatan Ciamis yang dikenal dengan sebutan daerah Saripohaci atau dalam ejaan lama ditulis Saripohatji. Ternyata, sebutan itu menunjuk pada sebuah pabrik pengolahan bedak dingin yang sudah melegenda dan hingga kini masih berproduksi.

Ya, bedak itu adalah bedak dingin Saripohatji. Bedak hasil ramuan Ny. Siti Marijah (alm) ini sudah ada sejak tahun 1927. Melalui tangan dinginnya, pada zaman Belanda bedak Saripohatji ini tidak hanya digemari oleh perempuan kaum pribumi, tetapi nona-nona Belanda pun ikut mengunakannya. Bahkan, bedak ini mengalami kejayaannya hingga medio tahun 1970an.


Bedak Saripohatji Ramuan Tradisional Hampir Satu Abad


Pada awal keberadaannya, pemasaran bedak dingin Saripohatji dipasarkan dari mulut ke mulut. Setelah produk kosmetik kecantikan ini dirasakan cocok oleh kebanyakan kaum hawa pada waktu itu, membuat bedak ini makin populer. Dari situlah awal produk ini diproduksi dalam jumlah besar.

Pemasarannya pun berkembang luas ke berbagai daerah. Tidak lagi hanya beredar di wilayah Ciamis. Setelah 91 tahun berdiri, kini perusahaan bedak Saripohatji sudah dikelola oleh generasi ketiga. Agus Wahyu, pengelola generasi ketiga bedak Saripohatji ini.

Meski saat ini sudah banyak produk bedak kosmetik berbahan kimia dan dikemas secara modern, namun tetap mempertahankan ramuan bedak Saripohatji yang 100 persen berbahan alami. Begitu juga dari kemasannya, tidak berubah dan masih mempertahankan ciri khas aslinya.

Meski masih mempertahankan ramuan tradisional, tetapi eksistensi dan keampuhan bedak Saripohatji hingga kini masih banyak dipercaya konsumen. Bahkan, banyak konsumen yang meminta untuk tetap mempertahankan ciri khas dan ramuan alami yang selama ini menjadi andalan bedak ini.

Menurut cerita, Bedak dingin Saripohatji memiliki kekuatan serta kualitas tersendiri. Bahan dasar semuanya berasal dari tumbuh-tumbuhan. Proses produksinya pun masih terbilang tradisional. Namun begitu, dia menjamin produk bedak ini tidak akan memicu iritasi pada kulit.

Bedak Saripohatji terbuat dari bahan tepung beras, ramuan dedaunan seperti daun suji, beungbeureuman, pandan, jambu, mamangkokan dan teklan. Tak hanya itu, ramuan bedak itupun ditambah lagi dengan ekstrak temulawak, kunyit, tomat, jeruk nipis. Menurut keterangan Agus ramuan bedak ini tanpa ada satupun bahan kimia. Semua bahan mengambil dari tumbuh-tumbuhan.

Bedak Saripohatji dipercaya merupakan produk perawatan kecantikan satu-satunya yang memiliki bentuk pilis atau pintilan. Melihat dari proses pemintilan dilakukan secara manual oleh tangan-tangan terampil. Ada delapan orang karyawan yang sudah puluhan tahun setia bekerja.

Tahukah teman-teman kalau dalam sepekan, sekitar dua ratus dus bedak, terdiri dari lima puluh kemasan persatu dus, laris di pasaran. Konsumen produk bedak ini didominasi dari wilayah Bandung dan kota-kota di sekitar wilayah Priangan Timur Jawa Barat. Harga bedak ini ternyata murah, satu sachetnya hanya dibandrol dengan harga Rp 5 ribu sampai Rp. 10 ribu.

Walaupun banyak produk bedak dengan kemasan modern beredar, namun kami tetap mempertahankan orisinalitas, kualitas dan kekhasannya. Kami belum memiliki rencana mengganti kemasan, bentuk maupun proses produksi. Bedak Sarippohatjiakan konsisten dengan cara-cara tradisional.

Oleh sebab itu mungkin ini yang membedakan bedak Saripohatji dengan bedak yang lainnya. Sementara itu, dalam penggunaan bedak Saripohatji, disarankan memberi campuran madu atau air tawar. Hal itu agar khasiat dari ramuan bedak ini lebih optimal saat digunakan oleh pemakainya.

Sejarah Bedak Saripohatji


Apabila membedah sejarah berdirinya bedak Saripohatji, ternyata awalnya bukan untuk diperjualbelikan. Bedak yang diramu oleh (Alm) Ny. Siti Marijah ini hanya untuk keperluan pribadinya. Saat itu, sekitar tahun 1920an atau masa kolonial Belanda, tidak semua perempuan pribumi bisa membeli alat kosmetik kecantikan. Karenanya, perempuan asli Ciamis ini meramu bedak dengan menggunakan bahan-bahan alami.

Setelah Ny. Siti sering memakai bedak hasil ramuannya dan selalu tampil cantik, membuat tetangga bertanya-tanya. Ketika tahu bedak itu hasil ramuan Ny. Siti, tetangganya kemudian tertarik dan meminta diramukan bedak serupa. Ternyata mereka cocok dengan ramuan bedak buatan Ny. Siti. Sebab, bedak itu berhasil membuat kulit halus, putih dan mampu mengatasi jerawat.

Setelah bedak ramuan Ny. Siti banyak dipesan kaum perempuan kala itu, permintaan pun terus mengalami peningkatan. Ny. Siti rupanya paham bahwa bedak hasil ramuannya yang banyak diminati banyak perempuan merupakan peluang bisnis. Kemudian dia memutuskan untuk menjadikan peluang itu sebagai usaha industri rumahan yang memproduksi bedak dengan jumlah banyak.

Nama Saripohatji diambil dari nama Dewi Beras Saripohatji. Karena beras itu menjadi bahan utama pembuatan bedak tersebut. Awalnya, bedak Saripohatji dikemas dengan menggunakan dedaunan kering serta dijual di warung-warung kecil. Proses distribusi barang pada masa itupun masih menggunakan sepeda onthel dengan hanya memasarkan di sekitar wilayah Ciamis.

Seiring waktu, bedak Saripohatji semakin terkenal dan usahanya pun kian berkembang pesat. Pada tahun 1960 sampai 1980, Satipohatji menjadi merk bedak terkenal di Nusanatara, khususnya di Jawa Barat. Pendistribusiannya pun semakin luas hingga masuk ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Namun, pada tahun 1959, Ny. Siti Marijah, sang peramu bedak, meninggal dunia. Usahanya kemudian dilanjutkan oleh suaminya, S. Harjo hingga tahun 1971. Setelah S. Harjo meninggal, perusahaan kemudian dikelola oleh istri kedua Harjo, Neneng Fatimah hingga tahun 1985. Sepeninggal Neneng Fatimah, usaha ini kembali berpindah tangan ke istri ketiga Harjo, Ny. Ocoh Setiawati dan anak-anaknya.

Pabrik bedak Saripohatji terletak di pojok Jalan Ir. H. Djuanda Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis. Bangunan tua dengan arsitektur Belanda itu hingga kini masih berdiri tegak. Sebagian orang tidak akan mengira bangunan tua itu adalah sebuah pabrik yang memproduksi sebuah bedak legendaris yang terkenal di Indonesia.

Sebab, di depan area pabrik, tidak tampak plang yang menujukan bahwa bangunan itu sebuah pabrik. Karena hingga saat ini produk bedak Saripohatji masih diproduksi dengan sistem industri rumahan. Well, begitulah cerita tentang bedak dingin Saripohatji yang sudah ada sejak 100 tahun lalu. Semoga tulisan ini bermanfaat ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa berkomentar ya, tinggalkan alamat blognya biar bisa balik berkunjung.

Terima Kasih.